Tanggung Jawab Mengenakan Pikiran Kristus
23 August 2019

Untuk menerima keselamatan, orang percaya harus berjuang guna memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah standar kesucian Allah. Ini adalah tatanan Allah. Orang-orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran ini, sudah merasa puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki, dan tidak berusaha keluar dari standar moral umum yang ada. Itulah sebabnya tidak sedikit orang Kristen yang moral umumnya saja tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Salah satu penyebab hal tersebut adalah pemahaman yang salah terhadap konsep bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus diperoleh bukan karena perbuatan baik. Memang benar pernyataan tersebut, sebaik apa pun seseorang, tidak akan selamat tanpa salib Kristus.

 

Tetapi bukan berarti perbuatan baik tidak dibutuhkan. Orang percaya bukan saja harus menjadi baik, tetapi juga sempurna. Jika seseorang berpikir bahwa perbuatan baik tidak diperlukan, hal ini merupakan kesalahan penafsiran terhadap Efesus 2:8-9. Banyak orang Kristen yang berpikir, bahwa kalau sudah menjadi orang yang dipilih oleh Allah melalui percaya dalam nalar, bagaimanapun akan selamat, padahal mereka tidak memahami apa maksud atau isi keselamatan itu dan bagaimana percaya itu sesungguhnya. Mereka hanya berpikir bahwa pada intinya keselamatan itu adalah terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Mereka juga belum memahami apa surga itu. Mereka hanya berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyaman, di mana orang hanya bernyanyi-nyanyi. Tidak mengherankan kalau mereka tidak memiliki ketegangan dalam perjuangan melakukan kehendak Allah, yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus.

 

Orang yang diselamatkan adalah orang yang berproses memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Ternyata kata “pikiran dan perasaan” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda, tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneistho (φρονείσθω). Dalam Bahasa Yunani, kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω). Kalau diterjemahkan bebas bisa berbunyi: ‘‘Berpikirlah atau bersikaplah seperti Yesus Kristus”. Dalam salah satu Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, diterjemahkan sebagai berikut: Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus. Kalau Firman Tuhan memerintahkan agar orang percaya berpikir atau bersikap sesuai dengan kehendak-Nya, maka berarti orang percaya yang harus menggerakkan atau mengarahkan pikiran dan menetapkan sikapnya dengan jelas. Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung oleh pihak lain, bahkan oleh Tuhan sendiri. Orang percaya sendiri yang harus menggerakkan dan mengendalikan pikirannya.

 

Dalam hal tersebut, Tuhan tidak akan berintervensi, sebab pikiran seseorang -yang merupakan pusat kemudi kehidupan setiap individu- adalah hak dan wewenang masing-masing individu. Itulah sebabnya kepada Kain, Tuhan hanya bisa memperingatkan Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, sangat menggoda. Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup Kain, Kain yang harus mengendalikan dirinya sendiri (Kej. 4:7). Ketika Kain tetap berkehendak membunuh adiknya, Tuhan tidak mencegahnya lagi.

 

Terkait dengan hal tersebut, kepada Petrus, Yesus berkata bahwa Iblis telah menuntut untuk menampi (menggoncangkan atau mencobai) dia, tetapi Tuhan Yesus hanya bisa berdoa supaya imannya tidak gugur (Luk. 22:31-32). Sama dengan Tuhan Yesus pun tidak bisa menyelamatkan Yudas, jika Yudas memang berkehendak untuk memilih uang daripada kesetiaan. Hal ini terjadi, sebab Yudas sudah sejak lama berkebiasaan mencuri dan pikirannya terikat dengan kekayaan. Di hari-hari terakhir pengkhianatan Yudas, Yesus sudah mengingatkan berulang-ulang melalui perkataan dan sikap-Nya. Seperti misalnya Yesus memberi tahu bahwa salah satu dari murid-murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Yesus tidak perlu menyatakan hal itu kalau Ia sengaja menjerumuskan Yudas untuk menjadi pengkhianat. Jadi, sangatlah keliru jika ada pemahaman bahwa Yudas ditentukan untuk binasa.

 

Dalam hal tersebut, jelas sekali bahwa Tuhan hanya bisa mengarahkan pikiran seseorang, tetapi tidak akan mengambil alih kemudi hidup atau pikirannya. Iblis pun juga tidak bisa mengambil alih kemudi, tetapi ia bisa memengaruhi sehingga seseorang mengarahkan kemudi hidupnya kepada arah tertentu. Tentu saja Iblis mengarahkan seseorang kepada kerajaan kegelapan melalui keindahan dunia. Hendaknya orang percaya tidak menuduh Tuhan sengaja menyerahkan kemudi hidup orang-orang tertentu kepada Iblis agar diarahkan ke neraka, sementara Tuhan mengambil alih kemudi hidup orang-orang tertentu untuk diarahkan ke surga. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, tetapi Ia tidak bisa menyelamatkan mereka yang tidak bersedia diselamatkan (2Ptr. 3:9). Hal ini bisa terjadi sebab Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup seseorang, yaitu mereka yang mengarahkan pikiran dan hatinya kepada arah yang berbeda dari arahan Tuhan.