Proses Pendewasaan Sepanjang Waktu
24 February 2018

Kesalahan banyak orang Kristen adalah memandang jalan pendamaian sebagai jalan final bahwa Allah sudah berkenan kepada manusia yang mengaku percaya kepada Yesus tanpa mempersoalkan keadaan batiniah orang tersebut. Banyak orang Kristen sudah merasa puas dengan keadaannya sebagai orang “yang sudah dibenarkan”, sehingga tidak merasa perlu berjuang untuk mencapai keserupaan dengan Yesus. Gereja pun mengesankan bahwa semua jemaat sudah selamat, sudah memiliki pembenaran dari Allah dan menjadi anggota tubuh Kristus. Dengan demikian semua jemaat boleh meyakini, bahwa kalau mati pasti masuk surga. Biasanya orang-orang Kristen sejak kecil di gereja-gereja tertentu memiliki pemahaman seperti ini. Bisa dilihat kualitas hidup Kekristenan mereka begitu rendah, sehingga dari antara mereka begitu mudah meninggalkan agama Kristen berpindah kepada keyakinan atau agama lain.

Penebusan dari Tuhan Yesus dalam hidup orang percaya menempatkan orang percaya sebagai murid Tuhan Yesus, yang harus bersedia diubah melalui proses pendewasaan setiap saat di sepanjang waktu hidup ini. Perubahan yang dikehendaki adalah perubahan sampai pada berkeadaan seperti rancangan Allah semula; sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kepada orang yang mengaku percaya berlaku Firman: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Justru mereka yang menerima penebusan harus memiliki kekudusan seperti Bapa. Itulah tujuan penebusan oleh darah Yesus (1Ptr. 1:18-19).

Dalam Roma 3:25 tertulis pula kalimat… Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Kalimat ini sangat jelas menunjukkan bahwa sudah saatnya Allah tidak lagi membiarkan dosa-dosa seperti yang pernah dilakukan manusia sebelum zaman anugerah. Dalam kesabaran-Nya Allah “membiarkan” dosa-dosa telah terjadi. Allah tidak bisa berbuat apa-apa, sebab belum ada penyelesaian terhadap keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, sampai kedatangan Tuhan Yesus yang mengangkut dosa dunia dan memberi jalan pembenaran atas orang percaya.

Dengan demikian, pembenaran tersebut tidak bermaksud agar orang percaya boleh tetap hidup dalam dosa, tetapi orang percaya harus berusaha menyelesaikannya secara tuntas untuk membuang atau mengganti kodrat dosanya menjadi kodrat Ilahi. Dalam hal ini Allah memberi kuasa supaya orang percaya dapat menunaikannya. Melalui penebusan yang membenarkan, dimaksudkan agar dapat mengembalikan manusia kepada rancangan semula melalui proses pemuridan (Mat. 28:18-20). Itulah sebabnya tidak ada orang Kristen yang boleh tidak dimuridkan atau diproses bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa.

Roma 3:26 tertulis: Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan dua hal, yaitu:

– Pertama bahwa Dia benar, artinya bahwa Allah tidak menghukum manusia yang berkeadaan kehilangan kemuliaan Allah yang disebabkan oleh Adam. Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, bukan karena keinginannya sendiri. Semua manusia dilahirkan telah berkeadaan tidak seperti yang dikehendaki dan direncanakan Allah. Manusia dilahirkan dalam keadaan mewarisi dosa Adam. Penebusan oleh Yesus, menempatkan manusia kembali sebagai makhluk yang dapat berhubungan kembali dengan Allah. Kepada mereka yang percaya, Allah berkenan memateraikannya dengan Roh Kudus. Dalam hal ini kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru adalah orang-orang yang terpilih untuk bisa berhubungan dengan Allah dan mengalami keselamatan; artinya dikembalikan ke rancangan semula. Untuk ini harus ada perjuangan dimuridkan oleh Tuhan Yesus secara langsung.

– Kedua, membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Membenarkan di sini artinya manusia yang berkeadaan tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Allah, yang mestinya ditolak, dianggap “seakan-akan sudah dilayakkan”, tentu belum benar-benar berkenan di hadapan Allah. Dari pembenaran ini, maka manusia yang percaya akan mengalami perubahan untuk dikembalikan ke rancangan semula. Sangatlah bodoh, kalau orang Kristen berpikir setelah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan merasa sudah percaya bahwa dirinya sudah dibenarkan, maka secara otomatis bisa masuk surga. Dengan berpikir demikian mereka tidak lagi mengalami proses perjuangan “masuk jalan sempit” (Luk. 13:23-24). Hal ini yang membunuh iman Kristen yang murni. Orang-orang seperti masih terpenjara dalam ikatan dosa dalam dirinya secara permanen. Mereka tidak pernah dimerdekakan.

Dalam Roma 3:27 tertulis: Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Dalam ayat ini Paulus menyatakan bahwa keberadaan orang percaya yang boleh memiliki relasi dengan Allah tidak boleh bermegah. Kata bermegah dalam teks aslinya adalah kaukhesis (καύχησις). Kata ini berarti act of glorying (sikap atau tindakan membanggakan atau memuliakan). Dalam hal ini banyak orang Kristen sudah merasa menjadi “istimewa”. Sikap ini membutakan pengertian mereka, mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka belum benar-benar berkeadaan benar. Kemegahan semacam ini membuat banyak orang Kristen berhenti bertumbuh, sehingga proses keselamatan tidak berlangsung dalam hidupnya. Diri mereka baru dibenarkan secara pasif, tetapi belum mengalami proses pembenaran secara aktif. Pembenaran secara aktif adalah usaha orang percaya untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus.