Tanggung Jawab Dalam Beriman
06 September 2019

Orang percaya tidak boleh menyederhanakan hal pembenaran oleh iman ini. Hendaknya orang percaya tidak gegabah mengatakan kepada semua orang Kristen bahwa mereka sudah dibenarkan. Harus diteliti terlebih dahulu apakah mereka memiliki iman yang benar atau tidak. Kalau iman seseorang adalah iman palsu, maka mereka belum dibenarkan. Hal ini paralel, ada pengajaran palsu melahirkan pertobatan palsu, membuahkan iman palsu, dan pembenaran palsu juga. Dalam hal ini hendaknya kita tidak menipu orang percaya atau jemaat lain dengan menunjukkan seakan-akan mereka yang sudah ke gereja dan menjadi orang Kristen pasti dibenarkan. Harus diteliti apakah pengajaran yang mereka telah terima selama ini adalah pengajaran yang benar, melahirkan pertobatan yang benar, membuahkan iman yang benar, sehingga pembenaran yang mereka miliki juga benar.

Pembenaran terjadi ketika seseorang memiliki iman yang benar. Dan seseorang yang dibenarkan adalah seorang yang telah memiliki actus transiens, yaitu orang yang telah beralih dari kehidupan tak beriman ke kehidupan dalam kesadaran iman. Inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam pernyataannya: Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal. 2:19-20).

Jadi sebelum seseorang menerima pembenaran, ia telah bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, ia sudah belajar mengenal Injil Tuhan Yesus Kristus (ingat bahwa iman datang dari pendengaran). Dengan demikian, seseorang yang dibenarkan adalah seseorang yang telah memiliki bekal untuk bertumbuh terus dalam keselamatannya. Nantinya akan dapat dibuktikan apakah seseorang sudah hidup dalam pembenaran atau belum, yaitu melalui sikap dan perbuatannya atau buah-buah hidupnya. Seperti kehidupan Paulus yang sudah memiliki iman yang benar, maka gaya hidupnya sangatlah berubah.

Dengan memiliki iman yang benar dan pembenaran yang benar, maka seseorang akan dibawa kepada pembenaran yang benar atau murni, bahwa pembenaran mengandung panggilan. Panggilan yang mutlak atau absolut yang harus dipenuhi, sebab Tuhan menghendaki pembenaran yang disediakan membawa perubahan yang signifikan, yaitu proses keselamatan dalam hidup seseorang terwujud, yaitu dikembalikannya kepada rancangan semula.

 

Pembenaran ini mengandung konsekuensi, sebab dengan menerima pembenaran maka seseorang harus masuk ke dalam proses untuk diubah terus agar benar-benar menjadi benar. Adalah kejahatan kalau Allah hanya membenarkan atau menganggap seseorang tidak bersalah, setelah itu manusia dibiarkan berpesta merayakan dan menikmati pembenarannya tanpa tanggung jawab. Pembenaran yang diberikan kepada manusia adalah pembenaran dengan tanggung jawab. Oleh sebab itu pembenaran yang diberikan kepada seseorang harus disertai dengan pengertian maksud dan tujuan pembenaran itu diberikan atau dianugerahkan.

 

Pembenaran dari Allah tidak membuat seseorang otomatis menjadi benar dalam karakter atau manusia batiniahnya. Tetapi akibat dari respon iman yang benar terhadap karya Kristus dan tanggung jawab untuk dipenuhi adalah hidup dalam pembenaran. Pembenaran harus dilanjutkan atau diteruskan dengan pembenahan diri terus menerus agar benar-benar menjadi benar. Pembenaran adalah hasil dari proses iman yang benar dan akan berlanjut terus sampai kepada kesempurnaan. Kata “pembenaran” dalam bahasa Latin adalah justificatio, yangmemiliki pertalian dengan kata justificare. Kata ini gabungan dari kata justus dan facere, yang artinya menjadikan benar.

 

Pembenaran harus berlanjut pada proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Inilah maksud keselamatan dalam Yesus kristus. Tanpa proses menjadikan seseorang sebagai manusia yang benar, maka pembenaran merusak karakter atau moral manusia. Pembenaran tanpa disertai tindak lanjut pemulihan gambar Allah merupakan penyesatan.Fakta yang kita jumpai hari ini, banyak orang Kristen merasa puas dengan pembenaran yang telah ia terima, dengan asumsi bahwa ia telah dibenarkan. Kalau bicara proses lanjut pembenaran membuat orang Kristen takut merusak prinsip keselamatan “only by grace” (hanya oleh anugerah). Padahal pembenaran dimulai dari iman yang benar yang timbul dari pendengaran. Untuk memiliki pendengaran terhadap Firman Tuhan, seseorang harus sungguh-sungguh membuka telinga dan menyediakan diri untuk itu. Ini juga merupakan usaha atau respon yang benar. Selanjutnya, setelah memiliki pembenaran, maka kehidupan seseorang harus terus bertumbuh berbuah. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang percaya.