Seorang Penggubah
28 April 2017

Pada dasarnya setiap orang bertanggung jawab sebagai penggubah bagi dirinya sendiri. Setiap orang akan menciptakan sejarah bagi dirinya sendiri, bukan saja sejarah dalam hidupnya selama ia ada di dunia ini, tetapi juga menciptakan sejarah hidupnya dalam kekekalan. Ibarat sebuah buku sejarah, masing-masing individu menoreh tinta di buku kehidupannya. Hal ini merupakan goresan sejarah masing-masing individu yang memiliki nilai permanen. Tinta kehidupan tersebut adalah pilihan demi pilihan, keputusan-keputusan yang diambil dan segala tindakan yang dilakukan berdasarkan pilihan dan keputusan-keputusan tersebut. Buku sejarah kehidupan masing-masing merupakan prestasi yang memiliki nilai kekal. Gemanya tidak pernah berhenti di keabadian. Ini merupakan sesuatu yang menggetarkan jiwa. Dalam hal ini kita memahami mengapa Firman Tuhan menasihati kita agar kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia ini. Ketakutan yang menciptakan sikap hati-hati.

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa ada kuasa di luar diri kita yang menggerakkan tangan untuk menulis. Tulisan itu sepenuhnya tergantung dari diri sendiri. Tuhan memberi kebebasan masing-masing individu menentukan isi buku sejarah hidupnya. Jika tidak demikian, maka tidak ada realitas ganjaran berupa penghargaan atau hukuman. Suatu hari nanti setiap kita dapat membaca buku sejarah masing-masing itu, dan isinya ditentukan masing-masing individu. Tidak ada orang yang bisa berdalih bahwa segala sesuatu itu terjadi bukan karena dirinya. Setiap orang akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Dalam hal ini hendaknya kita tidak berkata bahwa takdirlah yang menjadi penggubah hidup kita. Jika seseorang menuduh takdir sebagai pelakunya, maka secara tidak langsung Tuhanlah yang tertuduh sebagai biang keladi segala sesuatu, baik kemiskinan, sakit penyakit, kegagalan karir, kegagalan berumah tangga dan sampai penderitaan umat manusia di api kekal nanti. Tuhan semesta alam bukanlah Pribadi seperti itu. Konsep takdir mutlak, bahwa segala sesuatu yang terjadi telah dipersiapkan sebelumnya, merupakan konsep yang tidak mengakui bahwa manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dalam kehidupan ini Tuhan membawa dirinya dengan manusia masuk dalam suatu kancah “rule of the game”, bahwa manusia diberi pilihan bebas untuk menentukan keadaannya. Tanpa fakta ini maka tidak perlu ada penghakiman dan pertanggungjawaban setiap individu di pengadilan Allah.

Di sinilah hidup menjadi bernilai dan mestinya dipahami sebagai sangat menarik, sebab manusia dimasukkan ke dalam kancah realitas kehidupan yang dahsyat. Segala sesuatu yang dilakukan masing-masing orang tercatat dan memiliki nilai kekal (Why. 20:11-12). Tindakan kita hari inilah yang dapat menyelamatkan kita dari api kekal. Hal ini jangan disimpangkan dengan pemikiran bahwa Tuhanlah yang akan menghindarkan kita nanti dari api kekal. Tuhan sudah menghindarkannya dengan kematian-Nya di kayu salib, tetapi apakah seseorang meresponi anugerah tersebut atau tidak, tergantung pilihan masing-masing individu. Kalau seseorang tidak mau menjadi penggubah dirinya dalam Firman Kristus atau Injil berarti ia membinasakan dirinya.

Tuhan memberikan kemampuan kepada masing-masing individu untuk menggubah hidupnya. Dalam kisah-kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam Alkitab seharusnya ada hal-hal yang tidak perlu terjadi dalam kehidupan mereka yang mendatangkan bencana bagi dirinya dan bagi orang lain. Sebenarnya Kain bisa menghindarkan diri sebagai pembunuh, Saul seharusnya tidak terlempar dari takhtanya, Daud seharusnya tidak membuat dirinya terusir sementara waktu dari istana dan dipermalukan di depan umum, Hizkia seharusnya tidak menjadi penyebab dirampasnya kekayaan istana dan perkakas Bait Allah, Yudas seharusnya bisa tidak menjadi pengkhianat dan lain sebagainya.

Sebagai anak Tuhan kita bisa menjadi penggubah hidup kita, menjadi manusia rohani atau man of God, berdasarkan atau bermodalkan anugerah yang Tuhan berikan. Orang percaya diperhadapkan kepada pilihan apakah dunia menggubah dirinya atau dirinya sendiri. Ketika Paulus oleh ilham Roh mengatakan bahwa kita harus mengalami pembaharuan pikiran, hal itu dimaksudkan agar kita menjadi penggubah bagi diri kita sendiri. Kalau tidak, maka yang terjadi adalah dunia yang menggubah dirinya. Dunia menggubah diri seseorang tentu juga melalui diri orang tersebut, yaitu ketika pikirannya tidak digubah oleh kebenaran Tuhan, maka dunialah yang menggubah pikirannya terus menerus sehingga serupa dengan dunia ini.