Pribadi Ketiga
28 December 2016

Semua data yang tertulis dalam Alkitab membuktikan bahwa Roh Kudus dapat dikatakan sebagai suatu Pribadi. Tetapi masalahnya adalah apakah Roh Kudus bisa dikatakan sebagai Pribadi Ketiga? Jawaban terhadap pertanyaan ini tidak mudah sebab selama ini sudah terpatri dalam pikiran banyak orang Kristen bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal. Pemahaman banyak orang seakan-akan Roh Allah secara mutlak dapat terpisah dari Allah; bisa mandiri atau independen. Dalam hal ini orang percaya yang mau memperoleh pencerahan dituntut kesediaannya untuk membuka diri dengan tidak takut terhadap hal-hal yang baru, yang lebih terbuka dan akurat dalam mengungkapkan kebenaran. Dengan jujur kita harus melihat kebenaran Injil untuk memformulasikan kembali doktrin-doktrin yang selama ini sebenarnya kurang tepat atau kurang lengkap, walau formulasi tersebut berbeda dengan pandangan konservatif yang sudah mengakar seakanakan sejajar dengan Firman Tuhan.

 

Apakah Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal? Tentu saja bisa dijawab ya sebab Roh Kudus adalah representasi dari Allah (Elohim). Bila jawabnya menggunakan kata “bisa”, ini berarti “tidak mutlak”. Harus diingat bahwa Roh Kudus bukan Allah Bapa dan juga bukan Allah Anak. Roh Kudus adalah Roh Kudus, bukan Pribadi Anak juga bukan Pribadi Bapa. Roh Kudus adalah Roh Allah. Harus dicatat di sini Roh Kudus bukan Roh yang keluar dari Tuhan Yesus, tetapi keluar dari Bapa. Ketika Roh Kudus berurusan dengan manusia dan hadir di tengah-tengah kehidupan seakan akan Ia terpisah dari pribadi Allah Bapa, padahal tidak; tidak akan pernah terpisah dari Allah Bapa.

 

Apakah Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal? Bisa dijawab tidak bila dikaitkan dengan relasinya-Nya yang tidak dapat terpisah dari Allah. Jadi, bisa dikatakan bahwa Roh Kudus bukan Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal. Mengapa? Sebab Roh Kudus mengalir dari Allah Bapa dan tidak pernah ada keterpisahan atau kemandirian mutlak dengan Allah Bapa (Yoh. 15:26). Sulit untuk mengatakan bahwa Roh Kudus bisa berdaulat mandiri tanpa ikatan dengan Allah Bapa secara mutlak, sebab Alkitab tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus bisa terpisah dari Allah.

 

Tersirat di Alkitab bahwa pribadi adalah entitas yang bisa berdaulat dengan kemandirian penuh seperti Tuhan Yesus, Lusifer dan para malaikat serta manusia. Jadi, Roh Kudus juga bisa dikatakan bukan Pribadi Ketiga sebab tidak ada penjelasan atau kesan atau isyarat bahwa Roh Kudus bisa mandiri dari Allah. Kalau Lusifer, malaikat bisa memberontak kepada Allah; juga Tuhan Yesus memiliki peluang tidak taat kepada Allah seperti manusia; tetapi Roh Kudus tidak akan pernah bisa memberontak kepada Allah, sebab Roh Kudus adalah Roh Allah Bapa sendiri yang tidak mandiri dan berdaulat berdiri sendiri.

 

Mengapa melawan Tuhan Yesus atau yang sama dengan menghujat Tuhan Yesus (speak a word against) bisa diampuni tetapi menghujat Roh Kudus tidak diampuni? Sebab Roh Kudus menyatu dengan Allah Bapa (Mrk. 3:28-29; Luk. 12:10). Roh Kudus adalah representasi dari Allah Bapa yang tidak terpisah. Menghujat Roh Kudus berarti menolak seluruh tindakan Allah Bapa. Roh Allah adalah representasi satu-satunya, baik dari Bapa maupun dari Allah Anak. Kalau Roh Kudus ditolak berarti tidak ada Pribadi lain yang mengingatkan dan menggarap.

 

Sebenarnya kalau mengatakan bahwa Roh Kudus Pribadi Ketiga seakan-akan atau kesan yang bisa timbul bahwa Roh Kudus bisa terpisah dari Allah Bapa, padahal Roh Kudus adalah Roh Allah Bapa sendiri. Roh Kudus adalah cara kehadiran Allah Bapa di segala tempat, zaman dan waktu. Allah ada di mana-mana sebagai Allah yang Mahahadir. Kalau Roh Kudus bisa dikatakan mutlak sebagai Pribadi Ketiga, maka penjelasan mengenai Allah yang esa menjadi sangat sulit. Penjelasan mengenai Allah Tritunggal menjadi absurd (tidak masuk akal, mustahil, aneh). Yang benar adalah Allah Bapa ada di surga, Allah Anak duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan Roh Kudus hadir di mana-mana mewakili Lembaga atau institusi Allah (Elohim). Jadi pernyataan Roh Kudus adalah Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal bersifat relatif, tidak mutlak, tergantung dari sudut mana pernyataan itu berangkat.