Pergumulan Menjadi Anak-Anak Allah
24 August 2019

Allah memang menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diri-Nya, tetapi manusia pertama belum berkeadaan sempurna. Manusia pertama itu sendiri yang harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Allah menciptakan bahan dan memberi semua fasilitasnya, tetapi manusia yang harus mengembangkannya sebagai bentuk tanggung jawab. Itulah sebabnya mandat Allah kepada Adam adalah menaklukkan bumi. Yang dimaksud dengan “bumi” tentunya adalah semua yang kelihatan secara fisik maupun yang tidak kelihatan (metafisik). Yang kelihatan adalah materi dengan segala ilmu pengetahuan yang dapat digali tanpa batas, tetapi yang tidak kelihatan adalah kuasa kegelapan yang memberontak kepada Allah atau Lusifer. Kalau hanya mengelola alam semesta secara fisik, hal itu tidaklah bernilai tinggi. Tugas Adam yang kedua ini berat sekali, tetapi sangat agung. Kalau manusia berhasil menjadi manusia yang sempurna (corpus delicti), berarti Iblis dikalahkan. Manusia pertama tidak mencapai menjadi pribadi seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Inilah tatanan Allah yang harus dipenuhi manusia

 

Sebenarnya pergumulan Adam adalah pergumulan untuk mengesahkan diri sebagai anak-anak Allah secara permanen. Secara permanen artinya Adam mencapai suatu level karakter Ilahi yang ideal seperti yang dikehendaki oleh Bapa dan tidak pernah akan berubah lagi atau tidak akan jatuh lagi. Untuk ini Adam berkewajiban untuk mewarnai atau membentuk neshamah-nya dapat menjadi pelita Tuhan; artinya neshamah manusia mampu memahami segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Jika sampai pada level itu, maka Adam tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Allah Bapa. Tetapi ternyata Adam gagal mencapai level itu. Itulah yang disebut sebagai jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kalau seandainya Adam mencapai level yang dikehendaki oleh Allah Bapa, maka ia mejadi corpus delicti dan menjadi pokok keselamatan (teladan) bagi seluruh keturunannya. Sejatinya, Adam tidak berketurunan sebelum dapat menjadi pokok keselamatan.

 

Tuhan Yesus adalah manusia pertama yang berhasil mencapai kehidupan sebagai anak Allah yang ideal atau sempurna. Dialah model manusia yang diinginkan oleh Allah. Keberhasilan-Nya sebagai manusia seperti yang dikehendaki oleh Bapa, menempatkan diri-Nya sebagai pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya. Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος). Aitios bisa berarti author, the person who originated or gave existence to anything (seorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer). Dengan kemenangan-Nya, maka Tuhan Yesus dapat menggubah manusia berdosa menjadi anak-anak Allah. Tentu lewat proses dan pendidikan melalui Roh Kudus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar orang percaya yang sudah menjadi murid menjadikan semua bangsa murid-Nya.

 

Ketika Tuhan Yesus berkata “muridkanlah” artinya ajaklah mereka belajar kepada-Ku. Tuhan Yesus sendiri telah belajar dan berhasil (Ibr. 5:7-9). Kata “menderita” dalam teks aslinya adalah pascho (πάσχω) yang juga berarti to suffer, to be acted on. Dalam hal ini, untuk mencapai kesempurnaan, Tuhan Yesus tidak menerimanya secara otomatis oleh anugerah, tetapi hasil dari perjuangan-Nya. Sejak muda Ia mengalami pertumbuhan natural seperti anak manusia lainnya (Ing. wisdom and stature, and in favour with God and man) (Luk. 2:59). Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Itulah sebabnya Ia berkata bahwa sebagaimana Ia menang, Ia juga menghendaki orang percaya menang. Seharusnya Adamlah yang menjadi aitios, tetapi Adam gagal. Yesus menggantikan tugas Adam. Ini adalah tatanan Allah.

 

Injil adalah Kabar Baik, maksudnya bahwa pada zaman penggenapan ini manusia dimungkinkan untuk menjadi manusia sempurna atau menjadi anak-anak Allah yang sah. Untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, seseorang harus diproses berjuang untuk menjadi seperti Yesus, karena Yesuslah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Pada dasarnya, Kekristenan adalah perjuangan untuk menjadi seperti Yesus. Menjadi orang Kristen bukanlah proses beragama tetapi proses menjadi manusia sempurna. Semua perhatian harus ditujukan kepada proyek ini sepenuhnya. Segala sesuatau yang lain hanyalah dukungan demi tercapainya proyek ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “barangsiapa hendak mengikut Dia harus melepaskan segala sesuatu, sebab kalau tidak, maka ia tidak layak menjadi murid-Ku”.

 

Dalam kehidupan ini tidak ada hal yang kita anggap berharga selain menjadi anak Allah yang serupa dengan Yesus. Kalau hal ini belum tercapai, sejatinya kita harus merasa gusar melampaui kegusaran kita mengenai hal apa pun. Jika demikian, berarti kita menganggap bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan kita lebih berharga dari segala sesuatu. Dengan cara demikian sebenarnya seseorang telah memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Inilah yang dimaksud oleh Alkitab sebagai mendahulukan Kerajaan Surga.