Rela Kehilangan Hak Milik
23 May 2017

Dari kisah kelahiran Tuhan Yesus, menunjukkan kepapaan atau kehinaan-Nya yang sangat ekstrem. Ia tidak dilahirkan dalam istana atau rumah yang layak, tetapi Ia lahir di tempat sederhana, sangat besar kemungkinan di kandang hewan (Luk. 2:7). Keberadaan-Nya seperti ini menunjukkan bahwa Ia rela kehilangan hak untuk memiliki kelimpahan kekayaan, walaupun Ia adalah pemilik dari segala sesuatu, sebab Ia adalah Pencipta dari segala sesuatu itu (Yoh. 1:1-13). Hidup kesederhanaan-Nya terpancar dari sejak kelahiran-Nya sampai kepada kematian-Nya di kayu salib. Ia tergantung di kayu salib dengan tubuh setengah telanjang, sebab prajurit Romawi merenggut jubah-Nya dan membagi di antara mereka melalui undi (Mat. 27:35).

Dalam suatu pernyataan-Nya Yesus mengemukakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Sebuah pernyataan yang menunjukkan kemiskinan-Nya yang sangat ekstrem. Dari hal ini nampaklah bahwa Yesus rela kehilangan hak untuk menikmati kekayaan materi yang sebenarnya adalah milik-Nya sendiri. Paulus dalam tulisannya mengatakan: Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor. 8:9). Kemiskinan dalam teks ini adalah eptocheusen (ἐπτώχευσεν) berarti become poor, kata ini berasal dari kata ptocheuo yang memiliki pengertian to be a beggar, to become indigent. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan secara materi atau kemiskinan-Nya secara materi.

Betapa berbahayanya ketika seseorang terjebak atau disesatkan oleh rasa aman yang salah. Rasa aman semu ini membuat seseorang tanpa sadar membelakangi Tuhan. Rasa aman yang salah ini diajarkan oleh dunia kepada kita sejak kecil. Rasa aman oleh karena difasilitasi oleh kekuatan di sekitar kita. Fasilitas tersebut bisa berupa uang, harta, keluarga atau relasi petinggi negara, pangkat, nama baik dan kekuatan lain. Rasa aman ini juga menyangkut keyakinannya bahwa ia akan bahagia dan menikmati hidup dengan keberuntungan dan kesenangan kalau difasilitasi oleh kekuatan-kekuatan tersebut. Rasa aman yang salah ini telah menjadi gaya hidup atau pola hidup manusia pada umumnya. Iblis membujuk manusia untuk memiliki gaya hidup yang salah tersebut (yaitu rasa aman yang bertumpu kepada kekuatan di luar Tuhan). Ketika Iblis berkata: Sembahlah aku maka akan kuberikan dunia ini kepada-Mu (Luk. 4:5-7), bujukan tersebut adalah dorongan untuk memiliki gaya hidup, di mana seseorang merasa aman dengan kekuatan di luar Tuhan.

Hal ini membuat seorang melakukan percintaan dengan dunia dan tidak bergantung kepada Tuhan. Hal ini pula membuat orang Kristen menjauhi Tuhan dan melakukan pelacuran rohani. Hal ini sama dengan menyembah Iblis. Mereka tidak merasa tidak menyembah Iblis, padahal kenyataannya mereka menyembah Iblis dan hal ini sudah cukup membuat seseorang binasa. Inilah dosa materialisme yang merajalela hebat dalam dunia post modern hari ini. Percintaan dunia mengakibatkan seseorang menjadikan dirinya musuh Tuhan (Yak. 4:4), kasih akan Bapa tidak ada pada orang tersebut (1Yoh. 2:15-17) tentu mereka tidak mengerti apa artinya pelayanan dan mengasihi sesama, sebab hati mereka sudah dibelenggu dengan percintaan dunia.

Di era post modern, masyarakat merasa nyaman bila memiliki deposito. Sebagai pelayan Tuhan, kita tidak boleh mengenakan standar hidup seperti anak-anak dunia. Paulus menasihati orang percaya bahwa asal ada makanan dan pakaian cukup. Ini artinya bahwa seorang anak Allah tidak boleh menuntut dan mengharapkan memiliki standar hidup seperti anak-anak dunia. Bila seorang pelayan Tuhan sudah merasa berhak memiliki hak milik, maka ia tidak akan dapat menjadi pelayan seperti Yesus; yang dicurahkan seperti anggur dan dipecahkan seperti roti.

Dalam pelayanan memang dibutuhkan berbagai fasilitas, tetapi hendaknya fasilitas yang diharapkan, seperti mobil, rumah pastori dan lain sebagainya, tetapi fasilitas tersebut bukanlah menjadi hak milik untuk kenyamanan hidup. Dengan prinsip yang benar ini maka seseorang dapat berkorban demi pekerjaan Tuhan bagaimanapun beratnya. Walaupun telah bekerja keras, seorang pelayan Tuhan tidak boleh merasa berhak memiliki hak milik. Pengorbanannya adalah devosi bagi Tuhan, bukan taburan yang mengharapkan tuaian sekarang, tetapi nanti di belakang langit biru.