Perjuangan Menghadirkan Kerajaan Allah
10 October 2019

Ada kata penting yang harus diperhatikan dalam Injil Matius 6:33: “Carilah”, kata ini dalam teks aslinya adalah zeteite (Yun. Ζητεῖτε), dari akar kata zeteo (Yun. ζητέω), yang berarti seek, look for, search for, investigate, examine, consider, deliberate, somewhat removed from the idea of seeking: try to obtain, desire to possess, strive for, aim (at), desire, wish , ask for, request, demand (mencari, menyelidiki, memeriksa, mempertimbangkan, mencoba untuk mendapatkan, keinginan untuk memiliki, berjuang untuk sesuatu tujuan, menuntut). Kalau Tuhan Yesus berkata, “carilah” artinya ada suatu perjuangan dengan keras untuk memperoleh sesuatu. Sesuatu itu adalah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kebenaran dalam teks ini adalah dikaiosune (Yun. δικαιοσύνη), yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (Mat. 5:20). Berkenaan dengan hal ini, Tuhan Yesus memang menghendaki agar orang percaya hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah adalah berkelakuan luar biasa, artinya berjuang untuk mendatangkan atau menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan pribadi. Dengan hal ini, seseorang dipersiapkan menjadi warga Kerajaan Surga yang baik dengan kualitas kebaikan yang telah ditampilkan atau diperagakan oleh Tuhan Yesus selama hidup-Nya. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa perjuangan yang berat. Jika pemerintahan Allah dihadirkan dalam kehidupan sekarang di bumi, maka pada waktu realisasi dari Kerajaan Tuhan Yesus secara fisik datang, seseorang diperkenan masuk ke dalamnya.

Kesalahan banyak orang Kristen merasa bahwa secara otomatis akan bisa mengalami pemerintahan Allah, padahal Tuhan Yesus sendiri mengajarkan Doa Bapa Kami yang di dalamnya terdapat muatan agar percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah Bapa. Hal ini terungkap dalam isi Doa Bapa Kami. Kalau orang Kristen merasa bahwa pemerintahan Allah bisa hadir dengan sendirinya tanpa usaha keras secara pribadi, maka kualitas hidupnya sama dengan mereka yang tidak mengenal Allah. Tidak ada realisasi hidup dalam pemerintahan Allah. Ini berarti, keselamatan tidak terjadi dalam kehidupan orang itu. Dengan hal ini, didapati suatu pelajaran yang mahal bahwa “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya” sama dengan mengerjakan keselamatan seperti yang dimaksud Paulus dalam suratnya (Flp. 2:12). Orang yang tidak mendahulukan Kerajaan Allah berarti tidak bersedia diselamatkan. Keselamatan di sini tidak berkaitan langsung dengan masalah kehidupan jasmani. Dengan demikian, ketika Tuhan Yesus memanggil orang percaya untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, berarti orang percaya harus mulai meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya.

Berbicara mengenai Kerajaan Allah, tidak bisa tidak perlu menghubungkan dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Dalam pernyataan Paulus ini, sungguh sangat sinkron dengan apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Surga. Kerajaan Surga adalah pemerintahan Allah yang tidak berpusat pada kehidupan di bumi ini. Mendahulukan Kerajaan Surga berarti membangun kebenaran, yaitu bagaimana berkelakuan luar bisa seperti Tuhan Yesus dan memiliki damai sejahtera, serta sukacita yang tidak didasarkan kepada perkara-perkara duniawi. Ini berarti seorang yang bersedia mendahulukan Kerajaan Allah sudah benar-benar bersedia mati bagi dunia. Dunia bukan lagi menjadi tujuan. Dunia dengan segala kesibukannya adalah sarana untuk belajar menjadi warga Kerajaan Surga yang baik. Semua yang diupayakan semata-mata untuk kepentingan Tuhan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang dikatakan Paulus “telah mati dan hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Memang tidak banyak orang yang bersedia hidup dengan cara demikian, tetapi bagi yang bersedia maka harus memberi diri dibaptis. Dalam hal ini, baptisan adalah lambang kematian (Rm. 6:4). Jadi, kalau seseorang tidak bersedia mati hendaknya tidak memberi diri dibaptis. Kematian jenis ini adalah kematian yang menghidupkan, sebab tanpa pengalaman kematian seperti ini, maka seseorang tidak akan mengalami kebangkitan dalam hidup yang baru bersama dengan Tuhan.

Jika seseorang berani masuk pergumulan sebagai orang Kristen sejati seperti ini, barulah bisa menghayati nilai kekristenan yang orisinal. Sebagai buahnya, sesuai dengan janji Tuhan, bahwa semuanya akan ditambahkan kepada orang percaya (Mat. 6:33). Semua yang ditambahkan bukannya berkat jasmani semata-mata, tetapi usaha untuk mengumpulkan harta di surga lebih ditambahkan (Mat. 6:19-24). Dalam hal ini, bisa dipahami bahwa roda kehidupan kekristenan baru bisa berjalan kalau seseorang sungguh-sungguh bersedia mendahulukan Kerajaan Allah. Jadi, kalau dikatakan bahwa Matius 6:33 adalah janji untuk memperoleh berkat jasmani, adalah salah besar. Justru ayat ini mengisyaratkan, kalau seseorang mendahulukan Kerajaan Surga akan bisa berakibat kehilangan segala sesuatu, dimana yang tersisa adalah Kerajaan Surga. Hal ini memberi ciri yang tidak bisa dibantah dari kehidupan seseorang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan. Inilah kekristenan yang sejati atau orisinal.