Perjuangan Sebagai Anak-Anak Allah
23 May 2020

Play Audio Version

Di dalam Roma 8:28-29, terdapat penjelasan penting untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa Allah tidak secara sepihak memilih dan menentukan orang-orang tertentu masuk surga dan yang lain masuk neraka. Roma 8:28-29 menuliskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Kesalahan memahami ayat ini bisa membangun teologi yang menyimpang dari kebenaran.

Dari tulisan Paulus ini, diperoleh pelajaran rohani bahwa melalui setiap peristiwa atau kejadian, Allah bekerja menggunakan semua hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Dalam hal ini, Allah membutuhkan sarana untuk mendewasakan orang percaya. Secara tidak langsung, hal ini mengisyaratkan bahwa perubahan hidup orang percaya haruslah menuju kedewasaan agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Perubahan ini tidak dapat berlangsung dengan mudah atau secara otomatis. Ada sarana yang Allah gunakan dalam proses perubahan tersebut. Di pihak lain juga ada perjuangan, baik dari pihak Allah melalui Roh Kudus, dan orang percaya yang menerima penggarapan Allah tersebut. Hal ini memberi petunjuk pentingnya respons manusia dalam menyambut anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Karena hal “mengasihi Allah” merupakan hal yang bersifat pribadi, maka Allah tidak berintervensi di dalam hati manusia sehingga manusia kehilangan kebebasannya.

Dalam Roma 8:29 tertulis: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Kalimat “orang yang dipilih-Nya dari semula” menunjuk kepada orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil dengan benar, dan memiliki potensi jasmani dan rohani untuk bisa merespons Injil dengan benar. Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mendengar Injil yang benar, diharapkan merespons dengan benar sehingga benar-benar terpilih agar mengalami dan memiliki keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula, yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah seperti Yesus.

Betapa hebat status orang percaya dalam bingkai keselamatan, karena orang percaya disebut sebagai saudara bagi Yesus (Rm. 8:28-29). Dengan status dan sebutan ini, secara tidak langsung dikemukakan bahwa sejak semula, memang Adam adalah anak Allah dan diharapkan semua manusia menjadi anak-anak Allah yang memiliki kodrat ilahi atau mengenakan kekudusan Allah (1Ptr. 1:3-4; Ibr. 12:9-10). Dengan hal ini, orang percaya dipanggil untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau memiliki kekudusan seperti Allah (1Ptr. 1:16). Untuk mencapai standar kehidupan ini, bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh, sebab banyak yang berusaha diselamatkan tetapi sedikit yang mencapainya atau memperolehnya (Luk. 13:23-24).

Dalam Roma 8:29, terdapat kalimat “menjadi yang sulung di antara banyak saudara,” kalimat ini menunjukkan bahwa Yesus telah memulai dan berhasil menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Hal ini berimplikasi kepada semua orang yang percaya kepada Yesus, harus juga mengikuti jejak-Nya, atau mencapai apa yang Yesus capai. Semua orang yang berkesempatan mendengar Injil dan berjuang sungguh-sungguh merespons kasih karunia dengan benar, dapat mencapai standar kehidupan seperti yang dicapai oleh Yesus. Itulah sebabnya, orang percaya ditentukan untuk memiliki standar serupa dengan Yesus. Standar ini tidak boleh diturunkan. Memang sejak semula, Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti yang Dia kehendaki. Untuk itu, orang percaya harus taat kepada-Nya. Panggilan untuk taat kepada Allah menunjukkan syarat yang harus dipenuhi untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Orang yang mengaku percaya kepada-Nya harus mengikuti jejak Yesus, yaitu hidup seperti Dia sebagai Pokok Keselamatan (Ibr. 5:7-9). Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk tidak serupa dengan dunia ini, tetapi harus hanya serupa dengan Yesus.

Dalam Efesus 1:4, Firman Tuhan tertulis: “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mendengar Injil harus memiliki respons yang memadai atau yang benar untuk bisa kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus memiliki perjuangan yang sungguh-sungguh agar dapat mencapai maksud keselamatan diberikan, yaitu segambar dan serupa dengan Yesus, yang sama artinya dengan hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya, Firman Tuhan di dalam 1 Tesalonika 4:7 tertulis: Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Orang Kristen yang tidak berjuang untuk hidup kudus berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.