Target Yang Tinggi
15 May 2020

Play Audio Version

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal tersebut bisa membuahkan pengertian bahwa target yang Allah kehendaki untuk dicapai orang percaya adalah rendah, padahal yang dikehendaki Allah untuk dicapai adalah hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah target yang sangat tinggi. Hidup sebagai anak-anak Allah bukan hanya mengakui dan menghayati bahwa diri kita adalah anak-anak Allah, melainkan benar-benar berperilaku atau berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Paulus menyinggung mengenai manusia rohani dalam tulisannya kepada jemaat Korintus, bahwa manusia rohani adalah manusia yang memiliki pikiran Tuhan (1Kor. 2:15). Memiliki pikiran Tuhan maksudnya adalah memahami kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:2). Inilah manusia rohani. Kebalikan dari manusia rohani adalah manusia duniawi (1Kor. 3:1-4). Manusia duniawi tidak akan mendapat bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan.

Kehidupan anak-anak Allah adalah kehidupan manusia yang hidup dipimpin oleh Roh, sama dengan menjadi orang Kristen yang benar-benar rohani. Untuk bisa berubah dari orang Kristen duniawi atau hidup dalam daging kepada kehidupan orang Kristen rohani yang dipimpin oleh Roh, membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Roh Kudus bekerja aktif, tetapi umat pilihan juga harus aktif untuk mengimbangi pekerjaan Roh Kudus. Oleh sebab itu, seseorang yang sungguh-sungguh mau diubahkan harus berani mempertaruhkan seluruh kehidupannya untuk proses perubahan tersebut. Di sini kita menemukan letak mahalnya harga keselamatan itu dan sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk. 13:23-24). Orang yang disebut rohani adalah orang yang tidak bisa berbuat dosa lagi atau nyaris tidak bisa berbuat dosa lagi. Hatinya tertuju kepada perwujudan Kerajaan Allah pada hari kedatangan Tuhan Yesus. Mereka dapat merasakan dan menghayati bahwa bumi ini bukanlah rumah dan tanah airnya, sehingga mereka hanya merindukan langit baru dan bumi yang baru. Jiwanya tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini dengan segala keindahannya. Orang percaya yang rohani tidak memberi kesempatan kodrat dosanya hidup, sebaliknya mematikan kodrat dosa agar digantikan dengan kodrat ilahi.

Sejatinya, kekristenan bukanlah agama yang hanya melakukan perbaikan-perbaikan atas moral, melainkan membuat seseorang mengalami hidup baru (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Hidup baru yang dimiliki orang percaya akan membawanya kepada klimaks, yaitu pengakuan “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Jadi, yang penting adalah bagaimana mematikan “kodrat dosa” supaya dapat membangun hidup baru di dalam Tuhan. Mematikan kodrat dosa masing-masing individu sangat ditentukan atau diperankan oleh diri sendiri. Mematikan kodrat dosa hendaknya tidak dipahami sebagai proses mistis, tetapi sebuah tindakan natural dan konkret yang disebut langkah pertobatan. Langkah pertobatan bukan hanya satu kali tindakan seperti sebuah titik, melainkan seperti garis panjang, artinya terus-menerus. Seiring dengan terjadinya pembaharuan pikiran oleh kesadaran pengertian terhadap kebenaran-kebenaran yang Roh Kudus singkapkan, kita bertobat artinya kita menerima kebenaran tersebut, dan membuang semua konsep yang salah.

Pertobatan dalam kekristenan adalah perubahan cara berpikir dan seluruh gaya hidup, yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, melainkan juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh berdasarkan kebenaran Firman. Ukuran perbuatan yang dinilai benar bagi orang di luar umat pilihan adalah perbuatan baik berdasarkan hukum tertulis. Tetapi, bagi umat pilihan adalah berkenan kepada Allah atau sempurna. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, melainkan juga seluruh filosofi hidupnya. Pertobatan harus dimulai dari kesadaran pengertian terhadap kebenaran, bukan hanya terhadap pelanggaran moral atau pola hidup yang tidak sesuai dengan hukum. Ini adalah kesadaran terhadap tujuan hidup manusia, yaitu maksud Allah menciptakan manusia, dan lain sebagainya. Di sini, peran pengertian terhadap kebenaran sangat penting.

Kesadaran yang lahir dari pemahaman terhadap kebenaran atau pembaruan pikiran sangat penting, sebab membangkitkan pertobatan yang sejati. Proses pertobatan yang terus-menerus inilah yang dapat memerdekakan seseorang dari dosa. Sebab, dengan pembaruan pikiran, seseorang mengenal kebenaran, dan dengan mengenal kebenaran itu, seseorang dibebaskan dari perhambaan dosa (Yoh. 8:31-32). Perhambaan dosa bukan hanya berarti hidup dalam kebejatan moral, melainkan juga keadaan moral yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Dari proses inilah seseorang diubah sehingga memiliki pola hidup yang baru, yaitu pola hidup anak-anak Allah yang mengenakan kodrat ilahi. Kekudusan inilah yang menjadi tujuan pertobatan. Tentu kekudusan orang percaya menggunakan ukuran Allah sendiri. Itulah sebabnya, Ia berkata: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Ini berarti, Allah menghendaki orang percaya memiliki kekudusan standar Allah.