Perjuangan Menghasilkan Buah
30 August 2019

Untuk menghasilkan buah-buah kehidupan dari pertobatan yang sungguh-sungguh bukan hal yang mudah, dan tidak terjadi secara otomatis. Ada tatanan Allah yang harus dilalui atau dijalani. Sama seperti seseorang menanam sebuah pohon. Tidak dalam semalam bahkan tidak cukup dalam satu bulan sudah bisa menghasilkan buah. Ini adalah tatanan Allah. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Untuk menghasilkan buah-buah pertobatan yang dikehendaki oleh Allah, bukan sesuatu yang mudah. Ini adalah sesuatu yang benar-benar sukar. Kesukarannya terletak pada beberapa hal:

Pertama, umat pilihan juga manusia yang berdosa yang di dalam dirinya mengalir hasrat atau kekuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan (Rm. 7:21-26). Itulah kodrat dosa. Orang percaya dipanggil untuk berusaha berkenan kepada Tuhan (2Kor. 5:9-10). Sebuah usaha berjalan dalam Roh, tidak hidup menurut daging (Rm. 8:9; Gal. 5:18, 24-25).

Kedua, umat pilihan juga manusia yang sudah terpengaruhi oleh model atau gaya anak-anak dunia, sehingga gaya hidup yang mereka kenakan mereka anggap sebagai kehidupan yang wajar. Banyak orang sudah terbiasa dengan model atau gaya hidup seperti itu. Padahal, gaya hidup tersebut bertentangan dengan kebenaran Injil. Dalam hal ini umat pilihan dipanggil untuk mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2).

Ketiga, dunia di mana umat pilihan hidup ini semakin jahat, kuasa gelap bekerja dengan giat merusak pola hidup umat pilihan Tuhan. Bagaimana menemukan hidup yang dikehendaki Tuhan merupakan perjuangan yang tidak mudah. Oleh sebab itu, menjelang akhir zaman orang percaya harus lebih bersungguh-sungguh dalam mengikut jalan Tuhan.

Proses pertobatan sama dengan proses ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang kita warisi dari nenek moyang sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 1:18-19 (ek tes mataias humon; ἐκ τῆς ματαίας ὑμῶν). Kalimat ini dalam Bahasa Inggris diterjemahkan from the vain of you. Cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Kalimat “tradisi nenek moyang” terjemahan teks asli dari anastrophes patroparadotou (ἀναστροφῆς πατροπαραδότου), yang bisa berarti gaya hidup orang tua atau nenek moyang.

Dengan pencurahan darah Yesus orang percaya dimungkinkan memiliki sebuah cara hidup yang baru; cara hidup yang tidak sia-sia. Karena curahan darah-Nya, pengampunan-Nya memberikan kepada orang percaya benih yang tidak fana (1Ptr. 1:23). Inilah transformasi yang dikehendaki Tuhan. Bukan hanya konversi agama, tetapi perubahan hidup dalam keseluruhannya. Untuk ini, orang percaya dipanggil untuk memiliki ketaatan yang sungguh-sungguh (1Ptr. 1:14-17, 22). Cara hidup baru ini bukan hanya berbicara mengenai moral atau perilaku, tetapi yang terutama memiliki fokus hidup pada perkara-perkara yang di atas; hal-hal surgawi.

Kalau ada cara hidup yang sia-sia, tentu ada cara hidup yang tidak sia-sia atau cara hidup yang benar. Cara hidup yang benar adalah kehidupan yang dimiliki Tuhan, dalam penurutan kepada kehendak Bapa dan hidup dalam pengabdian sepenuh kepada-Nya. Dengan pencurahan darah Yesus, orang percaya menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:17-20). Dengan pencurahan darah-Nya, orang percaya tidak lagi dapat dimiliki oleh Iblis, tetapi dapat dimiliki oleh Allah, selama orang percaya menuruti-Nya dan tidak memberi diri diperhamba oleh dosa (Gal. 5:1). Kehidupan umat pilihan harus ditundukkan kepada pengaturan Allah di dalam kehendak-Nya yang sempurna dan kudus. Tuhan memberi benih-Nya agar kita mampu hidup dalam pengaturan Allah tersebut, asal orang percaya mau melangkah. Sebelum umat pilihan ditebus dengan darah Yesus, mereka tidak dapat hidup dalam pengaturan-Nya, sebab yang mengikat mereka adalah tradisi nenek moyang, cara hidup leluhur yang tidak mengenal kebenaran. Tetapi setelah ditebus oleh darah Yesus, harus hidup di dalam “gaya hidup” anak-anak Allah.

Seseorang yang mengalami pertobatan sejati mengarahkan hidup kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Ini sama dengan bahwa hidupnya berpusat kepada Tuhan. Seseorang tidak dapat hidup berpusat pada Tuhan selama ia masih memiliki hati yang mendua. Mendua hati berarti masih mencintai dunia. Mencintai dunia ditandai dengan sikap hatinya yang masih memiliki pengharapan bisa menikmati kesenangan yang didasarkan kepada fasilitas dunia ini. Orang-orang seperti ini akan merasa belum lengkap atau utuh sebelum memiliki berbagai fasilitas hidup (rumah, mobil, perhiasan, dan lain sebagainya), seperti yang dimiliki orang lain. Alkitab berkata bahwa orang yang mendua hati tidak tenang dalam hidupnya. Kalau ada orang Kristen yang hatinya masih mendua tetapi hatinya masih bisa tenang, berarti ia tidak memiliki nurani anak-anak Allah yang benar. Ia bukan warga Kerajaan Surga yang baik.