Perjalanan Dalam Perjuangan
30 June 2020

Play Audio Version

Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:18-20). Amanat itu memuat panggilan agar orang percaya menjadi seperti diri-Nya. Tentu Roh Kudus yang akan menjadi pelaksana dari proses perubahan menjadi seperti Dia, selama orang percaya memberi diri dimuridkan untuk mengalami perubahan kodrat, dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Persekutuan dengan Allah sesuai dengan Yohanes 17:21, secara ideal dapat terwujud kalau seseorang memiliki keberadaan seperti Yesus. Oleh sebab itu, hal menjadi seperti atau serupa dengan Yesus adalah kemutlakan yang harus dicapai orang percaya. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, sebab Allah memberikan kuasa (Yun. exousia) supaya orang percaya menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah sebuah keberadaan moral atau karakter, bukan hanya sebuah status. Keberadaan ini harus diperjuangkan oleh setiap individu sebagai respons terhadap anugerah yang Allah berikan. Percaya atau iman seseorang kepada Yesus diwujudkan dalam tindakan tersebut. Tanpa respons ini, tidak akan terjadi perubahan; berarti itu adalah sikap atau kehidupan tidak percaya.

Kalau Yesus berkata bahwa tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Bapa, artinya bahwa hanya oleh proses pendewasaan atau proses pemuridan yang dikerjakan Roh Kudus di dalam hidup orang percaya sehingga menjadi seperti Yesus, seseorang baru bisa memiliki persekutuan dengan Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak-anak-Nya. Hal ini sama artinya dengan memasuki wilayah Allah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa secara otomatis dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, terjadi perdamaian dengan Allah. Perdamain itu terwujud kalau kita memasuki proses perubahan dari manusia yang berkodrat dosa—artinya tidak bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah—menjadi manusia yang berkodrat ilahi—artinya dalam segala hal yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Proses perubahan itu bisa terjadi atau berlangsung kalau seseorang meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33). Meninggalkan segala sesuatu artinya harus berusaha benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta bersedia tidak menikmati dunia sama seperti manusia pada umumnya menikmati dunia. Semua ini harus dimulai dari tekad yang kuat dan bulat dari diri sendiri. Tekad ini yang menentukan keselamatan seseorang, karena tekad ini yang menentukan kualitas percaya seseorang. Percaya yang benar disertai tekad kuat sampai kita rela bersedia berbuat apa pun yang Allah kehendaki, membuat kita menjadi orang Kristen yang sejati. Dalam hal ini, Abraham sebagai model dan inspirasi iman yang benar. Kalau iman atau percaya hanya dalam pikiran, maka tidak membutuhkan tindakan dan tidak diperlukan tekad apa pun.

Tujuan hidup kita adalah mewujudkan keselamatan, dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Yesuslah model rancangan semula Allah. Dengan menjadi seperti Yesus, kita dapat bersekutu dengan Allah atau tinggal di dalam Dia. Hanya orang yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dapat memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Bila hal itu terwujud, maka tercapailah tujuan keselamatan dimana kita menjadi anak-anak Allah, bukan saja secara hukum (de jure) melainkan juga secara kenyataan (de facto). Kalau tidak ada kenyataan orang percaya berkeberadaan seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa, maka seseorang akan tertolak dari hadapan Allah (Mat. 7:21-23).

Kekristenan adalah perjalanan hidup penuh perjuangan untuk mengubah diri, yaitu mengalami perubahan kodrat, agar mencapai kehidupan dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Hal ini tidak boleh digantikan dengan hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan teologi atau doktrin. Ada ruangan untuk pengetahuan tentang Allah atau teologi, tetapi ada ruangan yang mutlak untuk perjuangan menjadi anak-anak Allah yang berkodrat ilahi. Format-format kalimat teologi tidak dapat menggantikan perjuangan riil mengenakan hidup sebagai anak-anak Allah yang modelnya adalah Yesus, dan pergumulan langsung dengan Allah.

Dengan isi hidup dalam perjuangan seperti ini, hidup kita tidak dapat wajar lagi seperti mereka yang bukan umat pilihan yang tidak dirancang untuk menjadi anak-anak Allah. Hanya orang yang nekat dengan pertaruhan segenap hidup, yang dapat menjadi Kristen yang sejati. Kita tetap dapat mengecap gula yang manis rasanya, tetapi kita tidak terikat dengan manisnya gula. Daging rendang bisa dirasa lezat, tetapi tidak terikat dengan lezatnya rendang. Pemandangan alam bisa dinikmati indah, tetapi tidak terikat oleh keindahannya. Kita membutuhkan fasilitas hidup untuk menjalani hidup, guna sekolah kehidupan menjadi seperti Yesus, tetapi bukan demi fasilitas itu kita hidup. Di sekitar kita, ada orang-orang yang kita cintai dan kita menikmati cinta tersebut, tetapi dasar dari cinta kita kepada siapa pun karena kita mengasihi dan menghormati Allah.