Supaya Menjadi Anak Allah
13 May 2019

Dalam Efesus 1:5 jelas sekali dikatakan bahwa Allah menentukan supaya orang-orang pilihan-Nya menjadi “anak-anak Allah.” Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar sebutan, tetapi benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dalam Roma 8:4 menyatakan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Dalam hal ini seseorang dapat dikatakan sebagai anak Allah, bukan karena sekadar menjadi orang Kristen, aktivis gereja, majelis atau pendeta, tetapi karena dipimpin oleh Roh Kudus. Jadi kalau dikatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, artinya bukan saja bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi juga bahwa keselamatan hanya melalui atau oleh korban Tuhan Yesus atas orang yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.

Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah adalah orang-orang yang berpotensi untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian hanya orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus yang dimungkinkan menjadi anak-anak Allah. Hasil atau buah, atau akibat dari hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah orang percaya menemukan roh dalam arti menemukan gairah, spirit atau hasrat yang sama dengan Kristus. Jika orang percaya hidup menurut roh tersebut, maka barulah dapat dikatakan sebagai anak-anak Allah yang sah (Yun. Huios). Inilah fasilitas keselamatan, agar orang percaya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Orang yang selalu hidup menurut roh akan menyatu dengan roh tersebut, gairah hidup lamanya digantikan dengan gairah hidup menurut roh tersebut. Sehingga secara permanen hidup orang percaya tersebut berubah total.

Dalam hal ini jelas sekali bahwa seseorang dapat menjadi anak Allah yang benar atau sah, tergantung masing-masing individu. Jika seorang Kristen masih memiliki tanda-tanda orang yang hidup “menurut daging,” maka jelas ia bukan anak Allah. Ia bisa merasa sebagai anak Allah, tetapi Tuhan tidak akan mengakuinya (Mat. 7:21-23). Tuhan menyediakan fasilitas pimpinan Roh Kudus yang menghasilkan roh yang sesuai dengan Dia, agar orang percaya hidup menurut roh tersebut, tetapi apakah seseorang memberi atau menyediakan diri hidup menurut roh atau menurut daging tergantung masing-masing individu. Dalam hal ini, Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu. Hanya orang yang menurut kepada roh yang dapat melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan bukan ditentukan secara sepihak oleh Allah, tetapi diperankan juga oleh perjuangan masing-masing individu.

Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan hanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri. Tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Bapa serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Dalam hal ini seseorang yang menyebut Allah sebagai Bapa haruslah memiliki kualitas yang sangat luar biasa. Dengan demikian apakah seseorang nanti akan diterima di dalam keluarga Kerajaan atau tidak, sudah nampak dari perilakunya sekarang di bumi ini.

Oleh sebab itu harus diingat bahwa menjadi orang percaya berarti berhutang untuk hidup menurut roh, bukan menurut daging, artinya menjadi orang percaya harus tidak lagi hidup seperti anak-anak dunia atau seperti sebelum dirinya bertobat. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka yang memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini, menjalankan hidupnya hanya untuk mencari dan menikmati dunia ini dengan segala hiburannya. Inilah yang dimaksud dengan “percintaan dunia,” yaitu hidup dalam keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Sejatinya, banyak orang Kristen masih berkondisi seperti ini. Mereka bukanlah orang-orang yang jahat dalam sudut pandang norma umum, tetapi mereka tidak hidup menurut roh. Kehidupan mereka masih bisa disebut sebagai hidup dalam perbudakan.

Orang-orang yang masih hidup dalam perbudakan tidak pernah hidup dalam pimpinan Roh Kudus, tentu saja mereka juga tidak mengerti bagaimana hidup menurut roh. Mereka tidak hidup di dalam kehendak Allah, tetapi hidup dalam kehendak diri sendiri, yaitu kehendak yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Orang-orang yang ada dalam perbudakan ini adalah orang-orang yang tidak layak memanggil Allah sebagai Bapa. Mereka adalah anak-anak dunia, sebab gairah mereka adalah gairah yang dikuasai oleh materi dunia ini. Betapa celakanya orang-orang Kristen seperti mereka ini, yang merasa tidak perlu berjuang dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari percintaan dunia karena merasa sudah terpilih dan ditentukan untuk selamat dan pasti masuk surga.