Rencana Semula
27 August 2017

Rencana semula Allah menciptakan manusia agar segambar dan serupa dengan Allah merupakan rencana penciptaan manusia dengan keadaaan unggul. Allah tidak pernah bermaksud menciptakan sesuatu yang bercacat dan bercela. Allah yang sempurna adalah Allah yang menciptakan sesuatu yang pasti juga sempurna. Itulah sebabnya dalam Kejadian 1:31 Firman Tuhan mengatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya sungguh amat baik. Sungguh amat baik menunjuk kepada kesempurnaan ciptaan-Nya.

Namun harus dipahami bahwa kesempurnaan yang diciptakan oleh Allah bukan berarti sudah selesai. Bagi Allah sudah selesai, tetapi bagi manusia belum. Bagi manusia belum selesai, artinya manusia harus mengembangkan diri untuk bisa berkeadaan serupa dengan Allah. Dalam Kejadian 1:26 Firman Tuhan mencatat: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”.

Menciptakan manusia segambar (tselem) dan serupa (demuth) dengan Allah barulah rencana Allah. Tselem menunjuk pada komponen-komponen yang ada pada Allah yang juga pada manusia, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Adapun demuth-nya adalah kualitas dari komponen-komponen tersebut.

Pada kenyataannya Allah hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tetapi rupanya (demuth) tidak. Hal ini jelas tertulis di dalam Kejadian 1:27, Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Adam bertanggung jawab untuk mengembangkan diri agar dapat serupa dengan Allah. Manusia bertanggung jawab mengembangkan diri untuk menjadi lengkap dan utuh, yang sama dengan mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Tetapi ternyata manusia gagal mencapai kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). “Kata kehilangan” dalam Roma 3:23 dalam teks aslinya adalah hustereo (ὑστερέω) yang memiliki banyak pengertian, antara lain: to come late or too tardily, to be left behind in the race and so fail to reach the goal, to fall short of the end , fail to become a partaker, fall back from, to be inferior in power, influence and rank, to be inferior to, to lack (be inferior) in excellence, worth (tertinggal atau terlalu terlambat, tertinggal dalam perlombaan dan gagal mencapai tujuan, tidak mencapai akhir, gagal menjadi pengikut yang mengambil bagian, jatuh dari, menjadi inferior dalam kekuasaan, pengaruh dan tingkatan atau level, sangat rendah, kurang, rendah dalam keunggulan dan kelayakan). Keberdosaan membuat manusia tidak mampu mencapai standar manusia ideal seperti yang dikehendaki oleh Allah. Manusia gagal menjadi manusia yang sempurna menurut Allah.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus bertujuan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula tersebut. Hal ini sama artinya agar manusia menjadi sempurna seperti Bapa. Bapa di sini adalah mewakili lembaga Elohim, sebab pada waktu Yesus mengatakan hal itu, diri-Nya sedang mengosongkan diri menjadi manusia. Pada waktu itu Yesus juga belum mencapai kesempurnaan sebagai Kristus. Itulah sebabnya Ia menunjuk kepada Bapa sumber segala kebaikan dan kesempurnaan. Tentu setelah Yesus mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan (penggubah) bagi mereka yang taat kepada-Nya. Dengan demikian setiap orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus mengisi sepanjang hidupnya di bumi hanya untuk serupa dengan Yesus; sempurna seperti Dia.