Suasana Kerajaan Surga
09 January 2019

Tidak banyak orang -termasuk orang-orang Kristen- yang bisa membangun dan memiliki atmosfer suasana Kerajaan Allah didalam hidup ini. Padahal seharusnya semua orang percaya bisa mengalaminya dan memilikinya. Firman Tuhan mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang kepada kita, itu berarti suasana atau atmosfer Kerajaan Allah sudah dapat dirasakan (Luk. 11:20). Ini bukan Kerajaan Allah secara fisik atau harafiah. Kerajaan Allah secara fisik baru dinyatakan ketika Tuhan Yesus datang kedua kali. Kerajaan Allah yang dimaksud dalam pembahasan ini maksudnya adalah suasananya. Paulus dalam Roma 14:17 mengatakan: Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman,tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Inilah suasana Kerajaan Allah yang bisa dan seharusnya dialami oleh orang percaya.

Suasana Kerajaan Allah dapat dihadirkan dalam kehidupan seseorang yang hidup di dalam kebenaran. Kata kebenaran di sini adalah dikaiosune (δικαιοσύνη), artinya adalah kebenaran yang bertalian dengan perilaku atau perbuatan. Orang yang hidup dalam kebenaran adalah orang yang berperilaku selalu sesuai dengan kehendak Allah, baik setiap kata yang diucapkan, gerak pikiran dan perasaan dan kelakuannya. Kebenaran yang dimaksud dalam ayat ini bukan kebenaran yang didasarkan pada hukum, tetapi kebenaran yang didasarkan pada moral atau kesucian Allah sendiri. Karena Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan kita, maka Roh Kudus akan memampukan orang percaya untuk mencapai kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Oleh sebab itu, mestinya orang percaya bisa mencapai kehidupan seperti yang dikemukakan di atas, yaitu hidup selalu dalam perkenanan Allah Bapa dan Tuhan Yesus, yaitu hidup dalam kebenaran (berkelakuan sempurna seperti Bapa), karena Roh Kudus menuntun orang percaya guna memahami isi Perjajian Baru atau Injil yang menyelamatkan. Dengan demikian orang percaya dapat mengalami pembaharuan pikiran. Pembaharuan pikiran yang berlangsungterus menerus akan membuka pengertian tanpa batas untuk memahami rahasia-rahasia Allah dan membangun kepekaan guna mengerti kehendak Allah Bapa, yaitu apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna(Rm. 12:2).

Orang yang hidup dalam atmosfer atau suasana Kerajaan Allah adalah orang yang hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Dalam Matius 5:20 Tuhan Yesus berkata: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kata “hidup keagamaan” dalam teks aslinya juga dikaiosune (δικαιοσύνη),sama seperti yang terdapat dalam Roma 14:17. Dengan demikian, tidak mungkin orang yang hidup dalam atmosfer atau suasana Kerajaan Allah tidak memiliki kelakukan yang luar biasa dalam kekudusan, atau sebaliknya, orang yang memiliki kebenaran sesuai dengan moral atau etika Allah pasti merasakan atmosferatau suasana Kerajaan Allah. Dengan demikian orang yang hidupnya tidak bersih, tidak mungkin dapat merasakan atmosfer atau suasana Kerajaan Allah.

Selanjutnya, orang yang hidup dalam suasana Kerajaan Allah adalah orang-orang yang memiliki damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus menunjukkan suasana jiwa yang positif yang tidak ditopang oleh fasilitas materi dan hiburan dunia ini. Juga tidak ditopang atau dipengaruhi oleh apa pun, tetapi oleh kehadiran Tuhan yang diwakili oleh Roh Kudus. Ini bukan sesuatu yang bersifat mistis, artinya bukan sesuatu yang dapat dirasakan tanpa pengertian, seperti misalnya tiba-tiba dapat merasakan kebahagiaan tanpa ada alasan dan dasarnya. Tetapi damai sejahtera dan sukacita ini dibangun juga oleh pengertian-pengertian terhadap kebenaran Firman Tuhan. Pengertian-pengertian oleh kebenaran Firman Tuhan dapat dimiliki seseorang oleh karena tuntunan Roh Kudus.

Damai sejahtera dan sukacita di sini tidak bisa dipisahkan dari dua hal: Pertama,kehadiran Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang diwakili oleh Roh Kudus. Dengan demikian, tidak mungkin seseorang bisa merasakan damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus tanpa persekutuan dengan Dia. Untuk itu yang kedua, seseorang harus hidup dalam kesucian Tuhan dengan karakter yang baik sesuai dengan kehendak Allah.Tidak mungkin seseorang dapat menikmati damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus tanpa memiliki karakter yang baik sesuai dengan kesucian Allah. Dalam hal ini, sebenarnya yang menentukan apakah seseorang menikmati damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus adalah karakternya sendiri. Kalau damaisejahtera dan sukacita oleh dunia dapat dinikmati setiap orang tanpa syarat-syarat tertentu, tidak demikian dengan damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus menyatakan:Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Pernyataan Tuhan Yesus di sini memuat satu maksud bahwa untuk menikmati damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus sangat bersyarat, tidak seperti damaisejahtera dan sukacita oleh dunia. Hanya orang yang hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah yang dapat menikmati damai sejahtera dan sukacita-Nya.