Racun Yang Disuntikkan
11 November 2020

Play Audio Version

Pikiran adalah medan pergumulan yang menentukan apakah seseorang dikuasai oleh Allah atau dikuasai setan atau Iblis. Paulus dalam tulisannya, mengemukakan bahwa dirinya menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5). Ini merupakan perjuangan yang harus dilakukan setiap anak Allah (2Kor. 10:4). Pikiran adalah tempat di mana terdapat pangkalan, apakah pangkalan tersebut dipersembahkan bagi Allah atau untuk yang lain. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya menjaga hati dan pikiran dengan segala kewaspadaan (Ams. 4:23). Kata “hati” dalam teks ini adalah leb (לֵב); selain berarti hati, juga berarti mind (pikiran).

Dalam Yohanes 8:43, Tuhan Yesus mengatakan: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap Firman-Ku.” Kata “menangkap” dalam teks aslinya adalah akuo (ἀκούω) yang berarti mengerti atau memahami. Tidak mengerti Firman Tuhan sehingga tidak memahami bahasa Yesus, artinya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Tuhan. Sebenarnya kata “bahasa” di sini dalam teks aslinya adalah lalia (λαλιά) yang berarti juga “dialect, mode of speech, speech which discloses the speaker's native country” (mode bicara dialek, ucapan yang mengungkapkan negeri asal pembicara). Tentu yang dikemukakan oleh Yesus adalah hal-hal yang benar-benar rohani, jauh melampaui hidup keberagamaan. Bisa dimengerti kalau orang-orang Yahudi yang agamani “tidak nyambung” dengan Yesus.

Orang-orang Yahudi sebenarnya sangat giat mencari Allah, tetapi karena pengertian yang salah, mereka gagal menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka tidak bisa diselamatkan karena tidak mengerti Firman-Nya. Demikian pula dengan sebagian orang-orang Kristen yang sebenarnya giat mencari Tuhan, tetapi karena penyesatan dan ajaran salah yang mereka serap, mereka tidak tidak mengerti Firman-Nya sehingga tidak mengalami keselamatan. Mereka tidak bisa dikuasai oleh Tuhan, tetapi dalam pengaruh kuasa lain.

Kalau seseorang memiliki nurani yang baik, mereka dapat membedakan apakah ajaran yang mereka dengar adalah ajaran yang berasal dari Allah atau tidak. Banyak orang Kristen hari ini memilih mencintai dunia sehingga mereka menjadi materialistis dan nurani mereka menjadi rusak. Percintaan dunia adalah racun yang ‘disuntikkan’ Iblis ke dalam kehidupan banyak manusia. Oleh sebab itu, kita harus menyadari bahwa pikiran materialistis berasal dari setan atau Iblis. Pikiran yang tidak boleh ditolerir sama sekali.

Mereka menjadi buta terhadap kebenaran, sehingga tidak dapat membedakan antara kebenaran dan bukan kebenaran (Luk. 16:11). Mereka tidak mengerti bahasa Tuhan, sebab mereka tidak mengerti kebenaran. Malangnya, mereka merasa bahwa mereka telah mendengar Firman Tuhan yang benar dan mengerti isinya, serta memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Kesalahan mereka adalah mereka mendengar pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil. Sehingga yang mereka dengar—walaupun sepertinya sesuai dengan doktrin yang diakui sebagai “resmi”—sesungguhnya adalah ajaran manusia yang dijiwai oleh spirit percintaan dunia.

Kalau seseorang tidak memahami kebenaran, ia akan membangun satu sosok atau ‘figur allah’ dalam pikirannya sendiri. Sosok allah dalam pikiran tersebut memiliki ciri-ciri karakter yang diciptakan sendiri. Mereka merasa berdialog dengan Allah yang benar, padahal berdialog dengan allah ciptaannya sendiri. Dari kesaksian mereka, mengenai “suatu allah atau tuhan” yang mereka percayai memberi visi dan berdialog dengannya, menunjukkan bahwa itu bukan Allah yang diajarkan Alkitab. Hasrat menjadi besar di mata manusia dan hasrat meraih kekayaan membuat mereka nekat menciptakan sosok “yesus dan allah bapa” yang lain, yang tidak diajarkan oleh Akitab.

Tidak sedikit pendeta akhir zaman ini tersesat dan terjebak dalam kubangan tersebut. Mereka tidak tahu dan tidak menemukan jalan untuk bertemu dengan Tuhan. Biasanya, hal ini juga dipicu oleh karakter dosa dalam diri mereka, yaitu ambisi menjadi orang yang terhormat dan tersanjung (melebihi pendeta lain) melalui kesaksian pengalamannya dengan “allah” yang dikarangnya sendiri. Dengan cara ini, Iblis menjatuhkan “hamba-hamba Tuhan.” Kalau seorang “hamba Tuhan” dapat disesatkan, jemaat pun ikut menjadi sesat.

Sebenarnya, melalui pembaharuan pikiran dengan sarana kebenaran Firman Allah yang murni, cita rasa jiwa seseorang menjadi sama dengan cita rasa Tuhan. Dengan cita rasa yang sama ini, seseorang bisa bersekutu dengan Tuhan. Ia tidak akan tertarik terhadap keindahan dunia. Tentu saja dengan keadaan ini, Iblis tidak bisa menjeratnya. Iblis tidak menemukan pangkalan dalam pikirannya untuk menguasainya. Memiliki selera yang sama dengan Allah Bapa berarti memenuhi yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, yaitu sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Dengan hal ini, maka seseorang dapat mengerti bahasa Tuhan. Hal ini sama dengan memiliki kecerdasan seperti Bapa; kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, dan kecerdasan rohani, yaitu memahami apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Goal ini tidak boleh digantikan dengan yang lain. Penyimpangan dari tujuan ini berarti penyesatan dan kesalahan yang tidak bisa ditolerir.