Perjuangan Orang Percaya
31 January 2017

Kalau kita memahami bahwa dunia akhir zaman sangat rawan, maka hal itu akan mendorong kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah. Agar tampil sebagai pemenang. Panggilan ini senada dengan apa yang diucapkan rasul Paulus di dalam Galatia 5:1, “…jangan mau dikenakan kuk perhambaan lagi….” Jangan terkecoh dengan ajaran yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak akan dapat jatuh dalam dosa lagi. Ajaran semacam ini akan memperlemah gairah pengiringan kita yang murni kepada Tuhan, sehingga kurang bersungguh-sungguh dalam meningkatkan mutu kehidupan rohani (Flp. 2:12).

Waspadalah (Ibr. 3:12), kata ini merupakan kata peringatan sekaligus ancaman. Peringatan ini tidak membuat kita menjadi orang Kristen yang dikejar-kejar ketakutan, tetapi peringatan yang membuat kita waspada. Sebaliknya, anggapan yang mengatakan bahwa kita tidak akan bisa murtad lagi akan menciptakan orang Kristen yang kurang mempraktikkan kebenaran Allah. Biasanya lebih banyak mendiskusikan Alkitab dan mempercakapkannya daripada mempersonifikasikan dalam hidup. Ada suatu perjuangan yang dilakukan Roh Kudus sebagai representatif Tuhan, yaitu mempersiapkan kita menjadi umat yang layak bagi-Nya. Kita yang diambil dari kubangan dosa dunia belum berkeadaan sebagai umat yang layak bagi-Nya. Menjadi umat yang layak bagi-Nya artinya hidup kita tidak sama atau serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Apa maksud tidak serupa dengan dunia ini? Dalam teks aslinya suschematizo (berarti ‘to fashion alike’ atau conform to the same pattern, conform to fashionself according to). Dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James diterjemahkan ‘And be not conformed to this world’. Terjemahan versi lain ‘Do not conform yourselves to the standards of this world’. Itulah sebabnya Roh Kudus bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, yaitu agar orang percaya tidak seperti dunia ini, tetapi seperti Yesus.

Tidak serupa dengan dunia ini harus dipahami dengan benar. Tidak serupa di sini yang terutama bukan pada penampilan lahiriahnya. Tetapi “pikiran”nya atau budinya (Yun. nous diterjemahkan mind (pikiran) juga diterjemahkan understanding (pengertian). Dalam hal ini teringatlah kita dengan percakapan Tuhan Yesus dengan murid-murid di Matius 16:21-23. Apa yang dipikirkan manusia adalah pikiran dari dunia ini. Pikiran seperti ini disebutkan ‘pengertian yang gelap’ (Ef. 4:18 dianonia ontes apellotriomenoi, the understanding being alienated ; pengertian yang asing atau pikiran asing ). Petrus berkata demikian sebab ia berpikir sama seperti orang-orang Yahudi berpikir. Petrus berpikir bahwa suara terbanyak itulah yang terbaik. Suara terbanyak bisa suara rakyat, tetapi suara rakyat belum tentu suara Tuhan.

Dunia telah cemar, dimana suara terbanyak atau gaya hidup kebanyakan manusia pada umumnya bukanlah ukuran kebenaran. Inilah yang terjadi dalam hidup banyak orang Kristen hari ini. Ini adalah pikiran asing. Pikiran asing bagi warga Kerajaan Tuhan yang hendak dijadikan umat yang layak bagi-Nya. Pengertian seperti inilah kendaraan Iblis untuk membinasakan umat Tuhan. Ingat Iblis adalah pencuri yang datang untuk membunuh dan membinasakan, tetapi banyak orang mengira apa yang dipikirkan itu yang baik untuk dirinya. Kita harus mengenali hal ini dan berkata kepada Tuhan: Selidikilah aku ya Tuhan. Setelah menjadi anak Tuhan, ada perjuangan berat yang dialami orang percaya. Perjuangan berat tersebut adalah perjuangan menghadapi musuh, yaitu penghulu roh-roh di udara. Kalau dahulu kita di pihak musuh, yaitu bersikap melawan Tuhan, tetapi sekarang kita di pihak Tuhan, harus hidup dalam kebenaran Tuhan. Ini berarti kita menjadikan diri kita musuh penghulu roh-roh di udara.

Dalam Efesus 6:12 menyatakan: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara”. Perhatikan kata perjuangan dalam teks ini. Perjuangan di sini dari kata pale yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan struggle, yaitu pergulatan. Seperti seorang adu gulat, ia harus berjuang, terus bergerak untuk merebut kemenangan, kepasifan berarti kekalahan. Seorang pegulat tidak boleh berhenti berjuang, ia ada dalam situasi di mana lawan terus berusaha untuk menaklukkannya. Kekristenan tidak boleh dijalani dengan santai dan pasif, tetapi berjaga dan selalau kuat. Karenanya di Efesus 6:10 Paulus menasihati kita: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”