Pertimbangan yang Baik dan Jahat
20 November 2020

Play Audio Version

Pada prinsipnya, ketika manusia makan buah “pengetahuan tentang yang baik dan jahat,” maka manusia menempatkan diri dalam posisi sebagai manusia yang dalam tindakannya berdasarkan pertimbangan baik dan jahat, yang mana hal ini tidak dirancang oleh Allah. Dengan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, bukan berarti manusia menjadi biadab seperti binatang, tetapi dalam bertindak dan mengambil keputusan, manusia terpenjara dalam kawasan antara yang baik dan jahat.

Manusia memang masih bisa berbuat baik, itulah sebabnya Allah memberikan hukum agar manusia difasilitasi untuk tetap eksis sampai pada kedatangan Juruselamat. Khususnya dalam hal ini, atas umat pilihan, yaitu bangsa Israel. Sebenarnya, makhluk ideal yang Allah rancang bukanlah “makhluk hukum” melainkan makhluk ilahi yang dalam segala sesuatu yang dilakukannya bisa selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat ilahi.

Allah merancang manusia berkeadaan seperti diri-Nya, yaitu segambar dan serupa dengan Allah, artinya sebagaimana Allah adalah pribadi yang tidak pernah berbuat jahat atau tidak ada pertimbangan untuk melakukan sesuatu yang salah, demikian pula mestinya keadaan manusia. Manusia dirancang untuk memiliki moral seperti Allah, dimana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dapat selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, berarti manusia tidak mampu berpikir seperti Allah berpikir, manusia tidak akan mampu bertindak seperti Allah bertindak. Manusia tidak mampu memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah Bapa. Dengan demikian, manusia tidak layak menjadi anak-anak Allah, sebab anak-anak Allah harus berkeberadaan seperti Bapa. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Allah berfirman agar kita berkeadaan Kudus seperti Allah Bapa. Kemudian disambung dengan kalimat kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, maka harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1Ptr. 1:16-17). Mengapa harus hidup dalam ketakutan kepada Allah? Karena harus menghormati Allah dengan hidup dalam kekudusan, seperti kekudusan-Nya.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar makhluk ciptaan Allah yang segambar dan serupa dengan Allah. Walaupun tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai rancangan Allah semula, manusia masih bisa berbuat baik. Tetapi manusia berkeadaan bisa terseret oleh setan atau Iblis untuk melakukan kejahatan setingkat Iblis sendiri. Hal ini tidak disadari oleh banyak orang. Memang kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak otomatis membuat manusia menjadi biadab seperti binatang atau seperti setan, tetapi manusia berpotensi berkeadaan seperti binatang, bahkan seperti setan sendiri.

Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, maka manusia bisa berkeberadaan seperti Allah, yaitu segambar dan serupa dengan Allah. Ini berarti manusia tidak akan pernah memiliki pertimbangan yang jahat. Dengan adanya yang baik dan jahat sebagai hasil memakan buah yang dilarang Allah, maka manusia terpenjara dalam keadaan tidak mampu mencapai keadaan segambar dan serupa dengan Allah sesuai rancangan Allah semula. Sesungguhnya, inilah inti dusta dari setan atau Iblis. Dengan makan buah yang dilarang itu, manusia tidak akan pernah menjadi seperti Allah. Justru manusia berpotensi berkeberadaan seperti Iblis. Dalam hal ini, patutlah setan atau Iblis disebut sebagai bapa segala dusta. Dengan keberadaan manusia ada dalam kawasan memiliki pertimbangan baik dan jahat dalam mengambil keputusan dan bertindak, Iblis memiliki akses untuk menarik atau menyeret manusia kepada tindakan dan perbuatan yang melawan Allah seperti yang ia lakukan. Walaupun tentu dalam hal ini setan atau Iblis tidak bisa memaksa manusia menuruti bujukannya, tetapi manusia berpotensi untuk berkeberadaan seperti Iblis.

Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya membuat manusia bisa berbuat baik dan menjauhi kejahatan, tetapi manusia hendak dikembalikan ke rancangan semula Allah, dimana manusia bisa berkeberadaan “tidak bisa berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kekudusan Allah.” Rancangan Allah adalah manusia bisa berkeberadaan segambar dan serupa dengan diri Allah. Dengan berkeberadaan segambar dan serupa dengan Allah, maka seseorang yang ada pada level ini tidak lagi memiliki pertimbangan untuk melakukan sesuatu yang jahat. Iblis tidak dapat memiliki kesempatan untuk dapat menjatuhkan orang percaya tersebut. Orang percaya seperti ini tidak akan pernah terseret memiliki spirit atau gairah seperti yang ada pada diri setan atau Iblis. Dalam hal ini, umat pilihan harus memilih apakah mau menjadi seperti Allah—yaitu menjadi serupa dengan Yesus—atau menjadi seperti musuh-Nya. Inilah isi perjuangan kita sebagai umat pilihan, yaitu mengalami pertumbuhan untuk bisa menjadi segambar dan serupa dengan Allah yang modelnya adalah Yesus, sehingga kita tidak akan pernah terseret menjadi makhluk seperti setan atau Iblis. Kita bukan saja bisa menjadi baik, tetapi juga menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan rohani.