Perjuangan Mencapai Standar
12 May 2019

Penting sekali untuk menekankan bahwa tujuan keselamatan adalah mengenakan kehidupan sesuai dengan standar yang Allah tentukan, yaitu serupa dengan Yesus (Rm. 8:29), atau “menjadi anak-anak Allah” (Ef. 1:5). Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar sebuah sebutan, tetapi sebuah keberadaan, yaitu “kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef. 1:4). Untuk ini setiap orang percaya harus mau dibaptis. Bukan sekadar menerima sakramennya secara teknis, tetapi mengenakan makna baptisan tersebut yaitu menjalani hidup baru standar anak-anak Allah Bapa. Baptisan dalam Kekristenan adalah lambang kematian. Seorang yang memberi diri dibaptis harus meninggalkan cara hidup lama yang sama dengan anak-anak dunia, kemudian mengenakan gaya hidup Yesus. Jadi, orang yang memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus harus belajar hidup seperti Yesus hidup (Rm. 6:4).

Alkitab tidak mengajarkan orang percaya sekadar menjadi mirip Yesus, tetapi Alkitab mengajarkan orang percaya mengenakan gaya hidup Yesus atau serupa dengan Dia (Rm. 8:28-29). Orang percaya harus berjuang agar karakter Yesus menggantikan kebiasaan hidup yang digerakkan oleh karakter buruknya yang terbangun sejak kecil. Kesediaan mengenakan kehidupan Yesus inilah proses baptisan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus artinya orang percaya ditenggelamkan oleh atau di dalam Roh Kudus. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung kalau seseorang mengalami pembaharuan pikiran oleh Injil dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan cara demikian seseorang mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani.

Pertumbuhan kedewasaan rohani pada dasarnya adalah perubahan cara berpikir yang sama dengan pendewasaan hati nurani. Jika proses perubahan berlangsung dengan baik, maka karakter seseorang mengalami perubahan yang sangat signifikan. Gaya hidupnya menjadi sangat berbeda dengan manusia di sekitarnya. Ia dapat menghadirkan Pribadi Yesus yang pernah hadir di Palestina dua ribu tahun yang lalu di dalam hidupnya hari ini di tengah-tengah masyarakat. Orang percaya seperti ini pasti memiliki keunggulan hidup, terutama dalam moralnya dan bidang hidup yang digelutinya.

Tidak ada cara lain untuk dapat menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula, selain mengenakan karakter Kristus di dalam hidup. Untuk ini orang percaya harus berani menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan bukan sekadar menjadi orang Kristen, menjadi aktivis gereja, bahkan tidak cukup menjadi pendeta. Menyerahkan diri kepada Tuhan berarti menyediakan diri dipimpin oleh Roh Kudus, dari pikiran, perasaan, kehendak, dan seluruh panca indera, serta fisiknya. Memang sebenarnya segenap hidup orang percaya adalah milik Tuhan. Tuhan telah membeli orang percaya seluruhnya dengan harga lunas dibayar, inilah penebusan itu (1Kor. 6:19-20). Sejak seseorang mengakui bahwa dirinya sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, maka ia tidak berhak lagi menggunakan pikiran, perasaan, kehendak, dan seluruh fisiknya untuk kepentingan dan kesenangan sendiri.

Orang percaya dikehendaki menjadi manusia baru yang berstandar Allah sendiri, yaitu bisa memiliki pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian seseorang dimampukan memiliki moral Allah. Memiliki moral Allah maksudnya adalah orang percaya dapat mengambil keputusan, bertindak, dan berperilaku seperti Tuhan. Inilah yang disebut sebagai mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Dalam teks tersebut terdapat kalimat “kuasa Ilahi-Nya” yang dari teks aslinya tes theias dunameos (τῆς θείας δυνάμεως). Dalam teks Bahasa Inggris kata tes theias dunameos ada yang menerjemahkan sebagai His Divine Power. Tentu kuasa Allah di sini menunjuk Roh Kudus dan Injil. Roh Kudus tidak bisa bekerja tanpa Injil, sebab Injil adalah alat-Nya atau sebaliknya, percuma Injil diberitakan tanpa Pribadi Roh Kudus yang mengajarkan.

Memiliki moral Allah Bapa sama dengan “mengambil bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr. 12:10). Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya Kudus seperti Bapa di surga (1Ptr. 1:16). Untuk itu orang percaya harus menaruh seluruh pengharapannya pada penyataan Tuhan Yesus Kristus dan hidup dalam ketaatan (1Ptr. 1:13-15). Inilah maksud keselamatan, di mana manusia dimungkinkan kembali untuk memiliki kemuliaan Allah yang telah hilang (Rm. 3:23). Hal ini tidak bisa berlangsung atau terjadi secara otomatis, tetapi dapat terjadi atau berlangsung atas respon seseorang terhadap anugerah keselamatan yang Tuhan sediakan. Di sini letaknya perjuangan mengerjakan keselamatan, sebab untuk mencapai standar yang dikehendaki oleh Allah yaitu mengenakan kodrat Ilahi bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang sudah berpikir bahwa dirinya sudah dipilih dan ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, maka tidak akan pernah bisa atau sangat kecil kemungkinan memiliki perjuangan yang proporsional untuk mencapai standar Allah tersebut.