Subjektivitas Nalar
21 June 2020

Play Audio Version

Dalam kehidupan banyak orang, Allah masih dalam wacana teologi (ilmu tentang Allah) yang ada di dalam pikiran mereka; itulah Allah dalam fantasi. Teologi yang mereka miliki pun sangat minim. Ini bukan berarti mereka yang teologinya tidak minim lebih mengalami Allah. Justru sering terjadi, semakin banyak ilmu teologinya, semakin jauh dari perjumpaan langsung dengan Allah. Mereka lebih percaya diri dan merasa bahwa mereka sudah ber-Tuhan dengan benar, tetapi ternyata mereka semakin berfantasi mengenai Allah yang hanya ada di dalam pikiran mereka. Semakin banyak teologi yang mereka miliki mengenai Allah, mereka berpikir semakin merasa sudah memiliki kedalaman perjumpaan dengan Allah. Padahal, sebenarnya sering sebaliknya, keadaan mereka justru semakin jauh dari realitas Allah yang hidup, yang mestinya dialami secara konkret. Sebab, teologi yang mereka miliki tidak membawa mereka kepada realitas perjumpaan konkret dengan Allah.

Sejatinya, yang penting adalah bagaimana memiliki pengenalan yang mengantar seseorang benar-benar bisa mengalami perjumpaan dengan Allah. Jadi, bukan berapa banyak teologi yang dimiliki, tetapi seberapa tepat dan memadai teologi yang dimiliki untuk bisa berinteraksi dengan Allah. Ekstremnya, di situasi dimana tidak ada peluang dan sarana untuk belajar teologi secara formal—dimana seseorang tidak belajar teologi secara formal di seminari atau sekolah tinggi teologi—tetapi bisa memiliki kehausan akan Allah dan berusaha mencari Allah, kepada mereka Allah memberi diri-Nya ditemukan secara berlimpah. Hal ini dikemukakan, bukan berarti tidak perlu belajar teologi. Penjelasan ini dimaksudkan agar yang terutama adalah hati yang bersih, tulus, dan jujur untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Kerinduan yang kuat terhadap Allah, akan membuat seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah, tetapi kerinduan menguasai teologi tanpa kerinduan akan Allah, membuat seseorang menjadi arogan dan mempermainkan Allah.

Karena tidak memiliki kerinduan akan Allah, banyak teolog tidak menyediakan diri menjumpai Allah dalam meditasi atau doa peribadi. Dengan dasar bahwa manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah manusia yang berkeadaan “mati,” sehingga tidak dapat menemukan Allah, mereka tidak bersungguh-sungguh mencari Allah untuk menjumpai Allah secara konkret. Biasanya, kelompok teolog dan orang Kristen yang menekankan nalar atau rasio menghindari bentuk subjektivitas. Bagi mereka pengalaman pribadi dengan Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Biasanya juga dicurigai sebagai “halusinasi atau delusi.” Ditambah lagi, dengan kenyataan adanya orang-orang yang mengaku bergaul dengan Allah padahal suatu dusta, maka orang-orang rasionalis ini memandang semua pengalaman subjektif adalah bohong. Mereka tidak pernah mengalami perjumaan pribadi dengan Allah secara konkret. Memang mereka tidak hanyut dalam subjektivitas pengalaman pribadi yang bersifat mistis, tetapi tanpa disadari mereka juga hanyut dalam subjektivitas nalar. Tidak sesat dalam mistisis, tetapi sesat dalam rasionalis.

Biasanya, orang-orang yang lebih atau hanya menekankan nalar dalam berteologi semakin mencurigai pengalaman subjektif dengan Allah. Karena pengalaman pribadi dengan Allah tidak dapat disistematikakan. Mereka tidak tahu bahwa mengenal Allah dalam pengalaman konkret jauh lebih sulit dan mahal harganya daripada mengenal Allah di ruang perpustakaan dan ruang kuliah atau ruang pendalaman Alkitab. Banyak orang berpikir kalau mereka belajar teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi, mereka akan menemukan atau berjumpa dengan Allah. Ini pikiran yang salah. Di sekolah tinggi teologi, pasti mereka menemukan ilmu tentang Allah (teologi), tetapi belum tentu bertemu dengan Allah secara pribadi. Di seminari atau sekolah tinggi teologi, pasti mereka bertemu dengan pikiran Origenes, pikiran Tertulianus, pikiran Athanasius, pikiran Arius, pikiran Agustinus, pikiran, Thomas Aquino, pikiran Bultman, belum lagi pikiran Aristoteles, pikiran Socrates, pikiran Plato, dan banyak pikiran manusia lainnya.

Pertemuan dengan Allah adalah sesuatu yang berbeda dengan memahami pikiran manusia dalam bentuk ajaran, doktrin dan berbagai karya ilmiah dari buah pikiran manusia. Karena tidak menyadari hal ini, bisa ditemukan banyak orang-orang yang lulus seminari atau sekolah tinggi teologi merasa sudah mengenal Allah lebih baik dari mereka yang tidak menerima pendidikan seperti mereka. Biasanya, mereka sudah merasa sebagai agen yang dapat dimintai keterangan mengenai Allah. Padahal, mereka hanya memiliki pengenalan akan Allah secara literal, dan hal tersebut tidak mengubah manusia sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dalam dunia media sosial hari ini, orang-orang yang rasionalis itu bisa tampil dengan mudah, dan mempertontonkan diri sebagai orang yang bisa memberi keterangan mengenai siapa dan bagaimana Allah itu. Mereka memberi kesan bahwa dengan logika, orang bisa menjumpai Allah. Dengan cara demikian, mereka membatasi dirinya sendiri dan orang yang mereka dengar untuk masuk “wilayah Allah” secara konkret dalam meditasi dan pergaulan setiap hari.