Roh Kudus Tidak Memaksa
15 May 2019

Ada sekelompok orang Kristen yang memercayai bahwa Roh Kudus bekerja hanya dalam diri orang-orang tertentu yang sudah dipilih dan ditentukan untuk pasti selamat masuk surga. Orang yang digarap Roh Kudus tersebut tidak akan bisa menolak anugerah keselamatan. Mereka memahami Roh Kudus sebagai Pribadi yang tanpa bisa dicegah akan menuntun seseorang untuk bertobat, berbalik dan bertumbuh dewasa menjadi manusia yang berkenan kepada Allah. Biasanya mereka yang berkeyakinan seperti ini adalah orang-orang Kristen yang sudah memiliki premis bahwa Allah memilih atau menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga. Mereka menyerahkan diri kepada suatu keyakinan bahwa bagaimanapun pada akhirnya oleh pimpinan Roh Kudus, mereka selamat masuk surga. Ironinya mereka belum tentu menyerahkan diri pada pimpinan Roh Kudus. Menyerahkan diri kepada suatu keyakinan, kepada fakta adanya pimpinan Roh Kudus dengan menyerahkan diri kepada pimpinan Roh Kudus, adalah sesuatu yang jauh berbeda.

Roh Kudus memang satu-satunya representasi Bapa dan Tuhan Yesus yang menggarap setiap individu. Tetapi sejatinya Roh Kudus adalah Pribadi yang lemah lembut. Roh Kudus adalah Pribadi yang tidak memaksakan kehendak-Nya kepada seseorang. Itulah sebabnya Roh Kudus dapat didukakan (Yes. 63:10 – “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.” Ef. 4:30 – “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Alkitab juga menunjukkan bahwa Roh Kudus juga bisa dipadamkan, artinya Roh Kudus tidak lagi mau bersuara menuntun orang yang menolak tuntunan-Nya (1Tes. 5:19 – Janganlah padamkan Roh). Lebih tegas lagi Firman Tuhan menyatakan kenyataan adanya orang-orang yang menghujat Roh Kudus.

Menghujat Roh Kudus artinya dengan sengaja dan secara terus menerus tidak menerima penggarapan Roh Kudus, sehingga hatinya menjadi keras sampai tidak dapat lagi menyambut penggarapan Roh Kudus. Dengan demikian menghujat Roh Kudus tidak hanya menunjuk kepada suatu perbuatan salah atau dosa yang dilakukan seseorang, tetapi lebih menunjuk kepada suatu stadium atau tingkatan atau level, di mana oleh karena selalu menolak karya Roh Kudus -yaitu tidak mendengar teguran dan peringatan-Nya- maka seseorang tidak lagi dapat menerima penggarapan Roh Kudus. Roh Kudus adalah wakil Bapa dan Tuhan Yesus yang bekerja dalam diri seseorang, jadi kalau seseorang sudah menolak penggarapan-Nya, maka tidak ada lagi wakil Bapa dan Tuhan Yesus yang menuntun orang tersebut. Dalam Lukas 12:10 Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Seseorang bisa berkeadaan melawan Yesus, tetapi selama Allah masih memberi kesempatan untuk bertobat di mana Roh Kudus masih bisa menuntun, ia belum menghujat Roh Kudus. Masih ada kesempatan untuk menerima pengampunan. Dalam kesabaran-Nya Allah melalui Roh Kudus selalu menuntun seseorang.

Proses seseorang sampai menghujat Roh Kudus, pertama sebelum menghujat Roh Kudus ia mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30). Kalau orang percaya hidup dalam dosa dan tidak mau mendengar suara teguran Tuhan. Dosa yang dilakukan anak manusia akan pasti mendukakan hati Allah (Kej. 6:6; Yes. 63:10). Tahap kedua yaitu memadamkan Roh Kudus (1Tes. 5:19). Dalam tingkatan ini Roh Kudus tidak lagi berbicara kepada seseorang, karena orang itu tidak lagi mau mendengar suara-Nya. Mereka menganggap remeh Roh Kudus dan karya-Nya. Mereka yang disebut telah memadamkan Roh Kudus adalah mereka yang telah menutup hati nuraninya untuk mendengar suara Roh Kudus. Akhirnya yang mereka dengar adalah suara diri mereka sendiri. Tahap terakhir, bila sudah terus menerus menolak penggarapan Roh Kudus maka tidak ada kesempatan lagi digarap oleh Roh Kudus maka ia tidak akan dapat lagi bertobat. Di sini seseorang sampai level menghujat Roh Kudus.

Dari penjelasan di atas ini jelas sekali bahwa Roh Kudus tidak memaksa seseorang untuk bertobat dan mengikuti pimpinan-Nya. Setiap orang diberi kebebasan apakah hidup dalam pimpinan Roh Kudus atau menolaknya. Kalau seseorang menolak pimpinan Roh Kudus, maka seseorang membiarkan orang itu memilih jalan sendiri dan bisa binasa. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan tidak akan berintevensi dalam kehidupan manusia sampai seseorang kehilangan kehendak bebasnya. Bagaimanapun setiap orang menentukan keadaannya sendiri. Dengan demikian apakah seseorang menjadi umat pilihan yang terpilih atau tidak, bukan karena ditentukan oleh Tuhan tetapi tergantung pilihan dan keputusan masing-masing individu. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan: Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun” (Ibr. 3:7-8).