Sebelum Menutup Mata
08 July 2019

Berbuah artinya memiliki hati yang suka melakukan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus. Hal ini harus menjadi keberadaan secara permanen, bukan sekadar sesaat, artinya ada saat-saat tertentu ingin melakukan kehendak Tuhan, tetapi di saat lain tidak ingin melakukan kehendak Allah. Keberadaan permanen di sini sama artinya dengan menjadi kodrat yang telah menyatu dalam kehidupan seseorang dan tidak dapat terpisah lagi untuk selamanya. Kesukaan melakukan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus harus menyatu dalam kehidupan orang percaya yang terus dibawa sampai kekekalan. Inilah sebenarnya prestasi abadi yang berharga di hadapan Bapa dan Tuhan Yesus. Berbicara mengenai sikap hati, hal ini menunjuk kepada sesuatu yang sifatnya pribadi. Masing-masing individu dapat menggerakkan hatinya untuk mengasihi Tuhan atau menolaknya.

Tuhan mau menemukan pribadi-pribadi yang memiliki hati yang selalu ingin menyukakan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Dengan demikian selama hidup di dunia ini orang-orang tersebut akan berusaha memenuhi atau menunaikan apa yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Dalam hal ini setiap orang memiliki keadaan istimewa dan Tuhan memiliki rancangan khusus bagi orang tersebut untuk dipenuhi. Hendaknya orang percaya tidak pulang ke rumah kekal sebelum tahu persis bahwa dirinya sudah melakukan dengan baik kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Tentu saja dalam hal ini seorang anak Allah harus memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak-Nya dan menemukan rencana-Nya dalam hidupnya pribadi.

Untuk memiliki kepekaan ini seseorang harus dicerdaskan oleh Firman Tuhan. Dalam hal ini mendengar “suara kebenaran” barulah langkah pertama untuk bisa berbuah, sebab akhirnya Tuhan bukan hanya menghendaki kita menjadi pendengar, tetapi juga memberi atau menghasilkan buah. Kalau langkah pertama sudah tidak dilakukan -yaitu mendengar Firman Tuhan yang diajarkan Tuhan Yesus- bagaimana bisa berbuah? Banyak orang Kristen yang tidak mendengar Firman Tuhan yang benar. Sehingga tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Tuhan. Bisa dimengerti kalau mereka tidak pernah menghasilkan buah. Memang mereka masih bisa menjadi orang baik-baik, tetapi dalam hidup ini mereka hanya memenuhi keinginan dan cita-citanya sendiri, tetapi mereka belum mencapai standar hidup seperti Yesus yang miliki, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya.

Sebelum seseorang menutup mata untuk selamanya, seharusnya ia sudah mengerti apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan dan rencana Allah untuk dipenuhi. Jika hal ini belum dilakukan berarti pasti tertolak dari hadirat Allah (Mat. 7:21-2). Untuk ini segala kebutuhan lain harus dianggap tidak penting, sebab kalau seseorang masih menganggap sesuatu sangat penting dan mutlak harus dicapai, maka hal mengerti kehendak Allah tidak akan mendapat tempat dan porsi yang semestinya. Orang percaya harus berani mengesampingkan segala sesuatu yang tidak mendukung langkahnya dalam melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencana-Nya. Sehingga dalam hidup ini, orang percaya tidak memiliki kepentingan apa pun selain melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Dalam Lukas 8:15, tertulis: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Patutlah kita perhatikan kalimat “mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Kalimat ini menunjukkan walaupun seseorang mendengar Firman Tuhan yang benar, tetapi kalau tidak bertekun, maka juga tidak akan dapat berbuah. Kata “ketekunan” dalam teks aslinya adalah hupomone (ὑπομονή), yang berarti dengan sabar bertahan. Dalam hal ini, untuk bertekun seseorang harus berusaha untuk bertahan terus menerus menghadapi tekanan, sebab Iblis berusaha agar orang percaya tidak berbuah. Salah satu usaha Iblis -selain ditutupnya kebenaran Firman yang benar- juga mewarnai jiwa anak-anak Bapa dengan percintaan dunia.

Oleh sebab itu setelah memahami kebenaran ini, haruslah mulai kita persoalkan: Apakah kita telah sungguh-sungguh memiliki hati yang suka dan rela melakukan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus? Dalam hal ini kualitas buah yang dihasilkan masing-masing orang berbeda, ada yang matang dan tentu ada yang belum matang. Dalam Injil Matius 13 perumpamaan yang sama menunjukkan bahwa buah yang dihasilkan berbeda-beda, ada yang tiga puluh, enam puluh, dan seratus kali lipat. Marilah kita mengarahkan hidup kita untuk menghasilkan buah dalam ketekunan. Buah di sini adalah kehidupan seperti Yesus. Sehingga kita dapat memenuhi kehendak dan rencana-Nya. Sesungguhnya nilai kehidupan orang percaya tergantung dari hal ini: Apakah dalam seluruh perilaku hidupnya sudah menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus?