Sungguh-Sungguh Mencari Allah
30 September 2020

Play Audio Version

Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki potensi untuk berinteraksi dengan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu persekutuan antara Allah sebagai Bapa, dan manusia sebagai anak-anak-Nya. Kekristenan yang benar bila dikenakan atau dijalani, dapat membuat seseorang semakin mengalami perjumpaan dengan Allah. Tujuan pelayanan gereja harus terfokus hanya pada hal ini. Kita harus mengisi hidup kita dengan misi ini.

Oleh sebab itu, orang percaya harus memahami dengan benar maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia, dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, agar dapat berinteraksi dengan Allah secara ideal. Kesalahan banyak orang Kristen yang mengakibatkan mereka tidak mengalami perubahan kodrat dan tidak pernah memiliki hubungan interaksi dengan Allah, disebabkan karena mereka menjadikan kekristenan sekadar agama. Sehingga, banyak orang Kristen hanya memiliki pengalaman keberagamaan, tetapi bukan perjumpaan yang benar dengan Allah, serta tidak pernah memiliki pengalaman berjalan dengan Allah. Ini adalah kemerosotan dan penyimpangan yang sudah berlangsung berabad-abad. Orang-orang Kristen hari ini hanya mewarisi doktrin dan liturgi, tetapi bukan impartasi kehidupan yang berinteraksi dengan Allah.

Kekristenan yang telah menyimpang tersebut telah menjadi standar kehidupan agama Kristen yang dijalani hampir semua orang Kristen di dunia. Tidak heran kalau kehidupan mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang bukan umat pilihan. Standar moral mereka tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang kelakuannya lebih buruk dari orang non-Kristen. Mereka tidak merindukan Kerajaan Allah. Kehidupan mereka adalah kehidupan wajar seperti manusia pada umumnya. Orang Kristen yang hidup dalam kewajaran anak dunia tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Orang yang ke gereja belum tentu mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perjumpaan dengan Allah tidak hanya diwakili oleh liturgi atau tata cara ibadah. Perjumpaan dengan Allah adalah perjumpaan dalam segala keadaan dan dalam persoalan hidup yang dialami oleh seseorang. Allah dapat dikenal dan ditemukan di sepanjang menit, detik, dan setiap saat dalam perjalanan hidup kita. Di mana pun orang percaya berada dan dalam segala keadaan, Allah hadir dan bergerak. Allah tidak pernah berhenti memelihara, melindungi, dan mendidik orang percaya. Masalahnya terletak pada masing-masing individu, apakah menanggapi kehadiran Allah dalam hidup ini dengan belajar mengerti kehendak Allah dan melakukannya.

Dengan kehadiran Allah di tengah-tengah orang percaya, seharusnya orang percaya dapat mendengar suara-Nya. Hendaknya, orang percaya tidak ragu-ragu terhadap bimbingan langsung dari Allah kepada setiap individu secara khusus. Untuk ini, orang percaya harus berani menginvestasikan waktunya guna menemukan Allah dan hidup berjalan dengan Dia. Orang percaya harus bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Allah, serta meninggalkan percintaan dengan dunia. Orang percaya harus berani untuk tidak duniawi.

Kalau seseorang tidak bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela serta tidak bersedia meninggalkan percintaan dunia, sebaiknya atau seharusnya berhenti jadi orang Kristen, sebab percuma ke gereja dan menjadi orang Kristen. Dengan semangat dunia yang tidak ditanggalkan, seseorang tidak akan bisa menjumpai Allah. Tekad memang tidak otomatis dapat membuat seseorang hidup suci dan meninggalkan percintaan dunia, tetapi Allah akan menuntunnya sampai orang percaya yang berkomitmen tersebut dapat menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya bergantung pada doktrin atau ajaran sistematika teologi manusia.

Setiap orang yang sungguh-sungguh mencari Allah akan menemukan tempat di mana ia belajar lebih mendalam mengenai Dia dalam doktrin dan sistematika teologi yang benar-benar Alkitabiah. Orang yang benar-benar menemukan Allah pasti tidak tertarik lagi dengan dunia ini, pasti hidup tidak bercela, rela berkorban apa saja demi Kerajaan-Nya, dan menyadari serta menghayati penuh bahwa dunia bukan rumahnya. Hatinya sudah dipindahkan di Kerajaan Surga sehingga memiliki kerinduan untuk pulang ke surga. Sampai pada tahap ini, kematian tidak lagi menjadi realita yang menakutkan. Orang percaya seperti ini adalah orang percaya yang siap untuk meninggal bagi dunia.