Rela Kehilangan Hak Untuk Menerima Upah
22 May 2017

Pelayanan seorang pelayan Tuhan bukan merupakan sarana untuk mendapatkan penghasilan semata. Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani Dia, hal itu tidak dimulai dengan suatu janji agar dalam pekerjaan pelayanan tersebut seseorang dapat memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya. Memang Alkitab mengemukakan adanya janji Tuhan untuk mencukupi hidup seorang yang melayani Tuhan. Hidup dalam kecukupan memang merupakan berkat Tuhan yang menyertai pelayanan seseorang di ladang Tuhan, tetapi janji itu bukan merupakan tujuan, sehingga dapat dijadikan motivasi dalam bekerja di ladang Tuhan. Pengalaman Elia di tepi sungai Kerit membuktikan pemeliharaan Tuhan atas hamba-hamba-Nya. Di tengah masa kekeringan Elia diberi makan oleh burung-burung gagak (1Raj. 17:5-6). Tatkala pasukan raja Ahab mengejarnya, ia melarikan diri ke padang gurun Barsyeba dan Tuhan memeliharanya. Ketika lapar, ia diberi makan oleh malaikat (1Raj. 19:1-8).

Mengenai janji Allah kepada para Imam dalam pemenuhan kebutuhan mereka dicatat dalam kitab Imamat 10:12-20, Maleakhi 3:10. Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan melupakan orang yang bekerja bagi Tuhan. Realitas ini dapat membangun motivasi yang benar dalam diri seorang pelayan Tuhan yang melayani pekerjaan-Nya, melayani harus dengan motivasi hati yang bersih. Semua kisah yang dicatat dalam Alkitab tidak selalu menyampaikan pesan providensia (pemeliharaan) Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya dalam kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Dalam peristiwa salib tidak ditemukan berkat makan dan minum yang disediakan bagi Yesus. Paulus dalam pelayanannya pernah menyatakan bahwa ia tidak menerima persembahan jemaat yang sebenarnya merupakan haknya.

Paulus dalam pernyataannya menampilkan sesuatu yang terkesan kontradiksi. Satu sisi ia berkata bahwa seorang pelayan Injil dapat hidup oleh Injil (1Kor. 9:14), tetapi di lain pihak ia menyatakan bahwa ia boleh memberitakan Injil tanpa upah (1Kor. 9:18). Ini merupakan sikap yang ditampilkan Paulus ketika ia mencoba melepaskan hak. Ia seorang pelayan Tuhan yang benar-benar tidak mencari keuntungan pribadi. Bill Hybels mengatakan bahwa pemimpin seperti ini, disebutkan sebagai pemimpin yang berani. Paulus walaupun sadar dan tahu benar bahwa seorang pelayan Tuhan yang melayani telah diberikan hak untuk menerima persembahan yang menjadi bagiannya, namun ia menolak untuk menerimanya (1Kor. 19:14-18). Paulus ingin menunjukkan sikapnya yang dewasa, yang sangat baik untuk diterapkan dalam hidup pelayanan hamba Tuhan, yaitu mereka yang rela melepaskan haknya. Pelayan Tuhan seperti Paulus ini sangat rela kalaupun harus tidak menerima dukungan dari gereja atau jemaat yang ia layani.

Dalam situasi sekarang ini dapat ditemukan banyak sekali anggapan yang memutlakan hak menerima persembahan, baik persembahan kolekte maupun persepuluhan, di kalangan pelayan Tuhan. Hak untuk menerima persembahan tersebut lambat laun semakin mengkristal, sehingga tanpa disadari hampir semua hamba-pelayan Tuhan merasa berhak mengambil bagian tersebut. Untuk membiayai pelayanannya, Paulus bekerja keras. Ia membuat kemah. Ini sebuah pekerjaan tangan yang berat, yang menuntut tenaga dan waktu. Ia melakukan itu demi supaya bisa membiayai perjalanan pelayanannya dan perjalanan pelayan rekan-rekannya. Pola inilah yang harus dicontoh oleh para pelayan Tuhan. Dalam sikap yang ditampilkan Yesus dalam Filipi 2:8 dan juga Paulus dalam 1 Korintus 19:14-18, merupakan dasar berpijak untuk membangun sebuah acuan.

Melepaskan hak adalah sikap dewasa rohani seorang pelayan Tuhan yang membawa keserupaan dengan Yesus. Dewasa ini dapat dijumpai pelayan Tuhan yang taraf hidup ekonominya tergolong baik. Hal ini dapat menjadi pertimbangan orang-orang tertentu bahwa profesi sebagai pelayan rohani menjanjikan atau menjamin kehidupan ekonomi yang baik. Hal ini akan membangun motivasi yang salah dalam pelayanan, mereka melayani pekerjaan Tuhan untuk memperoleh upah atas jasa pelayanan yang dilakukan. Pelayan-pelayan rohani seperti tersebut merasa berhak menerima upah sesuai dengan pendidikan teologi yang ia capai, bila berkhotbah ia merasa berhak menerima persembahan kasih yang memadai dalam bentuk uang. Hal ini membangun pemikiran bahwa menjadi pembicara di mimbar dan pelayan di lingkungan gereja merupakan sebuah profesi.