Satu-satunya Yang Berharga
27 July 2020

Play Audio Version

Biasanya, orang-orang Kristen yang hanya pada tingkat beragama, cukup puas dengan kelengkapan liturgi dan pengetahuan tentang Allah atau teologi yang dimilikinya. Pengetahuan Alkitab atau teologi dan liturgi mestinya tidak boleh menggantikan perjumpaan dengan Allah dalam kehidupan seseorang yang berjalan bersama dengan Allah setiap saat secara konkret. Selama ini, faktanya liturgi dan pengetahuan tentang Allah atau teologi menggantikan ruangan perjumpaan riil dengan Allah yang harus dialami oleh setiap orang percaya. Hal ini berpotensi besar—dan faktanya demikian sudah terjadi—dimana agama atau kegiatan kerohanian menjadi bisnis atau lahan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, liturgi dan teologi bisa dijual atau menjadi komoditas guna memperoleh keuntungan. Mestinya, liturgi dan teologi (tentu teologi yang benar) menjadi salah satu kendaraan seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah. Tetapi kalau liturgi dan teologi menjadi tujuan, maka Allah tidak pernah dijumpai. Allah hanya menjadi wacana dan fantasi orang beragama.

Kedalaman hubungan atau keintiman hubungan dengan seseorang tergantung intensitas hubungan kita dengan orang tersebut, dengan segala kepentingan yang terkait di dalamnya. Semakin intim atau dekat kita dengan seseorang, kita semakin masuk wilayah hidup orang itu; atau sebaliknya, ia semakin masuk ke wilayah hidup kita. Demikian pula skema hubungan kita dengan Allah. Semakin kita memiliki keintiman atau kedekatan dengan Allah, kita semakin masuk wilayah hati Allah. Tentu hal ini terjadi kalau kita membuka ruangan atau wilayah hidup kita untuk Dia secara proporsional. Faktanya, tidak banyak orang yang memiliki keintiman dengan Allah, sebab mereka tidak membuka ruangan hidupnya secara patut bagi Dia. Orang yang menyediakan ruangan yang terbatas untuk Allah, tidak akan pernah memiliki hidup dalam normalitas sebagai orang percaya yang benar. Seharusnya, orang percaya menyerahkan seluruh wilayah atau ruangan hidupnya hanya untuk Allah.

Banyak orang lebih membuka ruangan hidup atau wilayah hidupnya untuk kesenangan menikmati fasilitas materi dunia dengan segala hiburannya. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup adalah orang yang membuka wilayah hidupnya untuk Tuhan. Kalau yang dibuka hanya sebagian, maka Tuhan tidak akan masuk (kecuali memang orang tersebut belum dewasa). Tatanannya adalah bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan; kita memberikan seluruh hidup kita atau tidak sama sekali (Mat. 6:24). Tidak ada “paket” boleh memberikan sebagian hidup kita untuk Tuhan. Allah adalah Allah yang berdaulat. Ia menghendaki agar kita hidup dalam kedaulatan-Nya secara mutlak. Tentu hal ini tidak dipaksakan. Kita harus dengan rela memberi diri hidup dalam kedaulatan Allah secara mutlak agar kita bisa menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya, dan menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang terhormat di dalam hidup.

Sesungguhnya kesempatan untuk “masuk wilayah Allah”—artinya memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah—adalah suatu kehormatan. Hal ini mempersiapkan kita untuk masuk Rumah Bapa. Kita harus berani menginvestasikan segenap hidup kita tanpa batas untuk itu. Kita harus rela kehilangan segala sesuatu, apa pun dan siapa pun demi membangun relasi yang eksklusif dengan Allah. Memang untuk terbangun relasi tersebut, tidak boleh ada sesuatu atau seseorang yang ada di tengah atau menghalangi eksklusivitas relasi dengan Allah, yang harus menjadi satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Bukan salah satu yang berharga, bukan pula yang paling berharga, tetapi “satu-satunya” yang paling berharga. Terkait dengan hal ini, Yesus berkata bahwa seseorang harus membenci “nyawanya sendiri” baru bisa memiliki relasi yang sepantasnya dengan Allah (Luk. 14:26).

Inilah faktanya, bahwa untuk mengalami dan memiliki Allah—sehingga terbangun hubungan yang eksklusif—"mengancam” kehidupan orang-orang di sekitar kita yang tidak memiliki gerak yang sama dengan kita. Biasanya, orang-orang di sekitar kita mau memiliki kita dan kita memiliki mereka. Tetapi, dengan kehadiran Allah, semua kita harus melepaskan segala bentuk kepemilikan, dan kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Kalau nantinya ada persekutuan satu sama lain, hal tersebut diikat oleh persekutuan dalam Tuhan. Tetapi masalahnya, apakah mereka mau meninggalkan dunia ini untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah? Kalau mereka tidak bersedia, maka mereka kehilangan kita yang berkeadaan berbeda dengan mereka.

Sejak seseorang kehilangan segala sesuatu untuk bersekutu dengan Allah, ia mulai “tidak nyambung” dengan orang-orang di sekitarnya. Sebelum masuk dalam persekutuan dengan Allah, ia bisa menyatu dengan mereka dalam berbagai percakapan atau perbincangan. Tetapi setelah bersekutu dengan Allah, terjadi “ketidakcocokan” dan ketidakharmonisan dengan mereka. Ibarat sebuah frekuensi, tidak “tune” sehingga terjadi ketidaknyamanan ketika berbicang-bincang, sebab spirit antara ia dengan mereka sudah jauh berbeda. Hal ini karena “interest” masing-masing sudah berbeda. Dari hal ini, terjadi perpisahan yang tidak bisa dielakkan. Hal ini bisa terjadi dalam hubungan pertemanan, persahabatan, sampai pada hubungan dalam lingkungan keluarga. Itulah sebabny,a menjadi tanggung jawab kita untuk bisa mengajak orang di sekitar kita yang paling dekat untuk memiliki cara hidup yang sama.