Tanggung Jawab Untuk Mengalami Kelahiran Baru
29 August 2019

Siapakah sebenarnya yang benar-benar sah disebut sebagai anak-anak Alah? Dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa yang disebut sebagai anak-anak Allah adalah mereka yang dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:11-13). Firman Tuhan mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Umat pilihan Allah adalah orang-orang yang memperoleh kesempatan dilahirkan atau diperanakkan oleh Roh Allah. Kata “dilahirkan” atau “diperanakkan” dalam teks aslinya adalah gennao (γεννάω). Kata ini biasa digunakan untuk menunjukkan kelahiran secara umum. Kalau istilah “kelahiran” digunakan oleh Tuhan, maka pastinya proses kelahiran baru memiliki analogi dengan proses kelahiran manusia pada umumnya. Ini berarti ada proses yang harus berlangsung dalam kehidupan orang percaya untuk mengalami kelahiran baru.

Dilahirkan oleh Allah berarti keluar dari Allah melalui sebuah proses, seperti proses janin dalam kandungan dan bertumbuh menjadi bayi, kemudian dilahirkan keluar. Dilahirkan oleh Allah pasti menunjuk sebuah proses dari sebuah perjuangan sehingga membuahkan sebuah kelahiran. Sebagaimana seorang ibu yang bergumul hebat sebelum melahirkan seorang anak, demikian pula Roh Kudus sebelum melahirkan kita. Kelahiran ini bisa terjadi kalau orang percaya memiliki respon yang benar terhadap penggarapan Allah. Kesalahan banyak orang Kristen adalah merasa bahwa kelahiran itu berlangsung dengan sendirinya secara mudah, ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus secara akali atau dalam pikiran.

Orang yang dilahirkan oleh Allah akan sadar dan mengerti sekali bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah. Ini bukan sesuatu yang bersifat spekulasi atau tidak ada kejelasan. Kalau seseorang berjuang untuk berubah bagaimana menjadi manusia Allah yang berkarakter seperti Bapa, maka ia akan mengerti proses perubahan yang dialami dan level yang dicapainya. Kalau seseorang ragu-ragu, apakah dirinya sudah lahir baru atau belum, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mengalami pergumulan yang benar untuk dilahirkan oleh Allah. Seperti sakit bersalin yang dialami Roh Kudus dalam melahirkan kita, juga kita rasakan. Tentu Roh Kudus melewati masa-masa yang sulit ketika seseorang masih hidup dalam daging dan selalu memberontak terhadap kehendak-Nya. Sampai pada suatu level seseorang bisa bertumbuh dewasa dan mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Orang percaya sendiri juga akan mengalami pergulatan yang hebat ketika menyesuaikan kehendaknya terhadap kehendak Allah.

Mengapa banyak orang yang tidak menyadari apakah dirinya telah dilahirkan oleh Allah atau belum? Sebab mereka tidak mengalami perjuangan untuk dilahirkan oleh Allah. Mengapa tidak mengalami? Sebab tidak tahu bahwa ia harus berjuang untuk mencapai level tertentu, di mana dirinya sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru tersebut. Level hidup bagaimana yang harus dicapainya untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah? Level itu adalah keberadaan seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa. Pernyataan Tuhan Yesus dalam ayat ini bisa berarti bahwa kita harus berjuang untuk dilahirkan oleh Allah atau mengalami kelahiran baru. Dalam hal ini kelahiran baru bukanlah sebuah proses otomatis oleh anugerah, tetapi buah dari respon yang benar terhadap anugerah Allah. Terkait dengan hal ini betapa berbahayanya ajaran yang mengatakan bahwa dengan percaya di dalam pikiran maka seseorang telah memiliki keselamatan.

Level orang yang telah dilahirkan oleh Allah dikatakan oleh Yohanes dalam suratnya bahwa: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih Ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1Yoh. 3:9). Kata “berbuat” dalam teks aslinya adalah poiei (ποιεῖ), yang memiliki keterangan waktu sekarang aktif indikatif orang ketiga tunggal (verb indicative present active 3rd person singular), dari akar kata poieo (ποιέω). Kata ini bila diterjemahkan bebas berarti “terus menerus berbuat dosa”. Jadi sejatinya, orang yang dilahirkan dari Allah tidak terus menerus berbuat dosa, sampai tidak dapat berbuat dosa lagi. Inilah ciri dari seorang yang menjadi anak Allah yang sah, yaitu kehidupan tidak bercacat dan tidak bercela, sempurna seperti Bapa, kudus seperti Allah kudus, dan serupa dengan Yesus. Untuk mencapai ini orang percaya bertanggung jawab mengusahakannya. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh, seseorang tidak dapat mencapainya. Inilah tatanan Allah yang tidak dapat ditawar.