Relasi Pengampunan dan Perbuatan Kasih
15 February 2021

Play Audio

Dalam Lukas 7:36-46, terdapat sebuah kisah yang menunjukkan relasi antara “pengampunan” dan “perbuatan kasih.” Kisah tersebut bercerita mengenai seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang dan makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu dan duduk makan bersama mereka. Kemudian ada seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa. Ungkapan ‘orang berdosa’ di sini merupakan sebuah bentuk sebutan yang dihaluskan untuk merujuk pada wanita tunasusila. Dalam Lukas 7:37-38 dituliskan, “Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” Minyak yang digunakan dalam kisah ini adalah minyak narwastu dan bukan dari Timur Tengah, melainkan datang dari India. Minyak ini dapat digolongkan sebagai barang mewah. Ketika perempuan tersebut meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak tersebut, sebenarnya perempuan tersebut mempertaruhkan harga diri, nama baik, dan uangnya.

Kisah tersebut kemudian berlanjut demikian: “Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.’” (Luk. 7:39-46).

Perlu diketahui, tradisi pada masa itu adalah jika ada orang yang dianggap penting datang ke rumah salah satu keluarga, maka tuan rumah akan membasuh kakinya lalu memercikkan minyak wangi. Tuhan membandingkan perlakuan orang Farisi tersebut dengan wanita ini. Orang Farisi itu tidak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, sedangkan perempuan itu mencuci kaki-Nya dengan air mata dan menyeka-Nya dengan rambutnya. Rambut merupakan mahkota perempuan, yang pada waktu itu biasanya terurai dan ditutup. Pada masa itu, rambut yang terurai dan tidak dikepang merupakan simbol dari seorang perempuan santun. Sebaliknya, perempuan yang mengepang-ngepang rambutnya adalah wanita yang tidak baik atau tunasusila. Oleh karenanya, dengan mengurai rambutnya, sebenarnya perempuan ini menunjukkan bahwa ia telah berhenti berbuat dosa.

Narasi ini mencapai klimaksnya ketika sampai di Lukas 7:47, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Pengampunan yang diberikan ini disebabkan oleh karena perbuatan kasihnya kepada Yesus. Tuhan tidak akan memberikan pengampunan kepada orang yang tidak memiliki kasih kepada sesamanya. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat kasih kepada sesamanya, sesungguhnya dosanya yang banyak diampuni oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak merusak prinsip “keselamatan hanya oleh anugerah.” Keselamatan dan pengampunan hanya hadir karena Yesus, namun perbuatan kasih yang ditunjukkan oleh seseorang mencerminkan bagaimana keadaannya yang mengasihi orang lain. Orang yang mengasihi orang lain menunjukkan bahwa dirinya telah melepaskan dosanya dan berdamai dengan Allah. Sebab, sesungguhnya apa yang dilakukan seseorang demi sesamanya juga dilakukan untuk Allah. Orang jahat tidak akan memeroleh pengampunan. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, tetapi orang jahat yang diampuni dan tidak mau berubah akan kehilangan kesempatan. Sejahat apa pun seseorang akan diampuni. Tapi setelah diampuni, ia harus bertobat dan tidak berbuat jahat lagi.