Perubahan Status
26 August 2019

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Ini adalah tatanan Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah.

Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.

Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan.

Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan.

Keempat, merindukan rumah Bapa.

Kelima, berjuang tanpa batas melakukan kehendak Bapa dalam pelayanan penyelamatan jiwa-jiwa.

Masing-masing butir ini memuat pengertian yang luas dan mendalam. Tanpa ciri-ciri ini seseorang tidak pantas menyandang statusnya sebagai anak-anak Allah. Jadi, kalau kita belum memiliki ciri-ciri ini, seharusnya kita bertobat dan berjuang sungguh-sungguh untuk mencapainya.

 

Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari “anak gampang” (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun. νόθος) menjadi anak yang sah atau huios (Yun. υἱός). Nothos adalah anak yang tidak resmi (Ing. Illegitimate child, a child born to unmarried parental). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12. Inilah perjuangan yang harus dijalani setiap orang percaya sebagai perlombaan yang diwajibkan (Ibr. 12:1). Betapa malangnya orang-orang yang merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah, sehingga tidak bertekun dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Sebagai gantinya, yang diusahakan adalah pengesahan sebagai “manusia yang wajar” di mata manusia lain dengan segala atributnya. Atributnya antara lain pendidikan, pekerjaan, teman hidup dan berumah tangga, memiliki keturunan, fasilitas seperti rumah, mobil, barang branded, dan berbagai fasilitas lainnya. Semua ini dipandang sebagai memberi martabat. Pada umumnya orang berjuang hanya untuk hal-hal ini sampai ia masuk ke dalam kubur. Mereka akan sangat menyesal, kalau ternyata perjuangan yang mereka lakukan selama hidup di bumi ini sia-sia. Mereka hanya bekerja mencari roti yang dapat binasa, tetapi bukan mencari roti yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27).

 

Satu hal yang harus dipahami orang percaya adalah bahwa pengesahan sebagai anak-anak Allah yang sah ditentukan oleh apakah seseorang mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat Ilahi atau tidak (Ibr. 12:10; 2Ptr. 1:3-4). Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat Ilahi artinya memiliki karakter seperti Bapa sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa. Dengan hal ini hendaknya seseorang tidak mudah mengaku sebagai anak Allah yang sah dan merasa layak masuk ke dalam Kerajaan Surga hanya karena menjadi orang Kristen dan merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukanlah sesuatu yang sederhana. Harus dipahami dengan benar bahwa percaya bukan saja pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Percaya adalah tindakan selalu melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Bapa. Untuk memiliki percaya yang benar, seseorang harus melakukan perjuangan, karena percaya bukan hanya aktivitas pikiran tetapi tindakan konkret dalam perilaku setiap hari. Dalam hal ini ada usaha dalam perjuangan yang sungguh-sungguh melepaskan cara hidup yang lama dan mengenakan cara hidup yang baru.

 

Penyesatan yang sudah mendarah daging dalam kehidupan banyak orang Kristen selama ratusan tahun adalah ajaran yang memudahkan seseorang berstatus sebagai anak-anak Allah. Dikesankan secara tidak langsung maupun secara langsung bahwa semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus adalah anak-anak Allah. Kemudian mereka merasa berhak masuk surge, sebab telah berstatus sebagai anak-anak Allah. Seharusnya yang mengesahkan apakah seseorang anak-anak Allah atau bukan adalah Allah sendiri, bukan manusia. Setelah Tuhan Yesus berusia tiga puluh tahun, barulah Ia mendapat pengesahan dari Bapa di surga yang menyatakan bahwa Dia adalah Anak Allah yang dikasihi-Nya. Kesalahan ini juga disebabkan karena pengertian yang salah mengenai konsep anugerah. Dipahami oleh banyak orang Kristen bahwa anugerah secara otomatis membuat seseorang berstatus sebagai anak-anak Allah yang sah. Sehingga mereka tidak pernah mengerti tanggung jawabnya untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar.