Salib Adalah Awal Perjuangan Kita
22 February 2018

Paulus tidak menganjurkan orang hidup dalam dosa, tetapi menganjurkan orang percaya untuk mencari perkenanan Tuhan, yaitu berjuang untuk memiliki kesucian seperti kesucian Tuhan sendiri. Dalam 2 Korintus 5:9-10 Paulus jelas sekali mengatakan: Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Perkenanan Tuhan sama dengan memperoleh kembali kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah dalam konteks ini merupakan keadaan dalam diri manusia yang memberi kemampuan manusia untuk bertindak seperti Allah bertindak; bisa berpikir dan berperasaan seperti Allah. Inilah sebenarnya yang sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10) atau mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Inilah maksud atau tujuan manusia dibenarkan, bukan karena melakukan hukum Taurat.

Kesalahan banyak gereja, mereka berpikir bahwa dengan pembenaran oleh darah Yesus, maka mereka telah menemukan perhentian dari segala pergumulan hidup kerohaniannya, karena mereka berpikir bahwa semuanya sudah selesai di kayu salib. Sehingga mereka tidak lagi memiliki perjuangan untuk mengerjakan keselamatannya. Salib mestinya justru awal dari perjuangan untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk. 13:24). Pernyataan ini muncul ketika ada orang bertanya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Seluruh bagian dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus dan tulisan rasul-rasul mengajar untuk memiliki perjuangan dalam Tuhan.

Dengan cara berpikir yang salah tersebut dalam hidup mereka, maka kasih karunia atau anugerah dalam Yesus Kristus membuat manusia tidak bertanggung jawab sama sekali. Manusia seperti bayi kecil yang tidak berdaya sama sekali. Keselamatannya hanya dikerjakan oleh Allah sepihak tanpa respon manusia sama sekali. Manusia harus hanya menerima saja tindakan atau perlakuan Allah atas dirinya. Dari hal ini berkembanglah pula beberapa prinsip yang menyesatkan jemaat Tuhan sehingga Kekristenan yang sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus tidak dikenali. Kekristenan menjadi sekumpulan doktrin yang membingungkan jemaat awam.

Kalau di zaman gereja sebelum Reformasi, jemaat awam tidak bisa mengenali kebenaran karena hanya para rohaniwan dan orang–orang tertentu yang dapat membaca Alkitab dan memiliki pengetahuan mengenai Tuhan atau teologi, setelah itu memang Alkitab dapat dibaca setiap orang, tetapi hanya menjadi kajian teologi yang akhirnya juga membuat sebagian besar umat tidak mengerti kebenaran. Memang reformasi membawa kemajuan besar, orang-orang Kristen tertentu lebih mengerti teologi, tetapi jemaat awam yang jumlahnya sangat besar masih tidak banyak tahu mengenai teologi.

Kesalahan memahami hal kasih karunia membuahkan butir-butir pemikiran yang membunuh tanggung jawab pribadi, sehingga Kekristenan masih menyimpang dari kebenaran yang murni. Telah banyak kemajuan yang dilakukan oleh gerakan Reformasi. Allah memakainya secara luar biasa, sehingga gereja disadarkan untuk kembali ke Alkitab. Tetapi setelah 500-600 tahun kemudian barulah disadari bahwa kebenaran Firman yang diajarkan belumlah cukup menjawab tantangan zaman. Harus ada penyingkapan-penyingkapan kebenaran yang dapat membawa umat Tuhan kepada kesempurnaan, agar jemaat dapat menjadi mempelai Tuhan Yesus yang tidak bercacat dan tidak bercela menyambut kedatangan-Nya di akhir zaman.

Kesalahan terhadap pengertian kasih karunia, yaitu pembenaran oleh iman, antara lain:
-Seakan-akan iman adalah suatu karunia yang diberi kepada orang-orang tertentu yang secara mistis atau ajaib muncul atau ada di dalam hati orang percaya. Padahal iman datang dari pendengaran oleh Firman Tuhan (Rm. 10:17).
-Selanjutnya mereka juga mengajarkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang mendapat keselamatan, sebab keselamatan ditentukan secara sepihak oleh Tuhan. Padahal Tuhan Yesus mengajarkan orang percaya untuk berjuang. Dibenarkan oleh iman termasuk di dalamnya panggilan untuk meneladani kehidupan Yesus agar serupa dengan Dia. Inilah isi dan inti keselamatan itu.

Kekristenan sesungguhnya tidak membuat manusia hidup lebih mudah, tetapi sebaliknya lebih sukar, bahkan sukar sekali. Sebab Kekristenan membawa manusia kepada kehidupan dalam iman. Iman yang dimaksud adalah iman yang pernah dikenakan oleh Abraham (itulah sebabnya Abraham disebut sebagai bapa orang percaya). Sejak Abraham dipanggil Tuhan, maka hidupnya disita oleh panggilannya itu. Ia kehilangan segala-galanya kecuali panggilan untuk mengikuti rencana Allah. Iman seperti ini yang harus diperjuangkan untuk dimiliki, bukan sesuatu yang otomatis secara mistis ada di hati atau di pikiran.