Standar Pengampunan yang Benar
17 February 2021

Play Audio

Dalam Lukas 7:47 dikatakan, “dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Ayat ini dapat menimbulkan pertanyaan besar, yakni: jika tidak berbuat kasih, apakah dosa tidak diampuni? Apakah pengampunan itu berdasarkan perbuatan (dalam hal ini perbuatan kasih) atau karena kasih karunia semata-mata? Banyak orang menganggap bahwa pengampunan diberikan secara cuma-cuma dalam kasih karunia Allah dan manusia tidak perlu berbuat apa-apa. Mereka sangat resisten apabila dikatakan manusia harus melakukan sesuatu dalam kasih karunia Allah. Manusia dipandang sudah sewajarnya pasif dan menerima karunia Allah karena ia telah jatuh dalam dosa dan rusak total. Apakah benar demikian?

Jika dikaitkan dengan Lukas 7:47, kalimat ini harus dipahami pada konteksnya. Kalimat ini diucapkan pada zaman dimana orang belum mengenal kurban Tuhan Yesus di kayu salib. Oleh karenanya, sangat dapat dipahami apabila perempuan berdosa dalam ayat tersebut dibenarkan karena perbuatan kasih yang dilakukannya. Sama seperti ketika Yesus mengajarkan hal kasih; “Ketika Aku lapar, kau berikan Aku makan; ketika Aku haus, kau berikan Aku minum.” Ini diajarkan kepada pendengar-Nya yang belum mengerti kurban salib. Jadi, kita harus memahami terlebih dahulu bahwa kalimat itu diucapkan sebelum Yesus memikul salib. Tetapi apakah kalimat itu tidak memiliki makna bagi kita hari ini? Pasti memiliki makna tersendiri bagi kita. Kita harus membayangkan, Tuhan sedang bicara kepada orang-orang yang tidak tahu sama sekali tentang salib, mereka hanya mengenal Yesus sebagai Guru. Ketika Tuhan juga berkata kepada orang-orang bahwa perbuatan baik mereka kepada orang-orang atau saudara mereka yang hina itu perbuatan untuk Tuhan, mereka hanya memahami sebatas itu. Itu bisa dikenakan kepada orang non-Kristen yang tidak pernah mendengar Injil atau salah mendengar Injil.

Jadi ketika Tuhan Yesus berkata, “dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih,” dan kita bandingkan dengan prinsip sola gratia, sekilas dapat terkesan bertentangan. Kita harus kembali pada konteks pendengar pada masa tersebut. Pendengarnya dalam konteks orang berpikir yang beragama Yahudi pada waktu itu belum tahu bahkan tidak tahu sama sekali adanya kurban tubuh Anak Domba Allah, yaitu Yesus di kayu salib. Jadi, kalimat di atas jelas diucapkan sebelum salib. Standar umat sebelum salib adalah melakukan hukum Taurat atau hukum yang tertulis di nuraninya (Rm. 2:15). Ukuran atau standar yang diukurkan kepadanya tentu tidak sama dengan umat yang telah ditebus oleh salib Kristus.

Terlebih dahulu kita harus membedah tujuan dari salib. Paling tidak, ada dua tujuan dari adanya salib, yakni: Pertama, salib memberikan penebusan. Dalam penebusan, ada pembenaran dimana semua orang dianggap benar meskipun belum berkeadaan benar. Mereka yang dianggap benar namun belum berkeadaan benar, akan masuk dalam tujuan kedua dari salib, yakni dikembalikan ke rancangan Allah semula (Kej. 1:26) atau serupa dengan Yesus. Pada akhirnya, tujuan keselamatan itu adalah serupa dengan Yesus. Jika serupa dengan Yesus yang menjadi tujuan atau isi keselamatan tidak tercapai atau tidak terselenggara, maka penebusan dan pembenaran adalah percuma. Sayangnya, banyak orang Kristen hanya sampai penebusan. Sudah dibenarkan, dianggap benar, dan yakin bisa masuk surga. Doa Bapa Kami memberikan kepada kita petunjuk yang sangat kuat: “Ampuni kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Jikalau kita tidak mengampuni orang, Tuhan juga tidak memberikan pengampunan-Nya. Ada semacam mekanisme pembatalan pengampunan yang jelas dan tidak boleh dibantah.

Kita harus memahami bahwa doktrin bersifat asumsi, sedangkan Alkitab adalah otoritas tertinggi. Jadi, selamanya kita harus menggali Alkitab dan berani mengoreksi ajaran yang sudah ada. Memang tidak selalu ajaran yang sudah ada pasti salah, tapi juga tidak selalu benar. Kalau Alkitab mengajarkan bahwa Allah bisa membatalkan pengampunan, itu sama dengan Allah membatalkan keselamatan. Maka kalimat “serupa dengan Yesus” ini penting sebagai tujuan keselamatan. Standar orang percaya ketika diampuni oleh Allah berbeda dengan orang dunia. Orang percaya harus hidup dalam standar anak-anak Allah, dimana diampuni oleh Allah berarti kesediaan untuk diperbaiki. Maka tidak heran jika dimandatkan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Kita dikehendaki hidup dalam standar perilaku yang agung dan mulia setelah diampuni. Barangsiapa yang menolak ini, ia menolak Dia yang berkata: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.”