Perjuangan Yang Tidak Mudah
25 May 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 8:29, tertulis bahwa Allah tidak menentukan individu atau manusianya untuk selamat, tetapi yang ditentukan adalah standarnya atau target yang harus dicapai, yaitu serupa dengan Yesus. Kalau yang ditentukan adalah manusianya—bukan target yang harus dicapai—maka hal keserupaan dengan Yesus bukanlah sesuatu yang unggul atau luar biasa, yang menjadi tujuan perjalanan hidup kekristenan. Juga berarti bukan sesuatu yang patut diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, sehingga hal ini bisa dianggap tidak penting. Bagaimana bisa dianggap penting dan berharga secara proporsional kalau keselamatan dapat diperoleh dengan mudah dan secara otomatis, sebab memang sudah ditentukan untuk memilikinya dari Allah tanpa perjuangan? Tidak heran, orang-orang Kristen seperti ini tidak memiliki perjuangan untuk hidup berkenan kepada Allah. Tidak sedikit mereka hanya menjadi orang yang beragama Kristen dan mudah berpindah agama.

Sejatinya, penentuan atau penetapan standar untuk menjadi serupa dengan Yesus merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dengan penentuan atau penetapan tersebut, secara tidak langsung juga hendak dikemukakan betapa hebat kekuatan kasih karunia yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu kuasa (Yun. Exousia) supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Biasanya, mereka yang berpikir salah mengenai “keselamatan bukan karena perbuatan baik,” memiliki prinsip bahwa menjadi sempurna bagaimana pun tidak membuat seseorang bisa masuk surga. Pandangan salah ini membuat pikiran mereka menjadi sempit. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, melainkan untuk mengisi maksud keselamatan, umat pilihan harus menjadi sempurna.

Pandangan salah tersebut membuat banyak orang Kristen tidak memiliki perjuangan yang patut untuk memenuhi maksud keselamatan diberikan. Mereka sudah merasa puas dengan hidup keberagamaannya yang dangkal dan miskin, sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti anak dunia lainnya. Pengertian yang salah tersebut menghancurkan hidup kekristenan mereka, sehingga mereka gagal memiliki keselamatan yang disediakan oleh Allah, yaitu untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula. Mereka tidak mengerti tanggung jawabnya untuk bertumbuh dalam proses dimuridkan oleh Tuhan Yesus agar menjadi serupa dengan Dia atau sempurna seperti Bapa. Dengan cara ini, orang-orang Kristen tersebut bukan saja dikondisi tidak aktif (walau kelihatannya aktif dalam kegiatan gereja), melainkan juga mereka tergiring ke dalam kegelapan abadi.

Dalam proses keselamatan, dari pihak Allah, Ia menyediakan fasilitas yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian. Fasilitas keselamatan ini memberi “kuasa” supaya umat pilihan dikembalikan ke rancangan semula. Tetapi dari pihak manusia, harus melakukan perjuangan dengan memberi diri digarap oleh Allah, guna mencapai keadaan sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan pencapaian ini, seseorang mengalami kelahiran baru, dan dapat dikatakan sebagai mengenakan kodrat ilahi. Perjuangan ini ditulis dalam Ibrani 12:1-4 sebagai “perjuangan melawan dosa.” Ini adalah perjuangan yang berat, dimana orang percaya harus mengerahkan segenap hidup. Dalam Ibrani 12:4, tertulis bahwa dalam perjuangan tersebut, orang percaya harus sampai mencucurkan darah.

Umat pilihan yang mau benar-benar terpilih, harus mengalami perjuangan berat dengan harga seluruh kehidupan ini. Seseorang yang bertekad menjadi umat pilihan yang terpilih, harus berani mempertaruhkan segenap hidupnya. Kegagalan pemuda kaya untuk memiliki keselamatan atau hidup yang berkualitas, karena ia tidak rela kehilangan segala sesuatu (Mat. 19:16-26). Persoalan ini juga diperbincangkan murid-murid ketika pemuda kaya tersebut tidak berani membayar harga pengiringannya. Ia pergi dengan sedih sebab banyak hartanya. Orang kaya tersebut tidak mau kehilangan hartanya, sehingga tidak bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian, tidak bisa disangkali bahwa untuk menerima dan memiliki keselamatan, seseorang harus berani melepaskan segala sesuatu agar bisa menerima Yesus dalam hidupnya. Menerima Yesus berarti mengenakan gaya hidup-Nya. Orang Kristen yang masih duniawi berarti tidak memiliki keselamatan.

Selama belum mencapai goal yang Tuhan targetkan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula atau menjadi seperti Yesus, orang percaya harus terus berusaha untuk mengerti apa artinya kerja keras dalam merespons keselamatan yang Allah kehendaki. Untuk ini, respons kita harus cukup atau memadai. Orang muda kaya dalam Matius 19:16-26, pada dasarnya memang tidak bersedia membayar harga untuk mencapai standar hidup berkualitas tinggi. Ia tidak masuk dalam proyek kemustahilan sebab ia tidak berani melakukan terobosan. Berbeda dengan Zakheus (Luk. 19). Ia juga mempunyai jabatan sebagai kepala pemungut cukai, ia kaya dan hartanya banyak. Tetapi ketika ia menyambut Tuhan Yesus, tanpa diperintah Yesus, ia membagikan separuh hartanya kepada orang miskin. Dan kalau ada orang yang pernah ia peras, ia kembalikan empat kali lipat. Respons Zakheus ini memadai untuk menerima keselamatan. Ini sebuah perjuangan yang tidak mudah.