Sempurna Dalam Kesucian
07 November 2019

Pembahasan tentang kesempurnaan tidak dapat lepas dari kesucian. Apakah sebenarnya “kesucian” itu? “Kesucian,” dari akar kata “suci,” dalam bahasa Indonesia bisa berarti: bersih, bebas dari dosa, tidak bersalah, tidak bernoda, tidak bercela, dan murni. Sinonim dari kata “suci” adalah “kudus.” Memahami kesucian dari perspektif kekristenan harus didasarkan pada apa yang dikemukakan Alkitab. Dalam kekristenan, “kesucian” menunjuk pada keadaan di mana seseorang dapat bersekutu dengan Allah karena berkeadaan sesuai dengan kesucian Allah. Ini bukan hanya keadaan tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum, tetapi memiliki keadaan diri di mana seseorang bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, melainkan juga kesucian batiniah. Kesucian ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan amoral yang kelihatan, melainkan juga suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20).

Kesempurnaan dalam kesucian bukanlah fantasi sebab kesempurnaan dalam konteks kehidupan orang percaya memiliki ukuran Tuhan sendiri. Kalau Tuhan adalah pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, ukuran kesempurnaan juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi atau halusinasi. Orang yang tidak mengakui adanya kesempurnaan yang berdasarkan perspektif Allah bisa mendekati keadaan ateis, artinya ia tidak mengakui keberadaan Allah. Orang Kristen seperti ini tidak berusaha untuk berinteraksi dengan Allah untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Mereka dapat membuat rumusan, definisi, kajian dan doktrin-doktrin teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah secara pribadi. Ironisnya, justru kelompok ini adalah mereka yang belajar teologi dan menjadi pengajar di sekolah-sekolah teologi dan bahkan menjadi pejabat sinode di dalam gereja.

Banyak orang Kristen tidak mau mengerti bahwa orang percaya dipanggil untuk sempurna dalam kesucian. Sempurna dalam kesucian di sini adalah kehidupan yang bersih dalam ukuran manusia sesuai dengan yang ditargetkan atau dikehendaki Allah untuk dicapai seseorang. Kesempurnaan dalam kesucian masing-masing individu tentu saja sesuai dengan kapasitas yang dapat dicapai oleh masing-masing individu tersebut. Dalam hal ini, setiap komunitas dan individu memiliki tuntutan yang berbeda. Bagi umat pilihan Perjanjian Lama, mereka hanya dituntut untuk melakukan Hukum Taurat dengan sebaik-baiknya atau sesempurna mungkin. Namun untuk umat pilihan Perjanjian Baru, mereka dituntut untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Standar kesucian umat Perjanjian Baru bukan Hukum, melainkan Tuhan sendiri. Itulah sebabnya orang percaya harus berprinsip, “Tuhan adalah hukumku.”

Oleh sebab itu, orang percaya harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Orang percaya harus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan menemukan penilaian Allah terhadap dirinya. Orang percaya yang benar selalu “menggelar perkara” di hadapan Allah. Perkara yang digelar adalah dirinya sendiri, yaitu apakah keadaan dirinya sudah berkenan di hadapan Allah atau belum. Orang percaya yang menggelar perkara di hadapan Allah selalu mempersoalkan, “Apakah ada hal-hal yang Tuhan kehendaki yang masih belum dilakukan atau apakah keberadaan orang percaya tersebut sudah memuaskan hati Allah atau belum?” Dalam hal ini, orang percaya harus belajar dari pemazmur yang meminta kepada Tuhan agar Tuhan menyelidiki dirinya. Maksud hal tersebut adalah untuk menemukan apakah jalannya serong atau menyimpang (Mzm. 139:23-24). Koreksi diri ini harus menjadi irama hidup dan kebiasaan setiap hari.

Dalam pergumulan hidup orang percaya untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya, pusat hidupnya bukanlah hukum yang tertulis, tetapi Allah sendiri. Dengan demikian, orang percaya, tidak bisa tidak, harus menjadi teosentris, bukan antroposentris. Teosentris di sini berarti menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, dimana orang percaya hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Yesus adalah model atau prototipe atau purwarupa manusia yang memiliki kesempurnaan dalam kesucian Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, orang percaya memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya

dengan perjuangan untuk sempurna dalam kesucian. Orang percaya harus menghabiskan sisa umur hidupnya hanya untuk menyelesaikan dengan sempurna kesucian hidupnya yang berstandar Yesus. Bagi mereka yang sisa umur hidupnya tinggal beberapa tahun, ia sejatinya harus lebih memiliki perasaan krisis, yaitu bagaimana memanfaatkan waktu yang ada untuk mencapai kesempurnaan dalam kesucian.