Proses Transisi
10 October 2020

Play Audio Version

Sebagai anak-anak Allah, hidup kita harus berstandar seperti yang Tuhan Yesus miliki. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Yesus menjadi yang sulung. Yesus sudah menjadi manusia yang dalam segala hal, disamakan dengan kita (Ibr. 2:17). Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia belajar taat dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:7-9). Kata “belajar” dalam teks aslinya adalah mantano (μανθάνω), yang artinya jelas sekali, yaitu: to learn, be appraised, to increase one's knowledge, to be increased in knowledge, to hear (belajar, dinilai meningkatkan ilmunya, ditingkatkan ilmunya). Dari kebenaran ini, tidak dapat disangkali bahwa memang Yesus mengalami proses untuk mencapai kesempurnaan. Begitu juga dengan kita. Doa Bapa Kami memuat kebenaran yang memanggil kita untuk belajar mengenakan kehidupan seperti yang Yesus jalani.

 

Dengan Doa Bapa Kami, ada pengharapan untuk dapat memiliki kehidupan seperti yang dimiliki oleh Yesus. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa gagal dan merasa tidak mampu mencapai kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus. Memang di dalam diri kita masih ada nafsu daging yang sering menuntut untuk dipuaskan, tetapi kita bisa untuk tidak memberi diri tunduk kepada nafsu daging yang rendah. Seperti Paulus mengatakan, bahwa dengan akal budinya ia melayani hukum Allah atau kehendak Allah, sementara ia masih mengenakan kodrat dosa (Rm. 7:25). Pengalaman ini juga dialami setiap orang percaya. Oleh sebab itu, kita harus memilih untuk tetap taat kepada kehendak Allah; hidup dalam kesucian. Keinginan berbuat dosa memang masih ada, sementara peluang untuk berbuat dosa juga banyak, tetapi kita memilih untuk melakukan kehendak Bapa, sampai gairah melakukan kehendak Bapa menjadi gairah yang permanen di dalam diri kita, dan kita hidup hanya digerakkan oleh keinginan melakukan kehendak Bapa saja.

 

Transisi antara melakukan kehendak diri kita sendiri dengan melakukan kehendak Allah, adalah suatu perjuangan. Pelayanan yang sesungguhnya dimulai dari perjuangan itu. Kalau kita bisa menundukkan diri kepada Allah sehingga kita selalu melakukan kehendak Allah, maka sesungguhnya itulah pelayanan yang sejati; pelayanan yang sebenarnya yang Allah ingini. Tubuh kita yang dulu adalah bait atau rumah untuk melakukan kehendak nafsu kita sendiri, sekarang menjadi tempat di mana kehendak Allah dilaksanakan. Dalam perjuangan untuk bisa mengalami perubahan dari tubuh yang menjadi bait kita sendiri kemudian menjadi Bait Allah, diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yesus dalam kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga;” kalimat dalam Doa Bapa Kami.

 

Dalam pergumulan untuk dapat menjadikan tubuh kita bait Roh Kudus, Allah menuntun kita melalui Roh-Nya, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus membimbing kita agar kita hidup dalam ketaatan kepada Bapa di surga. Dalam bimbingan-Nya, Roh Kudus sama sekali tidak memaksa kita. Kita harus dengan rendah hati dan lemah lembut memberi diri untuk mengikuti bimbingan Roh Kudus. Kalau seseorang menolak bimbingan Roh Kudus, itu berarti ia mendukakan Roh Kudus. Tetapi kalau kita mau menundukkan diri hidup di dalam tuntunan Roh Kudus untuk melakukan kehendak Bapa, maka kita menyukakan hati Bapa.

 

Dalam pergumulan untuk dapat melakukan kehendak Allah, kita harus benar-benar berjuang secara maksimal. Dalam hal ini, Roh Kudus juga bergumul dengan kita untuk menanggulangi keadaan diri kita yang selama ini dikuasai oleh kodrat dosa. Seperti perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, terjadi pergumulan dan perjuangan—baik dari pihak umat, maupun Allah sendiri. Demikian pula dalam perjuangan kita untuk mengalami perubahan. Itulah sebabnya, sering Roh Kudus didukakan oleh orang-orang Kristen yang tidak mau mengalami perubahan. Hal ini mirip seperti bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran kepada Allah, dan hal itu mendukakan hati Allah. Sebagai akibatnya, banyak orang Israel yang gagal mencapai tanah Kanaan. Terkait dengan hal ini, Paulus menasihati: “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba” (1Kor. 10:11).

 

Perjuangan untuk mengalami perubahan adalah perjuangan satu-satunya yang harus kita miliki dalam hidup ini, sehingga kita benar-benar dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Untuk itu, kita tidak boleh menjadikan sesuatu sebagai tujuan hidup. Tujuan hidup kita hanyalah menjalani didikan Allah Bapa untuk dapat mengalami perubahan menjadi manusia yang berkodrat ilahi, guna layak menjadi anak-anak Allah yang akan mewarisi Kerajaan Surga. Kita harus selalu ingat bahwa Doa Bapa Kami adalah tuntunan agar orang percaya benar-benar hidup di dalam pemerintahan Allah sejak di bumi, yang nantinya akan berlanjut di langit baru dan bumi yang baru. Betapa berbahagianya kita yang mau memberi diri untuk dibentuk atau diproses oleh Allah, sehingga dapat menjadi anggota keluarga Kerajaan.