Rela Kehilangan Hak Untuk Menikmati Kesenangan
24 May 2017

Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban, juga berbicara bagaimana seorang pelayan Tuhan rela melepaskan kesenangan demi pelayanan terhadap Tuhan. Paulus pernah berkata kepada anak rohaninya Timotius, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8). Implikasi ayat ini menyuarakan panggilan terhadap seluruh hamba-pelayan Tuhan, untuk tidak membiarkan dirinya terbuai dengan berbagai kesenangan pribadi, lebih dari kecintaannya terhadap Tuhan dan pelayanan pekerjaan-Nya. Paulus tidak melarang orang mendapatkan berbagai fasilitas hidup, melainkan ia mengajak atau menganjurkan agar orang tidak menginginkan lebih dari apa yang ia butuhkan. Ia membuktikan pernyataan-pernyataan dalam suratnya tersebut di dalam hidupnya secara konkret sebagai pelayan Tuhan, sampai ia menghadapi martirnya di Roma.

Orang percaya hendaknya merasa puas dengan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan papan. Jikalau kebutuhan keuangan khusus timbul, ia dapat bekerja keras dan berharap kepada Allah untuk menyediakannya. Seorang pelayan Tuhan harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi kehidupan umat Tuhan yang dilayani. Ini berarti kehidupan seorang pelayan Tuhan terbelenggu oleh tugasnya. Belenggu itu adalah kebenaran Firman Tuhan yang harus dikenakan, sehingga ia menjadi pola dengan mana orang membangun dirinya. Misalnya, terdapat Firman yang mengatakan: “Asal ada makanan dan pakaian cukup”, maka seorang pelayan Tuhan harus terlebih dahulu dapat melakukan kebenaran ini sebelum ia mengajarkannya kepada orang lain.

Sebagai seorang pelayan Tuhan, kita harus memiliki toleransi yang tinggi. Kita bisa tidur di tempat agak panas atau agak dingin; tidak memanjakan fisiknya. Bila seseorang memanjakan fisiknya, maka ia tidak dapat menjadi pelayan Tuhan yang lentur dan fleksibel beradaptasi dengan dunia sekitar. Dalam situasi tertentu ia harus berani tidak mengambil cuti atau waktu istirahat beberapa saat untuk sebuah “leisure time”. Harus diingat bahwa Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Ini berarti bahwa hal untuk menikmati kesenangan harus berani ditinggalkan. Dengan demikian seorang pelayan Tuhan yang sejati tidak harus memiliki standar hidup seperti orang lain pada umumnya.

Masyarakat post modern adalah masyarakat yang makin konsumeris. Hal ini juga dipicu oleh teknologi periklanan yang sangat memikat. Masyarakat menjadi masyarakat yang selalu ingin memiliki apa yang ditawarkan oleh para produsen untuk berbagai kesenangan. Inilah yang dimaksudkan Alkitab sebagai keinginan mata (1Yoh. 2:16). Pola hidup seperti ini tentu juga memengaruhi pola berpikir banyak pelayan Tuhan. Hal ini terbukti dengan kenyataan adanya pelayan-pelayan Tuhan yang memenuhi dirinya dengan berbagai fasilitas hidup yang tidak berguna untuk pelayanannya. Fasilitas yang dimiliki pada dasarnya hanya untuk kenyamanan hidup. Dalam hal ini, bukan saja kemewahan yang membahayakan bagi seorang pelayan Tuhan, tetapi hidup dalam kewajaran juga merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Seharusnya seorang pelayan Tuhan bukan saja rela tidak hidup bermewah, tetapi juga bersedia hidup dalam keadaan tidak standar seperti manusia lain yang sedang menikmati kehidupan ini. Seorang pelayan Tuhan yang terlalu lama menikmati kesenangan dunia mengalami “penghalusan” yang merusak pelayanannya. Sehingga ia tidak lagi memiliki kelenturan beradaptasi dalam segala situasi.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya, pernyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak menuntut kesenangan atau kenyamanan hidup. Oleh sebab itu seorang pelayan Tuhan harus berani menderita seperti Yesus (Rm. 8:17). Paulus sebagai pengikut Yesus juga memiliki pola pelayanan yang sama. Dalam kesaksiannya ia berkata: Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku… bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun… Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Pola hidup seperti Paulus inilah yang menjadi standar pelayanan pelayan Tuhan sepanjang zaman.