Roh Kudus Sebagai Pribadi
26 December 2016

Membahas mengenai Tritunggal, kedudukan dan tempat Roh Kudus dalam Allah Tritunggal adalah masalah yang sangat pelik. Setiap kali membahas atau berbicara mengenai Allah Tritunggal, Roh Kudus selalu mendapat tempat sebagai Pribadi Ketiga. Di pandang dari sudut teologis doktrinal, apakah bisa dibenarkan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal? Untuk menjawab hal ini kita harus membahas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Pribadi itu? Apakah Roh Kudus bisa dikatakan sebagai suatu pribadi?

 

Apakah Roh Kudus bisa dikatakan sebagai suatu pribadi? Memang sulit untuk menemukan definisi apakah pribadi itu. Kita harus sangat hati-hati bila mengambil definisi mengenai pribadi dari pengertian umum. Biasanya yang dikatakan sebagai pribadi adalah oknum yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Hal ini benar. Benda tidak dapat disebut sebagai pribadi sebab bukan entitas atau oknum yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Tetapi definisi mengenai pribadi ini tidak lengkap atau belum cukup. Secara tersirat Alkitab menunjukkan bahwa pribadi adalah oknum yang bisa mandiri (independend) dan bisa tidak terikat oleh siapa pun dan apa pun.

 

Pribadi juga bermakna oknum yang dapat mengambil keputusan tanpa dipaksa atau diatur oleh pihak manapun. Dengan demikian satu entitas disebut sebagai pribadi bila ia bisa memiliki kedaulatan sendiri. Lusifer dan para malaikat bisa memiliki kedaulatan sendiri, itulah sebabnya mereka bisa memberontak kepada Allah. Lusifer bisa berkata, aku ingin atau aku hendak (Yes. 14:13-14). Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki kehendak bebas. Salah satu ciri dari entitas atau oknum yang disebut berpribadi adalah memiliki kebebasan memilih, mengambil keputusan dan bertindak.

 

Demikian pula Tuhan Yesus, Ia juga bisa berdaulat dengan memiliki kehendak dan rencana sendiri. Tetapi dalam kenyataannya, Tuhan Yesus memilih hidup dalam ketertundukan kepada Allah Bapa. Ia lebih memilih melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan Bapa daripada kehendak dan rencana-Nya sendiri (Yoh. 4:34). Demikian pula dengan setiap individu manusia, memiliki kedaulatan. Dalam hal ini manusia menentukan keadaannya sendiri. Kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah karena manusia berdaulat atas dirinya. Ia menentukan “nasibnya” sendiri. Kesetiaan Allah Anak kepada Bapa sudah teruji sejak Ia belum menjadi manusia.

 

Apakah Roh Kudus bisa dikatakan sebagai suatu pribadi? Tentu saja bisa, sebab biasanya yang dikatakan sebagai pribadi adalah oknum yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak serta melakukan suatu tindakan atas kehendaknya sendiri. Dalam Alkitab dapat dijumpai banyak informasi dan penjelasan bahwa Roh kudus memiliki pikiran, perasaan dan kehendak serta melakukan berbagai tindakan. Hal ini terbukti dalam beberapa informasi yang ditulis Alkitab bahwa Roh Kudus memiliki kehendak (1Kor. 12:11). Dalam ayat ini dikatakan bahwa Roh Kudus memberikan karunia. Tersirat di balik pernyataan ini bahwa Ia berkehendak memberikan karunia, sekaligus di sini nampak bahwa Ia memiliki hak untuk memberikan kuasa itu.

 

Roh Kudus mempunyai pikiran (Rm. 8:27). Dalam teks ini dikatakan bahwa Roh Kudus menyelidiki. Kata menyelidiki dalam teks aslinya adalah ereunao (ἐρευνάω), yang juga berarti investigate, yang bermakna memeriksa dengan teliti untuk mendapat suatu hasil yang tepat dan detail. Dalam kegiatan investigasi ini membutuhkan pikiran yang cerdas. Roh Kudus memiliki kecerdasan untuk hal tersebut.

 

Dalam Alkitab juga dikatakan bahwa Roh Kudus mempunyai pengetahuan dan menyelidiki segala sesuatu, bahkan yang ada di dalam diri Allah (1Kor. 2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah). Kalimat ini kalau tidak dipahami dengan benar menimbulkan pemikiran yang salah, seakan-akan Roh Kudus bisa terpisah dari Allah sehingga berintervensi terhadap diri Allah sendiri. Tetapi yang benar bahwa Roh Kudus atau Roh Allah berasal dari Allah sendiri atau keluar dari Allah. Ia tidak akan berintervensi, sebab Ia keluar dari Allah sendiri.