Tanpa Perjumpaan dengan Allah
28 September 2020

Play Audio Version

Allah adalah realitas yang selalu “real time” dan benar-benar nyata bagi mereka yang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Dia, yaitu mereka yang berani melepaskan segala sesuatu. Dia adalah realitas, bahkan di atas segala realitas. Dia sudah ada dari kekal sampai kekal. Ia lebih dari segala realitas, sebab Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Dia tidak diciptakan dan tidak diadakan. Dia yang menciptakan segala sesuatu.

Sebenarnya, banyak teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen yang masih hidup dalam keberagamaan kosong; mereka memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Mereka membangun hidup kekristenan hanya didasarkan pada doktrin yang mereka akui sebagai kebenaran. Mereka hanya sibuk dengan doktrin, tetapi mereka tidak sibuk dengan Allah secara pribadi dalam perjumpaan konkret dengan Allah. Itulah sebabnya, Allah yang mereka kenal adalah Allah yang hanya di pikiran, bukan Allah yang dijumpai langsung secara konkret. Karena pengajarnya berkeadaan demikian, maka kekristenan seperti ini sudah menjadi standar gereja dari abad ke abad selama ratusan tahun.

Semakin tahun, gereja mengalami kemerosotan yang sangat tajam, bahkan nyaris membuat kekristenan punah di negara-negara Barat yang dahulu dikenal sebagai negara Kristen, yang memiliki segudang teolog dan seminari atau sekolah tinggi teologi. Kenyataan bahwa Allah membiarkan gereja termegah di dunia, Hagia Sopha, menjadi rumah ibadah agama lain, merupakan peringatan bahwa kekristenan agamawi memuakkan dan mengecewakan hati Allah Bapa. Banyak orang Kristen sibuk berdebat dan saling menyakiti, tetapi tidak hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan dengan benar. Hal ini mestinya menjadi peringatan bagi orang Kristen. Kalau Arius dan Athanasius hidup dan melihat kenyataan ini, mereka akan menangis dan baru bisa melupakan perdebatan doktrin mereka.

Harus jujur diakui, banyak teolog Barat yang menjadi dosen-dosen seminari dan rohaniwan-rohaniwan di gereja hanya cakap berteologi tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil. Kemerosotan kekristenan yang terjadi di masyarakat Barat menjadi peringatan yang harus kita perhatikan dengan serius. Tidak sedikit gereja yang berubah fungsi, bahkan menjadi rumah ibadah agama lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan Kristiani palsu.

Banyak teolog, para pemimpin gereja, dan jemaat Kristen dengan khidmat menyelenggarakan liturgi. Di dalamnya mereka berdoa, menyanyi sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah, serta mengucapkan kredo (pengakuan). Tetapi, sebenarnya mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup dalam kehendak-Nya. Dalam kemerosotan kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad, Allah hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi, tanpa mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil.

Mereka juga cakap berdebat dan berapologetika—yaitu menjelaskan, meluruskan, atau mendebat mengenai iman Kristen dengan agama lain—tetapi mereka tidak menunjukkan kehidupan anak Allah seperti yang diperagakan oleh Yesus. Yang mereka temukan hanyalah ilmu mengenai Allah atau teologi, bukan mengalami perjumpaan secara konkret dengan Allah. Sungguh malang, mereka berbicara mengenai pendamaian oleh karya salib, tetapi tidak hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Tidak heran kalau banyak teolog, para pemimpin gereja, sampai jemaat tidak mengalami perubahan kodrat. Memang secara usia, melalui perjalanan waktu, seseorang bisa lebih bertambah tenang, bijaksana, dan baik—yang disebut sebagai dewasa mental—tetapi belum tentu itu merupakan sebuah perubahan kodrat menjadi seperti Yesus. Sejatinya, mereka belum menemukan Allah. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah pasti memperagakan hidup Yesus.

Mempelajari pengetahuan atau ilmu tentang Allah melalui berbagai media bukan sesuatu yang sulit, karena hal itu bisa didapat tanpa perlu mempertaruhkan segenap hidupnya. Tetapi yang berat adalah perjuangan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan hidup di dalam kesucian-Nya, sebab harga pertaruhannya adalah seluruh kehidupan. Di dunia hari ini, nyaris tidak kita temukan manusia yang semakin serupa dengan Yesus. Pada umumnya, para teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang bukan umat pilihan. Keadaan ini membuat para teolog, pemimpin gereja, dan orang-orang Kristen pada umumnya di seluruh dunia hari ini tidak mampu menghadapi pengaruh dunia yang jahat, seperti yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan para teolog Barat yang gagal menyelamatkan gereja dan masyarakatnya sekarang ini. Tetapi ironisnya, mereka tidak menyadari kegagalan tersebut.

Gereja-gereja yang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang hanya mengenal Allah dari ruangan akademis seminari atau sekolah tinggi teologi, biasanya menciptakan atmosfer suasana kekristenan tanpa perjumpaan dengan Allah. Sementara kelompok gereja-gereja yang menekankan karunia—karunia Roh dan mukjizat—hanya berfantasi mengenai Allah tanpa memperagakan kehidupan Yesus. Mereka jatuh dalam teologi kemakmuran, dimana kekristenan menjadi sarana untuk memeroleh kehidupan yang mudah dijalani di bumi dengan segala pemenuhan kebutuhan jasmaninya.