Pujian Dari Tuhan
04 July 2019

Sudah menjadi fakta yang tidak dapat dibantah bahwa pengakuan, pujian, sanjungan, dan pemujaan akan dituntut dan diharapkan oleh orang-orang yang merasa memiliki nilai lebih di mata manusia lain; seperti seorang artis yang terkenal, berprestasi dalam ilmu pengetahuan yang dikagumi manusia, penguasaha yang berhasil mengumpulkan banyak kekayaan, seseorang yang berhasil di gelanggang politik dan menjadi penguasa dalam pemerintahan. Secara otomatis pada umumnya mereka merasa bahwa harkatnya telah naik, maka ia menaikkan harga harkatnya. Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras untuk berhasil dalam berbagai bidang. Untuk itu mereka dapat melakukan segala hal, bahkan menghalalkan segala cara. Mereka mencintai dunia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Dengan cara demikian mereka telah meletakkan “sesuatu” sebagai alah atau berhala.

Hal tersebut di atas memang menjadi kodrat manusia pada umumnya, yaitu hidup untuk memperoleh harkat martabat yang dibangun di atas penghormatan dan penilaian manusia lainnya. Hal ini sama artinya bahwa pada umumnya setiap orang memasang tarif dan menjual dirinya terhadap dunia ini. Menjual diri maksudnya berusaha agar dirinya mendapat penghormatan atau penilaian yang sesuai dengan apa yang diingininya, biasanya seiring dengan atribut-atribut lahiriah yang dimiliki, yaitu: pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, dan lain-lain. Segala sesuatu yang diusahakan adalah usaha untuk menaikkan nilai diri di mata manusia, bukan di mata Alah. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, maka mereka tidak sanggup memercayai ada Allah yang hidup, sehingga mereka hanya sekadar menjadi orang beragama yang tidak ber-Tuhan.

Hal di atas tersebut bukan hanya terjadi di kalangan orang-orang di luar gereja, tetapi juga orang-orang di dalam gereja. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen tidak menyadari hal tersebut, bahkan mereka menganggapnya wajar. Tentu dengan demikian mereka tidak berusaha untuk mencari penghormatan dan penilaian dari Allah, sebab kalau seseorang sudah mencari penghormatan dan penilaian dari manusia untuk kehormatannya, ia tidak akan lagi mencari kehormatan dari Allah. Orang yang tidak mencari penghormatan bagi Allah tidak dapat menjadi orang percaya yang benar, sebab percaya kepada Tuhan berarti menyerahkan segala kehormatan bagi Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan hanya untuk kemuliaan Bapa dan Tuhan Yesus semata-mata (1Kor. 10:31).

Banyak orang sibuk dan tenggelam dengan pencarian kehormatan manusia sampai mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya hanyalah persiapan untuk memasuki kehidupan di balik kubur. Mereka hanya memikirkan hal-hal sekarang di bumi ini. Dengan kondisi ini manusia digiring menuju kegelapan abadi. Dan banyak orang Kristen juga ikut tergiring tanpa mereka sadari. Sebagai anak-anak Bapa, pujian yang harus kita cari dan gumuli adalah “pujian dari Tuhan” (1Kor. 4:5; 1Ptr. 1:7). Hal ini tidak mudah, sebab manusia biasanya mau merasakan pujian dari yang kelihatan sekarang di bumi, tetapi Tuhan tidak kelihatan dan pujian yang diberikan barulah nanti di langit baru dan bumi yang baru.

Berkenaan dengan hal tersebut Tuhan Yesus berkata: “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yoh. 5:44). Dari pernyataan Tuhan ini, Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya harus berusaha mencari hormat yang datang dari Allah, bukan dari manusia. Hal itu merupakan ekspresi dari percayanya kepada Tuhan. Jadi, kalau orang masih mencari hormat dari manusia berarti ia belumlah menjadi orang percaya yang benar.

Tuhan Yesus sebagai teladan hidup kita menyatakan bahwa diri-Nya tidak mencari hormat dari manusia (Yoh. 5:41). Anak Tunggal Bapa mengosongkan diri menjadi manusia, yang dalam segala hal disamakan dengan manusia biasa. Bahkan Ia mati di kayu salib dengan sangat terhina (Flp. 2:5-7), dengan cara inilah Ia memuliakan Allah Bapa di surga. Karena ia memuliakan Allah Bapa, maka Ia pun juga dimuliakan (Yoh. 8:54). Menjadi orang percaya berarti menjadi pribadi yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian standar hidup yang harus dimiliki oleh orang percaya adalah standar hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, yaitu mencari kehormatan hanya bagi Bapa. Sungguh sangat menyedihkan, kalau perjalanan hidup yang dijalani banyak orang hanya untuk mencari kehormatan bagi dirinya sendiri dari dunia. Kemiskinan cara berpikir dan gaya hidup ini juga berjangkit dalam kehidupan para pelayan jemaat, bahkan pendeta-pendeta yang berebut kursi pimpinan dalam lingkungan sinode gereja. Sehingga di gereja terdapat praktik-praktik seperti kegiatan politik sekuler. Semua itu disebabkan karena ambisi menjadi orang terhormat di antara pendeta lain. Kalau pemimpin gereja sendiri terjebak dalam kubangan tersebut, lalu bagaimana dengan jemaat?