Perjuangan Berkodrat Illahi
14 May 2020

Play Audio Version

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal ini bisa menutup pikiran terhadap kenyataan adanya kodrat dosa di dalam diri manusia yang tidak boleh dianggap enteng. Dalam beberapa bagian di Alkitab, kita temukan beberapa pernyataan Paulus yang menunjukkan bahwa tubuh yang dikenakannya merupakan belenggu atau bisa dikatakan sebagai penjara yang tidak mudah dibongkar (Rm. 7:21-23; Gal. 5:17). Paulus menjumpai bahwa di dalam tubuhnya ada hasrat yang selalu cenderung melawan kesucian Allah (Rm. 8:21-23). Paulus menyebutnya sebagai “tubuh maut.” Itulah sebabnya, Paulus sangat merindukan tubuhnya diubahkan menjadi tubuh kemuliaan yang baru (Rm. 8:19-25). Kenyataan ini mendorong Paulus merindukan kehidupan yang lebih baik dalam Kerajaan-Nya, yaitu tubuh kemuliaan tanpa penderitaan.

Semua manusia telah berkeadaan menyimpang dari rencana semula. Di dalam diri setiap manusia terdapat kodrat dosa yang harus dikalahkan atau ditaklukkan, yang sama dengan “dimatikan.” Dengan demikian, semua manusia yang dilahirkan oleh Adam memiliki gambar dan rupa Adam, bukan gambar dan rupa Allah sesuai rancangan semula (Kej. 5:3). Di dalam diri manusia tidak terdapat kodrat ilahi tetapi terdapat kodrat dosa, dimana manusia terkunci di bawah hukum dosa, sehingga tidak bisa mencapai standar manusia sesuai rancangan Allah semula. Ini adalah keadaan yang menyimpang dari rencana Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan mengubah kehidupan manusia, sehingga dalam tingkat kedewasaan tertentu dapat mengenakan kodrat ilahi. Inilah standar kehidupan anak-anak Allah yang menjadi anggota keluarga Kerajaan. Untuk hal ini, berarti kita harus mematikan kodrat dosa seperti yang dikatakan Paulus dalam Kolose 3:5-10.

Untuk mematikan kodrat dosa, kita harus menghidupi “kehidupan sebagai anak Allah” di dalam diri kita dengan kebenaran Firman Allah (logos), dan selalu ada dalam proses pendewasaan yang intensif melalui segala peristiwa yang kita alami. Kita harus “memberi makan” kehidupan anak Allah di dalam diri kita melalui pergaulan doa dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa kehidupan setiap hari mengandung rhema (Allah berbicara) yang harus ditangkap guna memberi makanan rohani pada kehidupan anak Allah di dalam diri kita (Mat. 4:4). Kita tidak boleh menghidupi kodrat dosa dengan berbagai hal, seperti bergaul dengan orang yang tidak takut Allah, mengonsumsi bacaan dan tontonan yang tidak kudus, terus-menerus dalam kebiasaan buruk, dan lain sebagainya.

Allah tidak dapat menolong orang yang tidak berusaha menolong dirinya sendiri. Allah tidak dapat membunuh kodrat dosa dalam kehidupan seseorang tanpa respons manusia itu sendiri. Pada akhirnya, memang kematian kodrat dosa dalam diri seseorang adalah kerja sama antara setiap individu tersebut dengan Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran. Oleh sebab itu, hal utama yang sangat penting adalah orang percaya harus mengalami perubahan pikiran (Rm. 12:1-2). Cara berpikir menciptakan spirit atau gairah. Cara berpikir yang bukan berasal dari Allah adalah produk Iblis. Produk Iblis ini cirinya adalah mengutamakan atau menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani, kemuliaan lahiriah, dan kejayaan duniawi. Cara berpikir yang salah melahirkan spirit atau gairah yang salah pula. Spirit seseorang menentukan kodrat hidupnya.

Dengan demikian, cara berpikir duniawi menjadi halangan dimatikannya kodrat dosa dalam kehidupan orang percaya. Cara berpikir memiliki nilai-nilai atau pandangan hidup. Seseorang yang masih hidup dalam kodrat dosa memiliki nilai-nilai atau pandangan hidup yang salah atau rendah, yang harus digantikan dengan nilai-nilai Kerajaan Surga. Dibutuhkan proses yang panjang untuk mengubah spirit atau gairah hidup yang membangun kodrat dosa. Mengubah nilai-nilai yang membangun selera atau cita rasa jiwa harus dengan kebenaran Firman. Dalam hal ini, peran Roh Kudus adalah segalanya. Tanpa Roh Kudus, seseorang tidak akan tercelik memahami kebenaran. Individu juga memiliki peran dan tempatnya yang sangat penting. Dalam hal ini, Allah melibatkan individu dalam menggarap dirinya, sehingga menjadi manusia yang berkodrat ilahi.

Seseorang yang mau mematikan kodrat dosa di dalam dirinya harus berjuang. Ia harus memberi kesempatan kehidupan anak-anak Allah tumbuh di dalam dirinya dan tidak memberi peluang manusia lama menjadi kuat. Paulus mengatakan: … yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. (Ef. 4:22-24). Di bagian lain, Paulus tegas mengatakan: matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi (Kol. 3:5-10). Manusia baru yang dimaksud adalah kehidupan anak-anak Allah yang harus ditumbuhkan, sementara manusia lama atau kodrat dosa dimatikan atau diakhiri.