Sehakikat Dengan Allah
29 December 2016

Walaupun Roh Kudus disebut sebagai Roh Allah juga, tetapi bagaimanapun Roh Kudus tidak sama dengan Pribadi Bapa dan tidak sama dengan Pribadi Anak. Mengapa? Sebab Roh Kudus adalah perwakilan dari lembaga Allah (Elohim) yang esa. Oleh karena Roh Kudus adalah perwakilan dari Allah, maka Roh Kudus sehakikat atau sama hakikat dengan Allah (Elohim). Oleh sebab itu orang percaya harus menanggapi, menerima dan memperlakukan Roh Kudus sebagai Pribadi yang hidup dan menghormati-Nya sebagaimana menghormati Allah Bapa dan Allah Anak.

 

Seseorang yang tidak menghormati Roh Kudus berarti sama dengan tidak menghormati Allah Bapa dan Allah Anak. Oleh sebab itu orang percaya setiap kali berperkara atau berurusan dengan Roh Kudus harus melandasi diri dengan pemahaman bahwa dirinya sedang berurusan dengan Allah Bapa dan Allah Anak sendiri. Sebaliknya, setiap kali berurusan dengan Allah Bapa dan Allah Anak, orang percaya harus menghayati bahwa Allah hadir melalui atau di dalam Roh Kudus. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Roh Kudus adalah representasi lembaga Allah (Elohim) yang esa. Dengan penjelasan ini maka keberadaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus mudah dipahami oleh pikiran manusia. Jika hal ini dipahami dengan seksama, maka dalam memahami Allah Tritunggal tidak membutuhkan gambaran atau ilustrasi bermacam-macam yang makin mengacaukan kebenaran mengenai Allah Tritunggal.

 

Dalam sepanjang Alkitab dapat ditemukan tindakan Allah Bapa dan Anak sebagai Pribadi yang bisa terpisah. Klimaksnya adalah ketika Tuhan Yesus menjadi manusia (Flp. 2:5-7). Tuhan Yesus benar-benar terpisah dari Allah Bapa, Ia menjadi manusia yang memiliki resiko terpisah untuk selamanya. Tuhan Yesus sendiri di atas salib juga menyatakan bahwa Bapa- Nya meninggalkan diri-Nya (Mrk. 15:34). Perpisahan Pribadi dengan Bapa ini membuka kemungkinan Tuhan Yesus memiliki kehendak yang berbeda dengan Bapa. Hal ini sangat berbeda dengan Roh Kudus. Tidak pernah Roh Kudus atau Roh Allah bergerak tanpa melakukan apa yang Allah inginkan. Ia tidak pernah berdiri sendiri. Ia hanya melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Dalam Perjanjian Baru, Ia menjadi utusan Bapa dan Tuhan Yesus.

 

Sejatinya, Roh Kudus adalah kuasa dari Allah yang berpribadi yang melingkupi jagad raya. Oleh karena tidak kelihatan, seperti angin, maka disebut sebagai Roh (Ibr. ruakh; רוּח )ַ. Tidak ada tempat yang tidak dalam lingkupan Roh Allah atau Roh Kudus (Mzm. 139:5-9). Itulah sebabnya Allah disebut sebagai Mahahadir. Namun perlu dicatat di sini, bahwa kehadiran Allah bukan berarti kehadiran Pribadi Allah sendiri Yang Mahakudus. Ia selalu bersemayam di surga (Mzm. 2:4; 14:2; 33:13; 53:3; 1-3:19 dan lain-lain).

 

Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajar mengucapkan kalimat: Bapa kami yang di surga. Ini menunjukkan bahwa Pribadi Bapa tidak ada di mana-mana, Ia ada di surga. Tetapi kehadiran-Nya ada di mana-mana melalui Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus selain merupakan representasi dari Allah Bapa, juga representasi dari Allah Anak -setelah Allah Anak kembali ke tempat semula setelah kebangkitan-Nya- yaitu duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dalam hal ini Roh Kudus sebagai fasilitas milik Allah Bapa dan Allah Anak yang melingkupi jagad raya.

 

Sebenarnya dengan keberadaan Pribadi Allah Bapa dan Allah Anak di surga sedangkan Roh Kudus melingkupi jagad raya melaksanakan kehendak dan rencana-Nya, menunjukkan keunggulan atau supremasi Allah dibanding berbagai dewa-dewa yang “mengembara” dan “bergelandangan” di banyak tempat lain. Bagaimanapun ada takhta Allah yang berbeda tempat dan tingkatan dengan makhluk ciptaan. Jadi kalau Tuhan Yesus menambahkan Bapa di surga, hal itu adalah untuk membedakan Bapa yang benar yaitu yang di surga dan bapa yang tidak ada di surga. Bapa adalah Pribadi yang memiliki tempat tertentu yang permanen. Kalau Bapa yang memiliki tempat, maka Ia berkuasa memerintah dan berdaulat atas semesta alam tiada batas ini.