Respon Terhadap Penggarapan Allah
22 June 2019

Penghakiman dapat berlangsung atas individu jika Tuhan tidak intervensi di dalam kehidupan, sehingga manusia masih memiliki kedaulatannya sendiri bertindak mengambil keputusan dalam kehendak bebasnya. Kalaupun Tuhan berintervensi, intervensi Tuhan tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Untuk mengubah karakter seseorang, Tuhan mengizinkan banyak kejadian yang berlangsung dalam hidupnya. Tuhan tidak berintervensi mengubah kehendak seseorang secara ajaib oleh kuasa-Nya, tetapi mengarahkan orang tersebut melalui setiap kejadian hidup yang dialaminya. Jika Tuhan berintervensi sampai pada kehendak seseorang, maka Tuhan tidak perlu menggunakan sarana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan untuk mengubahnya. Dalam hal ini masing-masing individu bisa menerima pembentukan Tuhan atau menolaknya. Oleh sebab itu keadaan akhir seseorang tergantung dari responnya terhadap penggarapan Allah.

Adalah sangat keliru kalau orang berpikir bahwa respon seseorang terhadap penggarapan Tuhan melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya digerakkan oleh Tuhan sendiri. Jadi, seseorang memberi respon terhadap penggarapan Tuhan atau tidak, tergantung manusia itu sendiri. Dalam hal ini, berarti ada orang yang digerakkan Tuhan merespon dengan baik terhadap penggarapan Tuhan, tetapi yang lain tidak dibuat merespon dengan baik. Jika Tuhan berbuat demikian maka semua menjadi seperti sandiwara. Dengan mekanisme demikian berarti mutlak tidak perlu ada penghakiman. Tuhan harus menghakimi diri-Nya sendiri, sebab Ia menjadikan diri-Nya sebagai kausalitas prima segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan setiap individu.

Terkait dengan hal di atas ini, hendaknya kita tidak memandang bahwa oleh karena Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak, maka Allah bertindak dalam kebijaksanaan yang tidak dimengerti oleh manusia. Manusia harus hanya menerima saja semua keputusan dan tindakan-Nya. Allah tidak mungkin bertindak atas seseorang tanpa orang itu mengetahui mengapa ia diperlakukan demikian. Penghakiman tidak bisa dilangsungkan kalau manusia tidak berdaya menolak apa yang dikerjakan Allah di dalam dirinya, baik perbuatan yang baik atau perbuatan yang tidak baik. Jika demikian, maka juga tidak perlu ada porsi yang berbeda yang diberikan kepada masing-masing individu. Padahal Alkitab menyatakan bahwa setiap orang dituntut sesuai dengan porsi yang diterimanya.

Tentu yang diberi banyak akan dituntut banyak, sedangkan mereka yang diberi sedikit akan dituntut sedikit. Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”(Luk. 12:48). Di sini kita menemukan keadilan Tuhan yang sempurna. Tuhan tidak akan menuntut seseorang melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Allah yang benar adalah Allah seperti itu, bukan allah yang sembarangan menuntut orang sesukanya sendiri. Allah tidak mungkin dalam kedaulatan-Nya berintervensi dalam diri seseorang, memberi porsi yang berbeda, kemudian menuntut seseorang melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang itu dan kemudian menghukum orang itu karena kesalahannya atau ketidaksanggupannya melakukan yang dikehendaki oleh Allah.

Masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan, yaitu hidup ini. Masing-masing orang memiliki jenis kendaraan yang berbeda. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Kalau seseorang bermaksud menyerahkan kemudi hidupnya kepada Tuhan, berarti sama dengan meminta Tuhan menyangkali sifat dan hakikat-Nya yang telah memberikan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini yang ditentukan adalah porsinya, bukan keselamatan individu.

Untuk dapat mengendarai hidup ini dengan benar dan mengarahkannya ke arah yang Tuhan kehendaki, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kita harus bergumul dengan segenap hidup. Inilah perjuangan yang tiada berakhir sampai kita menutup mata.Dalam hal ini orang percaya diajar untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mengerjakan keselamatan itu adalah menaruh pikiran dan perasaan Kristus di dalam diri kita.Kalau kita bersedia mengerjakan keselamatan (Yun. katergazeste; κατεργάζεσθε), maka Allah akan memberikan kuasa atau kemampuan (Yun. energon; ἐνεργῶν).Selanjutnya yang dibutuhkan adalah ketekunan, yaitu bagaimana fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya dan tidak bergeser. Dari perjuangan ini, setiap orang dapat diperhadapkan kepada penghakiman atau pengadilan Tuhan secara fair.