Pujian dan Sanjungan bagi Allah
12 October 2020

Play Audio Version

Sebenarnya, Doa Bapa Kami menciptakan kondisi dimana setiap hari orang percaya dapat bersentuhan dengan Allah, bahkan mestinya setiap saat. Allah yang besar yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang Mahamulia, yang memenuhi jagat raya ini, berkenan ber-fellowship dengan orang percaya. Sebenarnya, ini adalah kehormatan di atas segala kehormatan, yaitu kalau manusia dapat bersekutu dengan Allah dan diperkenan untuk dapat menyukakan hati-Nya. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah dan berusaha menyenangkan hati-Nya tersebut akan “diperhitungkan” oleh Allah. Inilah orang-orang yang berharga di mata Allah, yang tentu saja pasti mendapat providensia Allah dengan sempurna sejak di bumi. Walaupun harus mengalami banyak proses pendewasaan—bahkan penganiayaan—tetapi suatu hari nanti akan dibawa oleh Allah ke langit baru dan bumi yang baru, tempat yang sangat membahagiakan, yaitu kehidupan yang sempurna.

Dalam kehidupan ini, ada banyak orang yang sebenarnya tidak diperhitungkan oleh Allah. Mereka menjadi tidak berharga bukan karena Allah tidak mengasihi mereka, melainkan karena mereka tidak menghargai Allah, tidak menghormati Allah, dan tidak takut akan Allah secara pantut. Sampai pada keadaan tertentu, Allah tidak memedulikan mereka, yang puncaknya adalah mereka terbuang ke dalam lautan api selama-lamanya, terpisah dari hadirat Allah. Betapa mengerikan keadaan orang-orang seperti ini. Lebih baik mereka tidak pernah ada di bumi dan hidup sebagai manusia. Di sinilah letak risiko dan konsekuensi yang sangat tinggi dalam menjadi makhluk yang disebut manusia. Banyak manusia tidak menyadari risiko kehidupan yang begitu dahsyat. Tidak heran, kalau mereka hidup dalam taraf kehidupan yang tidak jauh dari binatang yang filosofinya adalah “mari kita makan minum, sebab besok kita mati.” Betapa celakanya kehidupan manusia seperti ini. Seharusnya, kehidupan manusia memiliki makna dan isi yaitu hanya menyembah dan berbakti kepada Allah saja (Luk. 4:8). Doa Bapa Kami menggiring orang percaya untuk memiliki makna dan isi hidup ini.

Kalau seseorang diperhitungkan oleh Allah, orang itu itu menjadi berharga di mata Allah. Tentu saja mereka menjadi kesukaan bagi Allah Bapa, dan Allah Bapa pun menjadi kesukaan bagi orang-orang itu. Orang yang benar-benar menjadikan Allah sebagai kesukaannya, pasti tidak akan mencari pujian atau sanjungan dari manusia lain. Ia tidak lagi mencari kesenangan apa pun selain berusaha hidup untuk mengenal Allah dan melakukan kehendak Allah, serta memenuhi rencana yang Allah berikan kepadanya. Inilah orang yang berhenti memiliki dirinya sendiri dan hidup dalam pemilikan Allah secara penuh atau mutlak. Orang-orang seperti ini barulah patut mengucapkan kalimat: “Datanglah Kerajaan-Mu” dengan sikap yang tulus dan tidak munafik. Berbeda dengan mereka yang mengucapkan kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” tetapi ternyata masih memiliki dirinya sendiri. Mereka memang tidak bermaksud mau menipu Allah, tetapi karena mereka sendiri telah menipu dan meliciki dirinya sendiri, sehingga tanpa sadar mencoba menipu Allah. Di pengadilan Tuhan nanti, baru semua ini terkuak.

Pada umumnya, orang ingin diperhitungkan oleh sesamanya atau berharga di mata manusia. Merasa berharga di mata manusia menjadi kebutuhan semua manusia pada umumnya. Semua orang tentu berjuang untuk menjadi manusia yang berharga di mata manusia lain. Bagi mereka yang berkeadaan memiliki kelebihan dari manusia lain dan berpeluang besar untuk memperoleh pujian dan sanjungan dari sesamanya, lebih mudah terjebak dalam kubangan kesalahan itu—yaitu hidup mencari pujian dan sanjungan manusia semata-mata. Memang tidak salah kita dipuji atau disanjung orang lain, sebab kita tidak bisa melarang orang memuji dan menyanjung kita, tetapi hendaknya kita tidak mencari pujian dan sanjungan manusia, serta menikmatinya sebagai kesukaan atau kenikmatan hidup. Orang-orang yang hidup mencari pujian dan sanjungan dari sesamanya tidak patut mengucapkan kalimat dalam Doa Bapa Kami: “Dipermuliakanlah nama-Mu.”

Hendaknya kita tidak merasa sudah mempermuliakan Allah hanya karena kita menyanyikan nyanyian atau lagu rohani yang memuat syair memuji dan menyembah Allah atau memuliakan nama-Nya. Orang-orang yang sungguh-sungguh dapat memuliakan Allah—baik dalam liturgi maupun dalam perilaku—adalah orang-orang yang benar-benar sudah tidak lagi mencari pujian dan sanjungan dari manusia. Segala sesuatu yang dilakukan hanya untuk kesukaan hati Allah saja. Orang-orang seperti ini barulah dapat mengerti apa artinya menjadikan Allah sebagai “segalanya dalam hidup ini.” Bagi orang-orang seperti ini, pujian dan sanjungan manusia malah bisa terasa menyakitkan. Diam-diam, dirinya sering merasa tertekan, jika hidup dalam pujian dan sanjungan manusia. Orang-orang seperti ini benar-benar menyadari bahwa keberadaannya hanyalah oleh karena anugerah dan berkat Allah semata-mata. Karenanya, hanya bagi Allahlah segala pujian, sanjungan, dan kemuliaan.