Situasi Kritis
08 March 2019

Ketika seseorang ada di pembaringan terakhir, ia akan memikirkan hal kekekalan. Pada waktu itu yang dibutuhkan adalah orang-orang yang dipandang bisa memberi penjelasan, petunjuk, dan bimbingan bagaimana bisa masuk ke tempat yang baik dalam kekekalan. Pada waktu itu betapa penting dan dibutuhkannya pendeta atau pembicara yang selalu berbicara mengenai langit baru dan bumi yang baru. Namun, sudah terlambat! Seharusnya ia mempersoalkan langit baru dan bumi yang baru pada waktu masih sehat, dimana dirinya masih bisa pergi ke gereja belajar Firman dan terus menerus membenahi diri untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kalau sudah ada di pembaringan terakhir, hanya Tuhan yang dapat mendampingi, atau kuasa kegelapan yang menyeretnya menuju api kekal.

Sulit membayangkan bagaimana perasaan kita pada waktu ada di pembaringan terakhir. Keadaan atau situasi seperti itu sulit untuk bisa dibayangkan sekarang, sebab keadaan itu harus dialami langsung. Pikiran dan perasaan kita tidak mampu membayangkan situasi itu, tetapi yang jelas, situasi tersebut benar-benar mengerikan, yaitu kalau seseorang tidak membiasakan diri hidup dalam perkenanan Tuhan. Orang yang tidak hidup berkenan kepada Tuhan, pasti takut meninggal dunia atau tidak siap untuk melepaskan nyawa. Tidak siap melepaskan nyawa disebabkan karena tidak memiliki kepastian keselamatan. Kepastian keselamatan bukan hanya yakin bahwa dirinya akan diterima di kemah abadi Tuhan, tetapi memiliki pengalaman hidup yang riil bersama dengan Tuhan. Tentu saja orang yang berjalan dengan Tuhan adalah orang yang telah mempertaruhkan hidupnya untuk berusaha berkenan kepada Tuhan dan melayani Dia tanpa batas. Jika demikian, maka ia akan diterima di kemah abadi.

Sungguh sangat menyedihkan, banyak orang Kristen tertipu dengan ajaran yang tidak benar. Ajaran atau doktrin yang diajarkan adalah seakan-akan kalau seseorang sudah meyakini keselamatan -yaitu dengan percaya di dalam pikiran- maka dengan sendirinya atau secara otomatis pasti masuk surga. Pengajaran ini menunjukkan bahwa seakan-akan kekuatan pikiran, keyakinan pikiran, atau pengaminan akali dapat menyelamatkan seseorang. Orang-orang seperti itu menyederhanakan dan menganggap mudah keselamatan dalam Yesus Kristus. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak memiliki usaha secara proporsional untuk berjuang mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar guna mencapai kesempurnaan. Kalau dalam berbagai bagian dalam Alkitab dinyatakan bahwa keselamatan itu harus diperjuangkan (Flp. 2:12; Luk. 13:24; dan lain sebagainya), ini berarti respon terhadap anugerah bukan hanya dengan pikiran atau akal manusia. Harus ada tindakan konkret untuk menunjukkan percayanya.

Sejatinya, keselamatan bukan sekadar sebuah keyakinan, tetapi tindakan konkret. Keselamatan adalah pengalaman hidup yang konkret, dimana seseorang mengisi hari hidupnya untuk mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Orang percaya yang benar -yang memiliki keselamatan- pasti memiliki pengalaman yang nyata dengan Tuhannya, sehingga ia tidak meragukan sama sekali kehadiran Tuhan dalam segala keadaan. Ketika ia ada di pembaringan terakhir, ia tidak perlu berusaha untuk memercayai keberadaan Tuhan, sebab ia sudah sangat percaya dan tahu karena mengalami setiap hari bahwa Tuhan besertanya.

Pembaringan terakhir sebelum seseorang menutup mata adalah situasi yang paling dahsyat di antara situasi apa pun dan bagaimanapun yang pernah seseorang alami dalam kehidupan. Tidak ada pengalaman yang lebih menggetarkan di bumi ini lebih dari ketika seseorang hendak melepaskan nyawanya. Momentum transisi dari kefanaan menuju ke kekekalan adalah momentum yang sangat dahsyat. Situasi tersebut tidak akan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Saat ini tidak dapat kita bayangkan karena begitu dahsyatnya situasi tersebut (pernyataan ini hendaknya tidak dianggap sebagai hiperbola atau dilebih-lebihkan). Jangan main-main dalam hidup ini berkenaan dengan pertaruhan menentukan nasib kekal kita.

Kalau hanya situasi ekonomi ambruk sehingga jatuh miskin, kegagalan studi, kegagalan rumah tangga, dan lain sebagainya tidaklah sebanding dengan situasi itu. Situasi ketika seseorang hendak bersentuhan dengan kekekalan, sementara ia tidak siap mengadakan perjalanan menuju kekekalan adalah situasi yang sangat mengerikan. Kengerian dan ketakutan dalam situasi tersebut pasti tidak pernah dialami sebelumnya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar kita tidak takut terhadap apa pun yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membuang ke dalam api kekal. Kita harus lebih takut kepada Dia yang bukan saja berkuasa membunuh tubuh, tetapi juga berkuasa membuang jiwa ke neraka. Dalam hal ini bisa kita mengerti mengapa Yesus berkata agar orang percaya harus mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, sebab kalau tidak didahulukan maka tidak pernah berkesempatan untuk menemukannya selamanya. Ini berarti tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan terbuang ke dalam api kekal.