Proses Dan Waktu Penghakiman
26 June 2019

Menjadi pertanyaan yang bisa muncul dan menggelitik: Bagaimana proses atau mekanisme penghakiman Tuhan nanti? Dalam Wahyu 20:11-15 terdapat perikop yang membicarakan mengenai penghakiman. Dikalangan beberapa gereja dikenal sebagai “Penghakiman Takhta Putih”, sebagai berikut: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

Memahami perikop dalam Wahyu 20:11-15, harus dengan cerdas. Seperti yang kita tahu bahwa Kitab Wahyu memuat pernyataan-pernyataan yang bersifat figuratif. Jika Wahyu 20:11-15 dipahami secara harafiah maka bisa berbenturan dengan penghakiman yang dikemukakan oleh Yesus dalam Matius 25:31-46, yaitu penghakiman terakhir atas dua kelompok manusia yang digambarkan kambing dan domba. Kepada kelompok yang ada di sebelah kanan-Nya, yang diidentifikasi sebagai domba diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga; dan sebelah kiri-Nya yang diidentifikasi kambing yaitu kelompok yang tidak diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Dalam Wahyu 20:11-15 dikemukakan adanya banyak kitab yang menjadi ukuran atau standar penghakiman, dimana orang-orang mati dihakimi berdasarkan kitab-kitab tersebut. Di dalam Wahyu 20:11-15 tidak menyinggung sama sekali adanya dua kelompok, yaitu domba dan kambing. Sedangkan di dalam Matius 25:31-46, ketika Yesus berbicara mengenai penghakiman terakhir, Yesus tidak menyinggung mengenai banyaknya kitab-kitab seperti yang dikemukakan dalam Wahyu 20:11-15. Perbedaan proses atau mekanisme penghakiman Tuhan dari dua perikop tersebut bisa membingungkan. Bisa muncul tuduhan bahwa Alkitab tidak konsisten. Oleh sebab itu kita harus sangat ketat memerhatikan konteks dalam menganalisa konteks ayat dan pasal.

Kita harus mengakui bahwa Alkitab tidak mengungkapkan secara jelas dan detil proses atau mekanisme mengenai penghakiman atas orang-orang mati. Hal ini pasti dipandang tidak perlu karena tidak prinsip. Tetapi yang pasti sangat perlu dan dipandang mutlak untuk dikemukakan adalah bahwa setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini selama hidupnya. Jadi, proses atau mekanisme penghakiman dipandang relatif, tetapi yang mutlak atau tidak relatif adalah pertanggungjawaban setiap individu di hadapan takhta pengadilan Kristus. Hal yang bersifat relatif tidak boleh dimutlakkan, tetapi yang mutlak tidak boleh direlatifkan. Mengenai proses dan mekanisme penghakiman bukan sesuatu yang mutlak, melainkan relatif, adapun mengenai pertanggungjawaban yang menjadi isi penghakiman adalah hal yang mutlak.

Kalau dipersoalkan, kapan penghakiman atas setiap individu dilangsungkan, pertanyaan ini sulit dijawab atau lebih tepatnya tidak perlu dijawab, sebab setelah seseorang mengalami kematian maka tidak ada perjalanan waktu. Jadi pertanyaan “kapan” itu tidak bisa dijawab dalam suatu keadaan atau kondisi dimana tidak ada perjalanan waktu. Selama hidup di dunia sebenarnya seseorang sudah menetapkan keadaannya sehingga tidak perlu ada pembuktian, begitu seseorang meninggal dunia, sudah jelas penempatannya (surga atau neraka).Atau kalau di surga, sudah jelas porsi upah yang akan diterima masing-masing individu.

Kalau kita memerhatikan fragmen yang dikemukakan Yesus di dalam Lukas 16:19-31, tidak dikemukakan proses dan mekanisme penghakiman serta waktu penghakiman. Di dalam fragmen tersebut, begitu Lazarus meninggal dunia, ia sudah ada di pangkuan Abraham. Demikian pula dengan orang kaya, begitu meninggal dia sudah ada di tempat penderitaan yang sangat menyakitkan. Dalam fragmen tersebut, tersirat kebenaran bahwa sejak hidup di bumi seseorang sudah mengukir dan menetapkan keadaan kekalnya. Jadi begitu meninggal dunia sudah memiliki tempat tertentu yang menjadi bagiannya. Dengan demikian tidak perlu dipersoalkan bagaimana proses atau mekanisme penghakiman, serta kapan hal itu berlangsung.