Takdir
07 August 2019

Teologi Kristen yang benar menolak pengajaran yang mengatakan bahwa keadaan manusia seluruhnya ditentukan oleh Tuhan yang mengatur segala sesuatu secara absolut. Dalam Kekristenan, hal kehendak bebas mempunyai tempat yang penting yang harus dipahami. Ajaran takdir adalah pengajaran yang mengesampingkan “nilai” manusia. Sebab kebebasan memberi nilai atas manusia. Itulah sebabnya penghakiman dan upah merupakan realitas Ilahi. Ada surga dan neraka. Dengan memahami kebenaran ini kita akan menjadi hati-hati dalam hidup, tidak ceroboh, dan tanpa perhitungan. Hukum “tabur tuai” merupakan realitas Ilahi yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun (Gal. 6:7). Terkait dengan kehendak bebas, maka tidak bisa tidak manusia harus tunduk kepada kepada hukum tabur tuai.

Bila manusia tidak memiliki kehendak bebas, dan hidupnya ditentukan oleh takdir, Tuhan Yesus tidak akan memberikan seruan-Nya: “bertobatlah kamu”, “kumpulkan harta di surga” dan lain sebagainya. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Kalau seseorang tidak mengakui adanya kehendak bebas manusia, hendaknya dengan fair tidak menggunakan kalimat-kalimat tersebut dalam tema-tema khotbahnya. Bagaimana bisa seorang pembicara yang memercayai adanya penetapan keselamatan secara sepihak oleh Allah membuat tema dalam khotbahnya: Bertobatlah kamu, mengapa harus binasa? Pertanyaannya adalah mengapa membuat tema itu, apakah manusia bisa memilih atau mengambil keputusan? Ini bentuk inkonsistensi, seharusnya temanya berbunyi: Percayalah, Allah membuat kamu bertobat dan tidak binasa.

Fakta bahwa kehendak bebas adalah tatanan yang abadi, membuat kehidupan berdinamika sangat sempurna. Kalau tidak ada kehendak bebas, maka dinamika kehidupan menjadi tidak wajar. Tatanan ini akan tetap kekal, bukan hanya di bumi tetapi juga di surga nanti. Tetapi tentu di surga nanti mereka yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang yang telah terbukti menggunakan kehendak bebasnya dengan baik, yaitu mereka yang memilih untuk menaati dan menghormati Allah. Di surga tidak lagi ada pemberontakan. Dalam kehidupan yang memiliki kehendak bebas tetapi manusia memilih untuk menaati Allah, adalah sesuatu yang sangat indah, luar biasa. Itulah keadaan Kerajaan Surga nanti. Itulah sebabnya sejak di bumi manusia yang akan diperkenan masuk Kerajaan-Nya telah biasa menggunakan kehendak bebasnya untuk melakukan kehendak Allah semata-mata. Sehingga kesucian bukanlah sekadar keadaan dimana manusia tidak berbuat dosa, tetapi keadaan dimana manusia tidak dapat berbuat dosa sama sekali. Sehingga segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah sebenarnya maksud rancangan awal Allah yang semula.

Dengan demikian, sesungguhnya sejak di bumi sudah nampak bakat atau tanda-tanda nyata orang-orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga atau tidak. Jadi, kalau ada pertanyaan: apakah mungkin bisa terjadi lagi pemberontakan di surga? Jawabannya adalah tidak mungkin ada lagi, sebab semua orang yang akan masuk surga telah diproses untuk menjadi sempurna seperti Bapa, melalui proses pemuridan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan Roh-Nya. Orang yang tidak sempurna tidak akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Oleh karena harus menuai apa yang ditabur, maka pengajaran mengenai takdir yang selama ini dipahami banyak orang, tidak Alkitabiah. Di balik kata “takdir”, diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa, sebuah devine decree. Jadi takdir dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Allah yang mutlak atau absolut. Dalam bahasa Inggris, kata “takdir” bisa diterjemahkan predestination, yang artinya penentuan sebelumnya atau ditentukan lebih dahulu. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Allah untuk berlangsung. Ini tidak tepat. Tetapi kalau jujur, pada umumnya masyarakat -termasuk di dalamnya orang Kristen- meyakini konsep takdir yang tidak Alkitabiah.

Dalam memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Allah telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya. Demikianlah kita dapat temukan bila seseorang mengalami musibah -misalnya suatu kecelakaan, kematian orang yang dikasihi, jatuh miskin, sakit yang tak tersembuhkan sampai kematian, dan lain-lain- maka mereka menerimanya sebagai takdir. Di dalamnya Allah dianggap sebagai kausalitas prima (penyebab utama), kasarnya: “biang masalah”. Menjadi berkembang lagi dalam kasus lain, ketika disimpulkan bahwa jodoh ada di tangan Allah, sehat atau sakit, kaya atau miskin, gemuk atau kurus, surga atau neraka, hanya Allah yang menentukan.