Perjuangan Mencapai Kesucian
27 May 2020

Play Audio Version

Di dalam Injil Matius 5:20, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kata “hidup keagamaan” dalam ayat ini terjemahan dari kata dikaiosune yang artinya kebenaran yang terkait dengan perilaku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir. Dari ayat ini diketahui bahwa Yesus menghendaki agar orang percaya memiliki kesalehan atau kesucian hidup yang luar biasa, melebihi tokoh-tokoh agama. Secara implisit, Yesus mengemukakan bahwa pengikut-pengikut-Nya harus memiliki kehidupan moral yang unggul melebihi standar moral agama mana pun. Orang Kristen yang tidak mengerti hal ini pasti tidak memiliki perjuangan yang proporsional sehingga mereka tidak pernah mencapai target yang dikehendaki oleh Allah. Itulah sebabnya, orang kaya yang saleh dalam Matius 19 dikatakan oleh Yesus harus meninggalkan standar keberagamaannya, dan mengikut Yesus dengan standar baru. Paulus sendiri yang menyatakan bahwa dirinya dipandang dari sudut hukum Taurat tidak bercacat, tetapi ketika ia membandingkan dirinya dengan kesucian Allah, ia merasa sebagai manusia celaka, karena ada suatu yang “jahat” di dalam dirinya (Rm. 7:21-24).

Menjadi persoalan bagi orang percaya, kesalehan atau kesucian apa yang sebenarnya Allah kehendaki? Kesucian hidup orang percaya memiliki ukuran atau standar kesucian Allah sendiri. Dalam Alkitab tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1Ptr. 1:16-17). Allah Bapa menghendaki agar orang percaya yang adalah anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti kekudusan-Nya. Itulah sebabnya, kita harus hidup dalam takut dan gentar, artinya berhati-hati dalam seluruh sikap hidup, sebab sesungguhnya inilah maksud penebusan oleh darah Yesus itu (1Ptr. 1:18). Dengan demikian, menjadi kemutlakan bagi orang percaya untuk berkapasitas kudus seperti Allah. Kapasitas kekudusan-Nya artinya bisa melakukan segala sesuatu yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kesucian bukan hanya sebuah keberadaan (being atau state) melainkan kemampuan untuk bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Yesus adalah ukuran kesucian satu-satunya. Tetapi, kesucian Yesus pun sebenarnya juga masih abstrak; tidak jelas. Itulah sebabnya, setiap orang percaya harus memiliki pergaulan pribadi dengan Tuhan untuk mengalami proses pemuridan secara pribadi oleh Tuhan Yesus, tentu melalui Roh Kudus. Hal ini sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus yang menyatakan agar semua bangsa dimuridkan oleh Tuhan Yesus. Pemuridan tersebut bukan hanya membuat orang tahu bagaimana hidup sebagai orang yang beragama Kristen dengan standar orang beragama pada umumnya, melainkan juga menjadi anak-anak Allah yang memiliki kemampuan bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini membuat orang percaya dapat disebut sebagai orang suci.

Menjadi orang suci bukan bermaksud supaya kita selamat. Keselamatan bukan karena kesucian kita, melainkan oleh karena anugerah Tuhan Yesus Kristus. Ini harga mati yang tidak dapat diubah sama sekali. Tetapi setelah kita memiliki kesempatan diperdamaikan dengan Allah, kita harus bertumbuh menjadi manusia yang suci, seperti kesucian yang diperagakan oleh Yesus. Hanya dengan memiliki kesucian seperti Yesus, seseorang dapat memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah dan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, Tuhan berfirman: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 6:14-16). Di bagian lain, Firman Tuhan mengatakan: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu” (2Kor. 6:17).

Oleh sebab itu, setiap orang percaya seharusnya melakukan perjuangan untuk memiliki kekudusan seperti Bapa. Kekudusan seperti Bapa artinya memiliki karakter seperti Bapa, yaitu kemampuan untuk melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan hal ini, seseorang dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini haruslah merupakan perjuangan yang melebihi semua perjuangan apa pun. Mestinya, hal ini merupakan satu-satunya perjuangan yang orang percaya miliki sebagai orang yang terpilih. Kalau ada perjuangan lain dalam hidup ini yang dianggap lebih penting dari perjuangan tersebut, berarti ketidaksetiaan kepada Allah. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang diproyeksikan hanya untuk memiliki kekudusan seperti Bapa, yang sama dengan sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya, keselamatan dalam Yesus Kristus—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula—adalah hal yang sangat luar biasa. Di dalam anugerah ini, terdapat potensi dan kemungkinan manusia bisa menjadi saleh seperti Yesus atau berkodrat ilahi seperti Bapa. Alkitab menyebutnya sebagai man of God. Keberadaan manusia batiniah seperti ini pasti melebihi tokoh-tokoh agama.