Perjuangan Sebagai Umat Pilihan
21 May 2020

Play Audio Version

Salah satu penyebab banyak orang Kristen tidak berjuang dalam hidup iman atau keselamatannya adalah karena merasa sudah menjadi umat pilihan. Dalam persepsi mereka, menjadi umat pilihan berarti sudah terpilih untuk diselamatkan dan pasti masuk surga. Itulah sebabnya dalam kebaktian di gereja-gereja tertentu, jemaat hanya diarahkan untuk “merayakan” keselamatan yang sudah mereka miliki dalam suasana euphoria sebagai orang-orang yang sudah selamat. Mereka mengisi hidup kekristenannya tidak dengan berjuang untuk bagaimana melakukan kehendak Bapa seperti Yesus, tetapi mensyukuri keselamatan yang sudah mereka miliki. Sementara hidup di bumi ini, mereka merasa berhak meminta dan memiliki berkat-berkat jasmani Tuhan untuk bisa menikmati dunia, dan meraih segala keberhasilan seperti konsep keberhasilan pada umumnya. Setelah menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia ini, kemudian mereka yakin kalau mati, boleh masuk surga.

Sebenarnya pengertian umat pilihan adalah mereka yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mendengar Injil, sehingga berpotensi untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu agar dapat berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Umat pilihan adalah orang-orang yang hidup di zaman anugerah, dimana mereka mendapat kesempatan mendengar Injil. Orang yang menjadi umat pilihan adalah mereka yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Ini berarti, umat pilihan Kerajaan Allah adalah mereka yang hidup sejak abad pertama atau abad 1 Masehi. Mereka adalah orang-orang memiliki keberadaan fisik dan psikis yang baik, sehingga memungkinkan dapat menerima Injil dengan maksimal. Potensi menjadi anak-anak Allah ini mencapai puncaknya pada level dilayakkannya seseorang menjadi anggota Kerajaan Surga.

Bagi mereka yang menerima kesempatan mendengar Injil, hendaknya tidak menyia-nyiakan anugerah yang Tuhan berikan. Mereka harus merespons kasih karunia yang ditawarkan oleh Allah agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Kalau mereka benar-benar merespons dengan benar, mereka bukan saja disebut sebagai umat pilihan melainkan juga “umat pilihan yang terpilih.” Terpilihnya seseorang juga tergantung respons individu terhadap anugerah keselamatan. Orang Kristen disebut sebagai umat pilihan bukan berarti sudah pasti dipilih dan ditentukan untuk masuk surga. Firman Allah mengatakan: Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:1-14). Banyak orang ditunjuk sebagai umat pilihan, tetapi karena tidak merespons kasih karunia yang Allah sediakan, maka sedikit yang benar-benar mencapai maksud tujuan keselamatan itu diberikan.

Banyak orang Kristen karena merasa dan meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, maka secara otomatis sudah menjadi umat pilihan yang diperkenan masuk surga. Mereka berpikir, asalkan sudah dipilih dan ditentukan untuk selamat, bagaimana pun pasti tergiring masuk surga. Ini pandangan picik yang menyimpang dari kebenaran Injil. Kenyataan yang tidak terbantahkan, tidak semua yang telah mendengar Injil sungguh-sungguh mau mengikut Yesus. Mereka yang bersedia mengikut Yesus pun ternyata tidak semuanya setia sampai akhir.

Tanpa disadari, banyak gereja yang menyesatkan umat. Mereka menyatakan bahwa jemaat yang sudah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja, berarti sudah menjadi umat pilihan Allah yang sudah diselamatkan dan pasti masuk surga. Di sini, kekristenan menjadi murahan, seakan-akan menjadi jalan mudah masuk surga. Dengan keadaan ini, banyak orang Kristen tidak memiliki perjuangan untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Tentu saja mereka tidak mengalami proses pendewasaan yang proporsional. Sejatinya, menjadi umat pilihan yang terpilih dan pasti selamat masuk surga bukan karena pengesahan dari gereja,” melainkan pengakuan dari Tuhan bahwa seseorang telah melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23).

Orang Kristen yang menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Oleh sebab itu, keselamatan harus benar-benar direspons dengan tindakan, bukan hanya dengan keyakinan di dalam pikiran. Tentu saja, kehidupan orang percaya yang memiliki iman yang sejati pasti melakukan perjuangan yang membuatnya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Mereka akan menjadi semakin seperti Yesus, memiliki keagungan moral yang menakjubkan. Kehidupan orang percaya seperti ini tentu saja sangat berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Kualitas hidup orang percaya menunjukkan kebenaran imannya. Oleh sebab itu, para pembicara di mimbar harus berani berbicara tegas bahwa untuk menjadi umat pilihan yang terpilih, dituntut perjuangan segenap hidup tanpa batas. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, berarti orang tersebut harus melakukan kehendak Bapa. Tentu saja kehendak Bapa pada intinya adalah mengenakan hidup seperti yang telah dikenakan oleh Yesus. Kehidupan Yesus yang merupakan contoh dari seseorang yang sesuai dengan rancangan Allah semula.