Selalu Melalui Proses
26 June 2018

Pada umumnya orang meyakini dan memahami cara Allah mengeraskan hati atau melembutkan hati seseorang,yaitu dengan cara berintervensi ke dalam jiwa manusia, dan mengeraskan hati atau melembutkannya. Fenomena seperti inidapat disebut fenomena spektakuler atau bisajuga bersifat mistis.Dengan demikian, menurut mereka, banyak tindakan Tuhan yang tidak bisa dimengerti, karena tindakan-tindakan-Nya di luar kemampuan manusia memahaminya. Jika hal ini benar, berarti keadaan jiwa manusia adalah sesuatu yang dapat diubah dalam sekejap tanpa mekanisme, tatanan, dan aturan yang jelas. Pada kenyataannya (fakta empiris), dalam kehidupan ini, perubahan yang berkaitan dengan karakter atau watak selalu melalui proses; sangat tidak mungkin orang bisa menjadi baik secara mendadak atau menjadi jahat secara mendadak pula. Bila ada yang bisa menjadi keras hati secara mendadak, ini yang disebut sebagai mistis.

Hal-hal yang bersifat mistis dan transenden ini adalah hal-hal yang sudah terbiasa menghiasi kehidupan orang beragama. Tidak heran kalau ada doa yang berbunyi: “Ubah hatiku Tuhan”. Mereka berharap secara mistis ajaib hatinya bisa berubah oleh kuasa Tuhan. Jika ini bisa terjadi, maka Tuhan tidak perlu memberi Amanat Agung-Nya kepada orang percaya untuk memuridkan orang percaya, tidak perlu adanya pembaharuan pikiran dan proses pendewasaan. Tuhan tidak bekerja secara demikian dalam mengubah karakter atau watak seseorang. Tuhan mengubah manusia selalu melalui proses, demikian pula dengan iman yang bisa timbul di hati seseorang. Tidak timbul secara mistis, tetapi ada pemberitaan Firman yang harus didengar, dan masing-masing individu harus meresponinya secara benar. Dalam perubahan karakter dan kehidupan iman, respon seseorang terhadap anugerah Allah harus dimainkan secara benar, artinya intensif dan berkesinambungan. Tidak seperti sebuah titik, tetapi seperti sebuah garis panjang. Dalam hal ini ketekunan seseorang sangat berperan.

Perjumpaan Nikodemus dengan Tuhan Yesus tidak menghasilkan iman di hati pemimpin agama ini. Jarang Tuhan memberi waktu dan kesempatan yang berharga untuk seorang tokoh agama Yahudi seperti kepada Nikodemus ini (Yoh. 3). Walaupun Tuhan Yesus sudah melakukan percakapan langsung dengan Nikodemus, dan mengajak atau menghimbau Nikodemus untuk mengalami kelahiran baru, tetapi Nikodemus menolaknya (Yoh. 3:7). Ini bukan karena Tuhan tidak menggerakkan hati Nikodemus untuk percaya dengan benar. Dalam hal ini, kelahiran baru bukan sesuatu yang dikerjakan Tuhan secara sepihak, harus ada respon individu.

Respon negatif seperti Nikodemus juga ditunjukkan oleh orang kaya dalam Matius 19, sehingga tidak menghasilkan kelahiran baru yang menyelamatkan. Tuhan sudah memberi kesempatan mengadakan percakapan, tetapi orang kaya itu tidak memberi ruang hidupnya bagi Tuhan. Orang kaya ini menolak menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus. Ia menolak bukan karena hatinya dikeraskan, tetapi karena ia tidak bersedia melepaskan hartanya (Mat. 19:22). Ia pergi dengan sedih karena tidak beroleh hidup kekal, ia lebih memilih hartanya.

Berbeda dengan perjumpaan Saulus (Paulus) dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik -ketika Paulus memburu orang Kristen untuk dianiaya- menghasilkan iman dan pertobatan yang benar (Kis. 9). Tentu hal ini tidak disebabkan oleh adanya faktor-faktor di luar diri Saulus, seperti misalnya Tuhan berintervensi ke dalam jiwa Saulus. Firman Tuhan tidak menulis bahwa Tuhan yang menggerakkan hati Saulus (Paulus) untuk bertobat dan meresponi Tuhan Yesus dengan respon yang benar. Paulus sendiri yang meresponi tindakan Tuhan dengan respon positif, tentu dari dalam dirinya sendiri. Inilah kehendak bebas tersebut.

Latar belakang seseorang juga menentukan responnya terhadap Tuhan dan tindakan nya.Saulus seorang pecinta Yudaisme yang fanatik. Ia berusaha membela Allah (Elohim Yahweh) dengan segenap hati. Tidak segan-segan melakukan pembantaian dan pembunuhan terhadap sekte-sekte yang dianggap menciderai Elohim Yahweh. Pengikut Yesus dianggap sebagai komunitas yang menciderai Yahweh. Itulah sebabnya ia berusaha memunahkannya. Ia dengan tulus membela Allah (Yahweh) yang diyakini sebagai satu-satunya Allah yang benar yang disembah nenek moyangnya. Saulus tidak munafik. Saulus memiliki integritas yang baik, tetapi dalam ketidaktahuan terhadap kebenaran. Ia tidak tahu bahwa yang dilawan adalah Yahweh sendiri. Itulah sebabnya Allah memberikan tindakan khusus kepadanya. Selanjutnya, ketika Paulus mengikut jalan Tuhan, ia tidak takut menghadapi pengucilan, aniaya bahkan kematian. Hal ini menunjukkan integritasnya yang sangat baik.

Berbeda dengan Nikodemus yang satu sisi masih mau memiliki kehormatan sebagai pemimpin agama (Yudaism), tetapi di pihak lain ia juga mengakui kebenaran Rabi dari Nazareth yang dicap oleh para pemimpin agama Yahudi sebagai sesat. Ia bermuka dua. Tidak bersedia menerima Yesus sebagai utusan Allah secara konsekuen, tetapi juga tidak menolak-Nya. Ini sikap berkhianat terhadap komunitasnya sendiri. Nikodemus sosok orang yang tidak memiliki integritas. Ia mendengar langsung apa yang diajarkan Tuhan Yesus, tetapi ia tidak memercayai dengan sikap percaya yang benar. Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa keadaan individu yang melahirkan keputusan, yang menentukan nasib atau keadaan seseorang.