Sumber Hikmat
28 June 2018

Kita harus memeriksa dengan teliti sejarah hidup Firaun, supaya kita dapat menemukan makna yang benar dari Roma 9 (Roma 9:17-18 – Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memerlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya”). Kalau kita tidak memahami dengan benar kisah Firaun secara lengkap dan teliti dalam kitab Keluaran, maka kita akan salah dalam memahami maksud tulisan Palus di Roma 9tersebut.

Sejak berabad-abad kasus mengenai Firaun yang hatinya dikeraskan oleh Tuhan, telah menjadi landasan atau dasar berpikir dari pandangan orang yang secara tidak langsung maupun secara langsung, menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya mengeraskan hati siapa yang dikehendaki untuk dikeraskan. Selanjutnya, hal ini membangun atau meneguhkan premis bahwa Allah menentukan siapa yang Allah selamatkan. Dengan demikian,konsekuensi logisnya berarti Allah membiarkan yang lain untuk binasa. Dalam hal ini ada orang yang dikeraskan hatinya sehingga mereka tidak selamat atau dibiarkan hatinya keras sehingga tidak selamat, dan ada sekelompok lain yang hatinya tidak dikeraskan oleh Tuhan, sehingga berkemungkinan atau bisa dipastikan selamat, bisa masuk surga.

Dalam hal tersebut, seakan-akan Tuhan dalam pertimbangan-Nya yang tidak dimengerti oleh manusia, mengeraskan hati orang-orang yang dikehendaki oleh-Nya untuk dikeraskan. Dan Tuhan tidak berbuat demikian kepada orang-orang yang dipilih untuk selamat. Pandangan ini tentu saja salah, sebab Allah yang mulia tidak mungkin bertindak tanpa pertimbangan, alasan dan dasar yang bisa dimengerti oleh umat-Nya. Harus digarisbawahi dan ditegaskan, bahwa Alkitab ditulis untuk menjadi sumber hikmat guna memberi pelajaran rohani bagi umat pilihan. Dari tindakan-tindakan Tuhan tersebut, umat pilihan dapat mengerti bagaimana ia mengisi hidupnya. Kalau Tuhan bertindak dengan atau dalam tatanan yang tidak dimengerti manusia, berarti manusia berjalan dalam gelap. Manusia tidak dapat mengisi hidupnya secara proporsional, atau secara patut dan natural. Dewa atau allah semacam itu adalah allah yang bukan saja misteri, tetapi juga kejam.

Tidak mungkin Alkitab menulis sesuatu yang konyol, absurd dan tidak bermakna tanpa mengandung pelajaran rohani bagi umat Tuhan. Harus bisa ditemukan alasan, mengapa Allah mengeraskan hati Firaun. Jawabannya tentu bukan sederhana seperti yang sering dikemukakan banyak orang, bahwa hal itu karena kedaulatan Allah, titik. Betapa naifnya jawaban itu. Jawaban yang tidak memuat implikasi yang berarti bagi orang percaya. Kalau ada implikasi, maka implikasinya hanya menggiring seseorang untuk menerima saja semua tindakan Tuhan secara sepihak tanpa bisa dan boleh mengertinya dengan jelas; sebab jawabannya hanya “karena Allah telah menentukan demikian”.

Pandangan atau pengajaran ini menempatkan manusia bukan sebagai manusia yang bertanggungjawab secara proporsional dan natural. Manusia hanya menerima saja apa yang telah ditentukan bagi dirinya tanpa bisa mengelak. Jika demikian, tentu saja etika tidak dapat tampil secara wajar. Tidak perlu ada tuntunan etika yang normatif bagi manusia, sebab akhir perjalanan hidup seseorang sudah ditentukan sepihak oleh Allah. Juga tidak perlu ada perjuangan sama sekali. Kalaupun ada perjuangan, maka perjuangan tersebut tidak proporsional. Padahal Tuhan Yesus sendiri berfirman agar kita berjuang masuk jalan sempit, berbuah, sempurna seperti Bapa, berkenan kepada Bapa dan lain sebagainya.

Harus ditegaskan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun, sebab Tuhan sudah tahu bahwa Firaun tidak akan melepaskan umat Israel. Firman Tuhan menulis: Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat (Kel. 3:19). Tentu saja keadaan Firaun yang jahat seperti ini, bukan karena perjalanan hidup dalam satu hari. Tetapi melalui perjalanan panjang, dimana Firaun zaman Musa tersebut memilih hidup dengan warna demikian. Tentu Tuhan tidak menuntun, mengarahkan dan mengkondisi Firaun seperti itu. Keadaan Firaun yang kejam, jahat, dan licik tersebut adalah akumulasi dari pilihandemi pilihan, tindakandemi tindakan yang diambilnya selama bertahun-tahun. Harus diingat bahwa tidak ada orang yang menjadi jahat mendadak, atau menjadi baik mendadak.

Jadi, tindakan Tuhan mengeraskan hati Firaun bukan tanpa alasan, sebab Firaun memang sudah memiliki keadaan jiwa yang jahat (tidak bisa diperbaiki lagi), sehingga tidak akan membiarkan umat Israel pergi dari Mesir. Firaun memang keturunan dinasti yang jahat, selain ia mewarisi gen penguasa yang lalim, juga hidup dalam lingkungan jahat yang menindas bangsa Israel tanpa belas kasihan, karena khawatirnya bangsa itu menjadi kuat di Mesir dan menguasai bangsa Mesir (Kel. 1:10-13).