Satu-Satunya Jalan
27 June 2020

Play Audio Version

Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Pernyataan Yesus ini sangat istimewa yang menunjukkan bahwa kita bisa masuk dalam hubungan istimewa dan eksklusif dengan Bapa seperti yang dikemukakan Yesus dalam doa-Nya di dalam Yohanes 17:21 (“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”). Ayat ini bukan saja menunjukkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, melainkan Yesus bisa menjadi jalan masuk ke dalam persekutuan dengan Allah semesta alam, dimana Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak. Inilah sebenarnya inti Injil, terbukanya jalan untuk menemukan kembali persekutuan dengan Allah yang esa. Sebagai umat pilihan, kita benar-benar sangat beruntung karena memiliki kesempatan ini.

Untuk itu, kita harus berani menginvestasikan hidup kita sepenuhnya guna mencapai hal tersebut. Dalam hal ini, harus ada kesediaan menyerahkan hidup kita tanpa batas untuk mewujudkan kedekatan atau keintiman dalam persekutuan dengan Allah, sesuai dengan yang Allah kehendaki, seperti yang termuat dalam doa Yesus: “Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” Dalam kewajaran hidup seperti manusia beragama lain, banyak orang Kristen menjadikan kekristenan sekadar hiasan dalam hidupnya. Kekristenan bukanlah bagian hidup kita, bukan sekadar menjadi hiasan kehidupan, melainkan kekristenan itu sendiri adalah segenap hidup kita. Ini berarti, Tuhan menjadi segalanya dalam hidup kita. Kehidupan untuk bersekutu dengan Allah atau hidup dalam kekristenan yang sejati adalah seluruh hidup kita. Kesediaan menyerahkan segenap hidup kita untuk hidup persekutuan dengan Allah adalah kemutlakan. Orang yang tidak bersedia melakukannya berarti menolak anugerah keselamatan.

Yesus sebagai jalan, bukan terjadi atau berlangsung secara otomatis dalam hidup kita, melainkan harus ada usaha dari pihak kita yang menyita seluruh hidup dan mengambil semua kekuatan atau potensi dalam hidup kita ini, untuk menjalaninya. Banyak orang berpikir bahwa kematian Yesus di kayu salib secara otomatis telah memperdamaikan orang percaya dengan Allah. Pengertian ini belum lengkap. Salib secara hukum (de jure) membuka peluang manusia diperdamaikan dengan Allah, tetapi secara kenyataan (de facto), harus ada usaha manusia untuk membangun perdamaian tersebut, agar ada perdamaian yang ideal. Kalau orang mengaku percaya dan menerima Yesus tetapi tidak memberi diri dimuridkan untuk diubah dalam sepanjang perjalanan hidupnya guna mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah.

Satu aspek, Yesus menjadi jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa kita, mengampuni dosa, dan membenarkan kita di hadapan Allah. Ini adalah dimensi pasif dari keselamatan yang kita peroleh. Tetapi aspek lain, Yesus juga menjadikan semua bangsa murid, artinya mendidik kita untuk mengalami perubahan. Perubahan itu harus sampai pada tingkat perubahan kodrat. Perubahan itulah yang akan mengondisi hidup kita untuk dapat memiliki persekutuan dengan Allah. Mengondisi artinya dengan keadaan hidup kita yang berkodrat ilahi, maka kita dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah. Kalau seseorang belum mengalami perubahan kodrat, ia tidak dapat mengimbangi kesucian Allah. Allah menghendaki kita kudus seperti diri-Nya (1Ptr. 1:14-16). Jadi, untuk menjadi seorang yang bersekutu dengan Allah, ia harus kudus seperti yang dikemukakan oleh Firman Tuhan: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu (2Kor. 6:17).

Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus di dalam Yohanes 14:6 tidak boleh dipahami hanya dari satu dimensi, yaitu dimensi pasif; tetapi juga dimensi lain, yaitu dimensi aktif, dimana orang percaya memberi diri diubah guna memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Dalam hal ini, dituntut keberanian menginvestasikan hidup atau kesediaan menyerahkan hidup tanpa batas kepada Allah. Keaktifan orang percaya dalam menerima penggarapan Allah melalui Roh Kudus dalam hidupnya sangat penting untuk memiliki perdamaian yang ideal dengan Allah. Penggarapan Allah ini bisa dialami seseorang dan berdampak perubahan kodrat, yaitu kalau seseorang berkomitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta bersedia meninggalkan percintaan dunia dengan segala kesenangannya.

Doktrin atau pengajaran yang mengesankan bahwa kurban Kristus di kayu salib secara otomatis dapat membuat seseorang diperdamaikan dengan Allah tanpa peran orang percaya—asal percaya saja, jadi hanya dalam dimensi pasif saja—menciptakan kehidupan Kristen tanpa dinamika yang benar. Hal ini mengondisi orang-orang Kristen tidak aktif berjuang masuk jalan sempit atau mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Doktrin atau pengajaran itu mengunci orang Kristen dalam pasivitas. Inilah yang membuat banyak orang Kristen tumbang dalam kubangan hidup kewajaran anak dunia, sehingga mereka terseret ke dalam kebinasaan.