Seirama Dengan Roh
23 September 2020

Play Audio Version

Dalam 2 Korintus 5:19-20 tertulis: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”

Berdamai dengan Allah sama artinya dengan hidup dalam persekutuan yang seimbang dengan Allah. Standar perdamaian dengan Allah tidak cukup dengan memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah dengan keadaan standar demikian, padahal mereka belum berdamai secara benar. Mereka belum berdamai secara lengkap atau utuh karena mereka tidak ada keseimbangan dengan Allah, padahal sudah waktunya seseorang memiliki level kekudusan yang memadai untuk bisa memiliki perdamaian dengan Allah.

Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:13-17 agar orang percaya hidup dalam kekudusan. Di balik firman tersebut, Allah menghendaki keseimbangan antara diri-Nya dengan umat. Hal ini paralel dengan 2 Korintus 6:17-18 agar orang percaya keluar dari pergaulan yang jahat dan tidak menyentuh apa yang najis. Dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Allah. Itulah sebabnya, dalam Galatia 5:25 dikatakan bahwa kalau kita telah hidup oleh roh, hendaknya kita dipimpin oleh Roh. Dalam teks aslinya tertulis: ei zomen pneumati, pneumatic kai stoikomen (Εἰ ζῶμεν πνεύματι, πνεύματι καὶ στοιχῶμεν). Dalam teks KJV diterjemahkan: if we live in The Spirit, let us also walk in The Spirit. Dalam teks Vulgata: si vivimus spiritu spiritu et ambulemus. Stoikhomen berarti “berjalan seirama.” Kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya.

Orang yang tidak berjalan seirama dengan Roh Kudus pasti hidup dalam daging. Orang yang hidup menurut daging berarti tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, ia tidak dapat disebut sebagai anak Allah (Rm. 8:14). Cara berpikir manusia yang tidak dipimpin Roh tidak bisa sinkron dengan cara berpikir Allah. Dalam hal ini, manusia tidak bisa mencapai kesucian Allah, artinya tidak mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bisa dipahami, jika seseorang ada dalam keinginan daging, maka segala sesuatu yang dilakukan bertentangan dengan pikiran dan perasaan Roh Kudus. Walaupun tindakan atau perilakunya baik dan tidak melanggar norma umum di mata manusia, tetapi tidak mencapai standar kesucian Allah. Allah tidak berkenan kepada mereka yang hidup menurut daging.

Orang yang hidup dalam daging adalah orang yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Di zaman Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dengan hidup atau berperilaku selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Memiliki pikiran dan peasaan Kristus sama artinya memiliki roh Kristus. Hal ini sama dengan hidup menurut roh. Inilah yang diusahakan Paulus bahwa dengan sungguh-sungguh ia menaklukkan akal budinya kepada hukum Allah, sekalipun ia masih mengenakan tubuh yang terikat dengan kodrat dosa (Rm. 7:25). Hukum Allah di sini merupakan kebalikan dari hukum dosa (hamartia). Jadi, hukum dosa (hamartia) menunjuk kepada kodrat dosa, sedangkan hukum Allah dalam konteks ini menunjuk kepada kodrat ilahi atau standar kesucian Allah.

Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, melainkan hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah kita secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga kita memiliki roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus.

Setiap orang percaya pasti mengalami proses ini. Bagi mereka yang menerima pimpinan Roh Kudus, akan memperoleh roh yang seirama dengan roh itu, tetapi mereka yang tidak merespons penggarapan Tuhan melalui pimpinan Roh-Nya, tidak akan mengenal keselamatan yang membawa mereka kepada rancangan Allah semula. Mereka tidak akan pernah mengenal hidup menurut Roh. Tidak pernah mengenal mengenakan kodrat ilahi.

Dengan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau hidup dalam pimpinan Roh, maka seseorang mampu hidup seperti hidup yang telah dijalani oleh Yesus. Dengan demikian, Roh Kudus diam (oikeo) dalam kehidupan orang tersebut. Jika hal ini terjadi, maka orang tersebut memiliki roh Kristus. Orang yang memiliki roh Kristus adalah milik Kristus. Sebaliknya, seorang yang tidak hidup dalam pimpinan roh, pasti tidak dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Mereka juga pasti tidak memiliki hasrat atau gairah Kristus. Orang-orang seperti ini tidak mungkin dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.